
Setelah kembali ke apartemen, Anne dengan segera merapihkan semua belanjaan yang di beli tadi. James yang merasa tidak enak juga kalau acuh akhirnya ikut membantu, dia meletakkan beberapa bahan makanan di tempat yang sudah tersedia. Setelah mereka selesai, Anne lanjut memasak untuk makan malam mereka sementara James masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri dulu, sayur bayam dengan ikan goreng adalah menunya, dan yang sudah matang adalah sayur bayamnya. Lanjut, Anne sudah bersiap ingin menggoreng ikan, tapi begitu melihat James keluar dari kamar dengan pakaian rapih Anne mengentikan kegiatannya sebentar untuk bertanya kepada James.
" Kakak mau kemana? "
" Ada hal yang harus di urus, sebentar saja kok. "
Anne terdiam sebentar, dia memandangi tampilan James yang begitu tampan, dan selalu wangi.
" Kakak tidak makan malam di sini? "
" Kan sudah ku bilang sebentar, aku makan malam di sini kok. "
Anne tersenyum lalu mengangguk meski dia tidak ingin merelakan James pergi keluar.
Setelah kepergian James, Anne melanjutkan kegiatannya. Beberapa saat setelah ikan gorengnya matang, Anne beranjak untuk mengambil kotak obat, dia mengoleskan salep di kulit tangannya yang terkena cipratan minyak panas, lalu menggunakan hansaplas di dua hatinya karena tak sengaja terkena pisau saat memotong sayuran dan bawang saat dia memasak tadi.
Ane menghela nafas menatap kedua tangannya yang penuh dengan bekas luka pisau karena memasak. Bukan merasa sedih karena tangannya jadi banyak luka, tapi dia sedih karena dulu tidak belajar memasak sama sekali sehingga dia begitu kaku saat memasak untuk suaminya.
Setelah selesai dan karena James belum juga kembali ke rumah, Anne pergi dulu untuk masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri, memang agak aneh ya karena baru saja mengunakan salep, tapi ya sudahlah nanti tinggal pakai lagi saja. Cukup lama Anne membersihkan diri dan nyatanya James juga belum kembali. Anne keluar dari kamar setelah selesai dengan pakaian tentunya, dia duduk di meja makan sembari memainkan ponselnya untuk menunggu James pulang kerumah. Satu jam sudah lewat Anne menunggu, sekarang bukan hanya lapar saja, tapi dia juga sudah menguap beberapa kali. Sudahlah, Anne tidak ingin ambil pusing, mungkin saja ada hal penting yang dikerjakan James di luar sana mengenai pekerjaan, batin Anne dengan naifnya.
Satu jam lagi terlewati, makanan di meja sudah mulai dingin, Anne juga sudah tida tahan lagi dengan rasa kantuknya yang semakin melanda. Anne dengan terpaksa menghubungi James, panggilan pertama tidak mendapatkan jawaban, lanjut ke panggilan kedua dan akhirnya di jawab.
Anne terdiam ketika baru saja dia ingin membuka mulutnya. Suara berat seorang wanita, tentu saja dia hafal sekali siapa pemilik suara itu. Angel, itu adalah suara Angel. Jadi James pergi menemui Angel lagi? Anne mencengkram kain baju yang ia gunakan dengan tatapan kecewa.
Maaf, James sedang di kamar mandi, tolong hubungi lagi nanti ya?
Anne mematikan sambungan teleponnya, tetesan air mata kini jatuh membasahi pipi tirusnya yah mulus itu.
***
James keluar dari kamar mandi, dia terdiam sebentar menatap Angel yang berbaring dengan wajah pucat dan keringat dingin yang terus keluar dari pori-pori kulitnya. Beberapa jam yang lalu, ketika James selesai mandi Angel menghubungi James dan memohon memintanya untuk datang karena dia merasa begitu sakit. Awalnya James tidak ingin datang, tapi begitu melihat photo yang dikirimkan Angel yang memperlihatkan termometer dengan angka tiga puluh sembilan derajat Celsius dia jadi panik dan tak berpikir panjang lagi.
Sebenarnya dia benar-benar merasa tidak enak karena lagi-lagi harus membohongi Anne untuk bertemu dengan Angel padahal ini sama sekali bukan niatnya. Sedari tadi dia di sana hanyalah untuk merawat Angel. Mulai dari mengompres, juga memberikan obat untuk Angel. Dia juga sudah bertanya kenapa suaminya tidak datang, apakah bertengkar? Apakah suaminya tahu kalau sedang sakit? apakah perlu memberitahu suaminya? Apakah perlu memberitahu orang tuanya? Tapi satu saja yang keluar dari mulut Angel yaitu, jangan meninggalkannya sendirian.
James menghela nafas, dia duduk di samping tempat tidur Angel dan kembali menatapnya.
" Angel, aku pulang sekarang ya? "
Angel membuka matanya, dia menatap dengan tatapan sayu dan memelas memohon untuk James jangan pergi dari sana.
" James, aku benar-benar tidak ingin ada siapapun selain kau. Aku, juga tidak ingin sendirian, tolong temani aku malam ini saja, aku benar-benar lemah sekarang. "
" Aku antar ke rumah sakit saja ya? "
" Aku tidak mau, istirahat sebentar nanti juga akan baik-baik saja kok. "
James terdiam tak berdaya, tidak mungkin kan dia meninggalkan Angel di sana sendirian saat sedang sakit begini?
***
Anne bangkit dari meja makannya, meninggalkan meja makan dengan perut yang kosong tapi tak merasa lapar. Sekarang dia sudah tahu dengan siapa James berada, jadi untuk apa dia menunggunya lagi?
Sebentar Anne menghela nafas, dia menyeka air matanya dan memukul dadanya yang terasa nyeri dan sesak. Cukup, sudah cukup ini benar-benar keterlaluan dan sudah tidak bisa dia maklumi lagi. Kenapa dia harus terus berjuang untuk James dan terus meyakinkannya di saat James sama sekali tidak memiliki niat yang sama. Entah kapan James akan memiliki visi yang sama dengannya, tapi jujur saja malam ini dia benar-benar merasa sudah lelah dengan perjuangannya.
Anne mengambil posisi untuk tidur, sekarang benar-benar dia harus tidur karena tubuhnya sudah sangat lelah, dan dia tidak ingin memikirkan apapun lagi yang hanya akan memberikan penat untuknya.
Kesepian paginya. Anne terbangun, dan dia mendapati James belum juga kembali. Dia keluar dari kamarnya, makanan yang semalam masih ada di sana. Anne berjalan ke dapur, bukan untuk sarapan atau memasak sarapan, tapi dia mengeluarkan buah yang kemarin baru dia beli. Setelah itu dia kembali masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri dan berpakaian dengan rapih. Dia kembali keluar dari kamar, tak lupa juga dia membawa buah yang sudah ia siapkan tadi agar ikut pergi bersamanya.
Apartemen Angel, entah mengapa Anne marasa jika Angel dan James pasti berada di sana semalam. Dengan dalih ingin mengunjungi kakaknya, Anne kini sudah berada di luar unit apartemen kakaknya.
Masih enggan untuk mengetuk pintu hingga tanpa sadar sudah lima belas menit dia berdiri di sana. Tak lama pintu apartemen terbuka, dan James keluar dari pintu apartemen, berdiri tepat di hadapannya.
" Anne? "
Bersambung.