
Di luar dugaan, rupanya James kembali ke apartemen lebih cepat dari yang di bayangkan oleh Anne. Padahal dia sama sekali tidak mengharapakan James memenuhi janjinya. Yah, tapi karena James sudah pulang tidak ada juga salahnya pergi makan di luar kan? Bagaimanapun memasak terus menerus juga membuatnya lelah, apalagi seharian ini dia sudah disibukkan dengan melukis, jadi sekarang dia juga harus bersiap-siap.
" Kau mandi duluan saja ya? Biasanya perempuan kan lebih lama persiapannya dari pria. " Ujar James, tak mendapati jawaban apapun, tapi Anne dengan segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa saat kemudian ketika James tengah mandi, Anne tidak sengaja melihat pesan dari nomor yang tidak di kenal, beruntung sekali juga karena ternyata ponsel James sama sekali tidak menggunakan password jadi Anne yang penasaran membaca pesan itu, lagi-lagi dia adalah Angel, dia mengirimkan pesan kepada James dan memintanya untuk di temui, penting karena dia dan juga suaminya baru saja bertengkar hebat.
Anne tidak menghapus pesan dari ponsel James, tentu dia akan membiarkan saja dan melihat bagaimana James akan bertindak nanti. Jika pada akhirnya James nekat menemui Angel dan meninggalkan dia sendirian atau mengantarnya maka Anne tidak akan pernah lagi membuang waktu untuk pernikahan ini.
Setelah James siap, tak lama mereka langsung mengangkat menuju sebuah restauran yang sudah James pesan kursinya dari siang tadi. Persiapan makan malam ini benar-benar dia lakukan dengan penuh keyakinan, selain tidak ingin melihat wajah dingin Anne lagi, dia mulai terbiasa dengan pernikahan ini sehingga ada rasa agak tidak rela untuk berpisah meski dia merasa belum memiliki rasa spesial untuk Anne.
Sesampainya di sana, James dan Anne segera memesan menu yang mereka sukai, tida banyak yang di obrolkan karena Anne memilih sibuk dengan ponselnya, sementara James dia melihat saja bagaimana Anne berekspresi ketika bermain ponsel hingga makanan yang mereka pesan datang. Ditengah kegiatan makan malam itu, suara dering ponsel James terdengar, James mengeluarkan ponselnya, dia mengeryit karena tidak mengenal nomor yang menghubunginya itu. Penasaran juga karena takut itu penting, James segera menerima panggilan telepon tapi tetap dia berada di sana karena tidak ingin Anne curiga dan berpikir macam-macam.
" Siapa? " Tanya James begitu sambungan telepon terhubung.
James, kenapa tidak membalas pesan dariku? Aku di apartemen, James. Aku baru saja bertengkar lagi dengan Gerry, aku tunggu ya?
James terdiam sebentar, dia menatap Anne yang seperti tak perduli dengan dia yang sedang berbicara dengan siapa di telepon. Tapi, pesan tadi pasti Anne yang baca kan? Mungkin ini kedengarannya tidak masuk akal, tapi melihat wajah dingin Anne benar-benar membuatnya tidak tahan.
" Maaf, aku sedang ada kegiatan bersama istriku. "
James!
James tak lagi ingin bicara, dia tahu jika dia terus mendengarkan Angel bicara sembari menangis seperti ini akan membuatnya merasa tak tega dan lari untuk memeluk dan menenangkannya.
" Aku tutup teleponnya. "
Sebentar James terdiam, dia melihat ke arah Anne, dan Anne masih tak menunjukan ekspresi apapun.
" Barusan Angel menghubungi, dia bilang dia berangkat dengan suaminya. " James memutuskan untuk mengatakannya, sungguh dia yakin benar kalau Anne juga sudah tahu siapa yang menghubunginya barusan. Bukan takut Anne marah, bercerai dan akan mendapat hukuman dari Ayah Bien, hanya saja James benar-benar merasa tidak siap untuk bercerai sekarang ini. Jangan tanya apa alasannya, karena James sendiri juga masih bingung dengan apa yang dirasakan oleh hatinya.
Anne terdiam sebentar, dia menatap James yang juga menatapnya dengan datar. Tak lama dia melanjutkan kegiatannya lalu berseling untuk mengatakan,
" Pergilah jika kau ingin pergi menemuinya, aku tahu jalan pulang, aku tahu benar kemana harus pulang. "
James mengeraskan rahangnya, tahu benar kemana harus pulang? Apakah sekarang Anne sudah mulai memikirkan tentang perceraian? Jika ia apakah dia akan menerimanya seperti harapan beberapa waktu lalu? Tidak, sekarang dia tahu jika dia tidak ingin berpisah dengan Anne.
" Tidak, aku akan disini bersamamu. "
" Kau akan menyesalkan nantinya? "
James tercekat, dia seperti bisa melihat keputusasaan dari tatapan Anne, dia seperti menunjukan betapa dia tidak ingin kecewa lagi, dia seperti ingin menyerah di balik tatapan lelahnya.
" Hidup juga harus berjalan, aku juga perlu melihat kedepan dan mengabaikan masa lalu, aku tahu benar dan sadar dengan tindakan ku sekarang. "
Anne tak lagi bicara, dia menikmati saja makanan yang tersedia di meja makan tidak perduli enak atau tidak makanan itu. Benar, rasanya dia sudah putus asa hingga batinnya merasa lelah untuk terus berharap pada hal yang semu.
Setelah selesai makan malam, James dan Anne kini bersiap untuk kembali, tapi Anne terus memikirkan kakaknya sehingga dia meminta James untuk mengendarai mobilnya ke apartemen kakaknya.
" Kita temui dulu kakakku. "
" Tapi, keadaanya sedang tida baik, jadi lebih baik kita datang saja nanti ya? "
" Justru karena dia sedang tidak baik makanya aku ingin menemuinya. "
James tak lagi bisa berbicara dan membantah, dia melajukan saja mobilnya menuju gedung apartemen dimana Angel tinggal. Begitu sampai di sana James memencet bel pintu, padahal biasanya dia akan langsung masuk karena tahu kode pintu Apartemen Angel. Tak lama Angel membukakan pintu, ya melihat Anne yang jelas ada di dekat James, Angel langsung memeluk James erat-erat sembari menangis.
'' James! Aku benar-benar tidak sanggup hidup bersama Gerry lagi, James. Tolong bawa aku pergi dari Gerry ya? "
James terdiam dengan tatapan kaget, sementara Anne hanya bisa terus menatap dengan dada yang berdenyut sakit. Sungguh dia terluka dengan apa yang dia lihat, tapi dia juga terluka melihat bagaimana kakaknya berubah menjadi seperti wanita yang tidak tahu malu.
" Angel! " James menjauhkan tubuh Angel darinya, dan barulah Angel sadar jika di sana juga ada Anne.
Mereka kini telah berada di ruang tamu dengan perasaan canggung. Tapi, karena Anne sudah mengetahui banyak hal mengenai hubungannya dengan James, maka Angel hanya bisa lebih jujur saja dengan semuanya.
" Maaf, Anne. Aku tahu ini tidak pantas, tapi hubunganku dengan James sebelum kalian menikah sangat dalam. Aku tahu yang bisa menenangkanku hanyalah James, jadi aku meminta James datang karena aku tahu benar, James tidak akan menolak karena dia memiliki perasaan yang sama denganku. "
Anne tersenyum miring.
" Kak, percaya diri tentu saja bagus, tapi tahu diri itu lebih penting dari segalanya. "
Bersambung.