
Anne terdiam begitu membaca kartu ucapan dari bunga yang di berikan James, tentu saja dia merasa sakit mengetahui jika ternyata bunga itu untuk Angel. Sungguh dia tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang James pikirkan, selain memberikannya bunga yang tidak dia sukai, kartu ucapannya bahkan begitu mesra untuk Angel. Mungkinkah saat membeli bunga itu James terngiang-ngiang oleh Angel hingga salah menyebutkan nama pada kartu ucapan? Apakah benar ada cinta yang bisa berada di luar batas seperti itu? Memang benar tidak ada cinta untuk Anne, tapi apakah empati juga tidak ada? Sudah jelas tahu jika Anne adalah istrinya, apakah begitu tidak ingin menganggapnya istri hingga melakukan ini semua?
Anne membuang nafasnya, dia memasukkan kembali kartu ucapan itu dan memberikan bunganya kepada James membuat James kebingungan sendiri.
" Kenapa kau memberikannya padaku? " Tanya James bingung, tentulah dia bisa melihat wajah Anne yang begitu cepat berubah. Dia tadi tidak memperhatikan karena begitu memberikan bunga ponselnya berdering, dan Angel rupanya menghubunginya. Tak mengangkat telepon dari Angel, tapi yang dia dapatkan malah wajah aneh Anne yang seperti merasa kecewa. Apakah dia tidak suka mawar merah? Ataukah dia merasa bunganya terlalu banyak dan seharusnya satu tangkai saja?
Anne mantap James dengan mimik datar tapi tatapannya terlihat dingin.
" Berikanlah bunga itu kepada orang yangn tepat, lain kali jangan memancing emosi orang lain dengan cara begini. Menurutmu mungkin biasa saja, tapi rasanya sangat menyakitkan sampai jadi ingin membunuh orang. "
James menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena masih merasa bingung Anne sebenarnya kenapa. James memperhatikan bunga yang kini ia pegang, ah ada kartu ucapan, segera James membukanya, hah! Sialan! Pantas saja Anne marah, batinnya di dalam hati.
" Anne, aku benar-benar tidak tahu kalau pelayan toko bunga akan menuliskan kalimat ini. "
Anne menghela nafas dan memaksakan senyumnya.
" Kau membeli bunga di tempat langganan mu itulah kenapa dia menuliskan kalimat yang biasa kau gunakan. Kedepannya tidak perlu memberikan ku bunga, selain aku membenci mawar merah, aku juga benci momen ini. "
Sudah tidak ada panggilan kak James seperti biasanya, kali ini hati Anne benar-benar seperti di hancurkan sehancur-hancurnya hingga dia tidak tahu apakah mungkin bisa dia lupakan hari ini atau tidak. Untuk menghindari percekcokan dan dia juga butuh waktu untuk tenang, Anne memilih pergi dan memberhentikan taksi membuat James yang mengejarnya tak bisa berbuat apa-apa.
James membuang bunga itu dengan perasaan kesal, dia menginjak-injak bunga itu karena merasa bunga sialan itu malah merusak niat baiknya. James masuk ke dalam mobilnya, dia mengusap wajahnya dengan kasar, memukul kemudi mobil beberapa kali dengan kemarahan yang memuncak. Padahal bukan begitu niatnya, dia hanya ingin hubungan dengan Anne baik tidak tegang melulu seperti beberapa hari ini, tapi nyatanya malah membuat suasana semakin memanas.
Satu jam di dalam perjalanan, Anne sudah sampai ke apartemen. Dia sengaja duduk di ruang tamu karena niatnya untuk menunggu James pulang dan berbicara dengannya. Dia merasa perlu meluruskan semua ini, dia perlu mengingatkan dengan tegas posisi James, juga kakaknya yang sudah memiliki hubungan sakral dengan pasangan masing-masing. Satu jam, dua jam, hingga Anne tertidur di sana James tak kunjung sampai di rumah.
Di sisi lain.
Begitu menjalankan mobilnya, ponsel James kembali berdering, dan lagi-lagi Angel yang menghubunginya. Tadinya James ingin memaki Angel karena membuatnya tambah pusing, tapi begitu mendengar suara Angel menangis tersedu-sedu dia jadi hanya bisa terdiam mendengarkan saja apa yang dia katakan.
James, Gerry menampar ku! Aku kabur dari rumahnya, sekarang aku ada di hotel Cempaka, tolong temui aku, aku mohon.
Benar saja, James datang untuk menemui Angel. Niatnya bukan untuk hal buruk menjurus ke mesum, yang dia pikirkan adalah rasa sedih dan kasihan atas apa yang terjadi kepada Angel sehingga dia bergegas dengan niatan bisa sedikit menghibur Angel.
Beberapa saat kemudian, Angel menceritakan bagaimana kronologinya sehingga Gerry sampai menamparnya dan membuat Angel kabur sembari menangis seperti ini.
" Angel, kalau hanya salah paham kau kan bisa menjelaskannya perlahan. Jangan menyiksa diri seperti ini, kalau kau kabur masalah justru akan semakin besar kan? "
Angel menatap James dengan lelehan air mata yang masih tertinggal di pipinya.
" Masalahnya adalah, ketika aku melakukan hubungan suami istri dengan Gerry, aku selalu membayangkan mu, jadi aku memanggil Gerry dengan sebutan sayang padahal selama ini aku memanggil Gerry dengan sebutan suami. Dia menyadari jika aku sedang berfantasi bersama pria lain. "
James sontak terdiam, bagaimana dia akan merespon ucapan Angel barusan? Padahal jelas-jelas selama menjalin hubungan dengan Angel mereka hanya akan berciuman, dan menggunakan tangan untuk saling memuaskan. Tapi jika masalahnya adalah yang seperti di sebutkan Angel, jelas dia bingung bagaimana meresponnya.
" James, selama ini kau tahu benar kalau aku hanya jatuh cinta dengan mu saja kan? Melupakan mu tentu saja tidak mudah untukku, apakah itu juga sebuah Kesalahan jika ketika aku melakukan itu aku membayangkan sedang melakukannya denganmu? "
James menelan salivanya sendiri, tentu saja sebagai pria normal dia bukan hanya sekali dua kali memiliki fantasi untuk melakukan hubungan suami istri dengan Angel dulu, tapi sekarang mereka sudah punya pasangan masing-masing jadi fantasi semacam itu seharusnya memang tidak boleh dilakukan kan? Ah, entahlah dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa.
Angel menatap James dengan tatapan yang begitu dalam, James juga melakukan hal yang sama sehingga mereka tanpa sadar saling mendekat, tapi begitu bibir mereka akan menempel, James tersadar dan mencoba menjauhi Angel. Sayang sekali Angel malah menahan tengkuknya sehingga bibir mereka sukses menyatu, dengan sigap Angel menautkan lidahnya membuat James kebingungan harus bagaimana. Mungkin hanya sebatas itu sehingga James pikir itu tidaklah masalah, lama kelamaan Angel seperti kehilangan kendali, dia mulai mengerakkan tangannya menyusuri tubuh James dengan sentuhan yang begitu menggoda.
" Angel! " James menahan tangan Angel yang sudah menyentuh bagian sensitif miliknya yang masih tersimpan rapih di dalam beberapa lembar kain.
" Angel, jangan terlalu jauh. "
Angel menatap James dengan tatapan dalam.
" James, aku sudah tidak suci lagi, tidak akan mungkin dia menyadarinya kan? "
James sebenernya bimbang, bagaimanapun dia juga memiliki keinginan semacam itu kepada Angel, tapi kalau ini sampai terjadi takutnya kedepannya nanti semua akan rumit dan berbelit sehingga dia keluarga yang tadinya begitu klop akan menjadi musuh.
" Maaf, Angel. Aku memang sangat menginginkan ini, tapi kita juga tidak boleh melewati batas. " James bangkit dari posisinya dan segera keluar dari kamar hotel itu.
Bersambung.