
Meta terdiam di dalam taksi menuju ke kantor Gerry, dia memangku sebuket bunga mawar merah yang sangat cantik, sementara di sampingnya bunga yang berada di dalam vas bunga kaca juga di sana. Yah, dia membeli bunga itu dengan tujuan yang ia simpan rapat di dalam hatinya. Meksipun dia tahu Bungan itu beracun, tapi dia yakin bunga itu dapat mengurangi penderitaannya.
Begitu sampai di kantor, Meta segera memberikan bunga mawar itu kepada Gerry, lalu membawa satu bunga beracun yang kini berada di dalam paper bag untuk ikut keluar ruangan bersamanya.
Beberapa saat kemudian, Gerry sampai di rumah dan segera mencari keberadaan Angel untuk menyerahkan bunga yang tadi dia beli. Setelah mendapati Angel yang sedang bermain bersama anjingnya, Gerry segera mendekat dan memberikan bunga itu kepada Angel.
" Bunga ini untukmu. " Gerry tersenyum menyerahkan seikat bunga cantik itu kepada Angel yang seperti biasanya, dia sangat cantik Meksi tanpa riasan wajah.
Angel terdiam sebentar, tentu saja dia ragu untuk menerima bunga itu karena dia sendiri juga tidak terlalu menyukai bunga. Tapi kalau menolak dia juga malas berdebat dengan Gerry dan kalau sampai Gerry marah besar seperti biasanya, dia sendirilah yang akan tersiksa. Angel menerima bunga itu meski tak sedikitpun dia bisa tersenyum.
" Kau tidak menyukai bunga ya? Coba lihat bunga itu, dia benar-benar senjata cantik dan wangi, dia sepertimu. " Gerry kembali tersenyum tipis, rasanya dia benar-benar bahagia sekali saat Angel menerima bunga pemberian darinya, sekarang dia memang sudah harus bisa meredam emosinya, dia juga harus bisa memahami Angel dan mencari tahu apa yang bisa membuatnya bahagia agar bisa terus bersama dengan Angel tanpa harus memaksa Angel lagi.
Tidak mengatakan apapun, Angel segera menatap bunga mawar merah itu. Dengan mata yang begitu fokus dia memperhatikan bunga itu dan tersenyum tipis, kalau di lihat baik-baik rupanya bunga mawar memang sangat cantik, tapi sayangnya menurut Angel bunga tetap akan lebih cantik saat berada di pohonnya. Angel mencoba menghirup aroma mawar itu, yah seperti kebanyakan mawar, wanginya benar-benar khas dan membuat pikiran lumayan tenang.
" Wangi kan? Kalau kau mau aku akan membawakan bunga untukmu setiap hari. "
" Tidak usah, bagaimanapun cantiknya bunga yang kau bawa, aku tetap tidak begitu menyukai bunga, jadi jangan membawa bunga lagi, ini cukup yang pertama da terakhir. "
Gerry sebenarnya agak kecewa, tapi ya ma bagaimana lagi kalau Angel tidak terlalu menyukai bunga ya untuk apa juga dia memaksa Angel untuk suka dan tidak akan ada gunanya juga kalau dia membawa bunga setiap hari karena tentu itu akan membuat Angel merasa muak dan kesal.
" Aku taruh bunga ini dulu. " Ucap Angel yang langsung di angguki oleh Gerry. Tapi batu saja sudah langkah kakinya berjalan, Angel terhenti sembari mengernyitkan dahi karena merasakan pusing yang tiba-tiba saja datang. Tak lama dia benar-benar sudah tidak tahan da langsung saja menutup mata dan pingsan. Untung saja Gerry sigap dan segera menahan tubuh Angel agar tidak membentur lantai.
" Angel! Angel! " Panggil Gerry sembari menepuk pelan wajah Angel berharap Angel segera membuka matanya kembali. Karena Angel masih tak juga sadarkan diri, Gerry segera berteriak memanggil pelayan rumahnya untuk membantu menyiapkan mobil untuk membawa Angel ke rumah sakit. Tapi sebelum dia benar-benar bangkit dan pergi, dia teringat dengan bunga mawar merah itu, lalu dia mengambil kartu ucapan yang berada di sana dan bergegas setelahnya.
Seandainya di rumah sakit, Gerry di buat terkejut karena ternyata Angel pingsan karena menghirup aroma bunga mawar yang ia berikan tadi. Sontak lah Gerry mulai merasa kebingungan, bagaimana bisa Angel pingsan hanya karena mengutip aroma bunga? Untung saja Gerry sempat curiga tadi dan mengambil kartu ucapan yang ada alamat toko serta nomor teleponnya.
Segera Gerry menghubungi nomor tersebut untuk menanyakan tentang mawar yang dia beli tadi, bagaimana bisa membuat Angel pingsan.
Mawar yang ada di toko kami tidak memiliki racun apapun, Tuan. Anda boleh membawa mawar itu kembali, atau mari kita cek sama-sama apakah benar ada racunnya atau tidak, tapi tadi orang yang membeli mawar itu juga membeli bunga beracun yang termasuk dalam kelompok bunga lili, bagaimana kalau anda tanyakan langsung kepada beliau? Saya tida berani menuduh, hanya saja saya takut kalau yang membeli tadi tidak sengaja membuka penutup kacanya kali membuat bunga mawar bersentuhan dengannya.
Gerry segera mengakhiri panggilan telepon. Dia menghubungi sekretarisnya untuk datang dan menjaga Angel sebentar, sementara dia mendatangi Meta dan menanyakan langsung apa yang Meta lakukan kepada bunga mawar itu sehingga membuat Angel pingsan, lali Gerry juga sudah bersiap untuk menghukum Meta kalau sampai dia terbukti bersalah.
" Keluarlah, Meta. Aku berada di depan gang rumah mu. " Ucap Gerry melalui sambungan telepon. Gerry bisa tahu alamat rumah Meta karena beberapa kali mengantar Meta pulang saat dia pergi meeting di luar sampai malam dan tentunya bersama sekretaris nya juga.
Meta berlari ke arah Gerry yang berdiri di luar mobil menunggunya.
" Selamat malam, Tuan. Ada apa datang malam-malam kesini, apa ada pekerjaan yang mendesak? " Begitulah kalimat yang keluar dari mulut Meta begitu dia sampai di hadapan Gerry.
" Kau membeli bunga beracun juga tadi? Katakan padaku! Katakan iya atau tidak, dan apa maksudmu membeli bunga beracun itu?! "
Meta tersentak, dia tak bisa menahan dadanya yang mulai naik turun dengan cepat selaras dengan tarikan nafasnya saat dia merasa begitu takut.
" Cara diammu benar-benar menjelaskan semuanya padaku, jadi kau sengaja meracuni istriku? Apa tujuanmu sebenarnya hah?! "
Meta menatap kedua bola mata Gerry karena dia benar-benar terkejut dengan apa yang Gerry katakan barusan.
" Tidak, saya membeli bunga itu bukan untuk menyakiti istri Tuan. "
Gerry terlihat semakin kesal hingga tidak tahan lagi dan meraih leher Meta, mencengkramnya dengan kuat juga.
" Kau tahu aku adalah pria yang tidak sabaran dan tidak suka ada yang berbuat ulah kan? Kali ini kau salah sasaran, Meta! Aku benar-benar akan membuat pelajaran untukmu! "
" Bukan, bukan, benar-benar bukan itu tujuanku, Tuan. "
Gerry melepaskan tangannya karena sekretaris nya menghubungi.
" Ada apa? " Tanya Gerry.
Istri anda sudah sadar, Tuan. Dokter bilang Istri anda pingsan karena reaksi alergi terhadap serbuk bunga mawar.
Gerry terdiam menatap Meta yang menangis sembari menahan air matanya. Sebenarnya bunga itu dia beli untuk meracuni bibinya yang selalu menyakiti hatinya, memukul, mengatainya, bahkan juga menghina Ibu dan Ayahnya terus menerus membuat Meta memiliki keinginan jahat.
" Maaf.... " Ucap Gerry dengan tatapan dan nada bicara yang menunjukan bahwa dia merasa menyesal dan bersalah.
Bersambung.