
Arthur memukul wajah Larisa membuat gadis itu memekik kesakitan, tubuhnya terhempas ke lantai, terbanting cukup kuat membuatnya tubuhnya juga merasakan sakit. Tak hanya sampai di situ saja, Arthur juga menekan, mencengkram dagu Larisa, membuatnya berdiri dengan paksa tanpa perduli bahwa gadis itu kesakitan luar biasa. Sudut bibir gadis itu mengeluarkan darah, hidungnya juga berdarah Meksi tidak begitu banyak.
" Aku hanya memintamu untuk mendekati James, dan juga melaporkan semuanya kepadaku, termasuk masalah proposal penting yang mereka buat! Aku tidak pernah mengatakan padamu untuk kau menyakiti Anne kan? "
Arthur kembali menghempaskan tubuh Larisa dengan wajah kesalnya. Untung saja dia memantau terus gerak gerik Larisa sehingga dia tahu kalau Larisa berniat mencelakakan Anne, degan cara menabrak Anne sampai mati dan membuat alibi bahwa Anne mengalami kecelakaan yang tidak di sengaja. Benar-benar tidak tahu bagaimana jadinya kalau sampai itu terjadi, karena perasaan suka Arthur kepada Anne sepertinya semakin bertambah besar setiap harinya hingga tidak rela kalau Anne celaka tak perduli siapa Anne untuk James.
" Dia penghalang terbesar untukku bisa mendekati James, Tuan. " Ucap Larisa tak sembari menahan sakit yang terbilang sangat.
Arthur membuang nafas kasarnya, dia berjalan mendekati kursinya, duduk di sana dengan kesan angkuh. Tangannya bergerak meraih rokok dan menyalakan pemantik untuk rokoknya. Dia sebentar menikmati asap rokok yang sedikit mengurangi kekesalan.
" Gunakan saja kemampuanmu, Larisa. Kau punya otak yang berguna, tapi kau malah menyalahkan keberadaan seseorang yang tidak ada hubungannya dengan James. Wanita itu harus tetap baik-baik saja. Kau tidak boleh membuatnya dalam bahaya, apalagi sampai celaka dan mati. "
Larisa terdiam menahan kekesalan yang luar biasa di dadanya. Sekarang dia mengerti kenapa dia diperintahkan untuk menggoda James, sekaligus untuk mematikan bisnis keluarga James. Arthur menyukai Anne, dan Larisa benar-benar paham sekali sekarang. Sekarang Larisa benar-benar tidak melakukan apapun selain menuruti apa yang di katakan oleh Arthur. Dia tidak bisa lagi bertindak sesuka hati karena sehebat apapun dia menyembunyikannya, hanya dengan satu kata Arthur pasti akan langsung mengetahui dan posisinya akan dalam bahaya, bahkan juga bisa jadi dia akan di masukkan ke dalam rumah sakit jiwa dan tidak akan bisa keluar dari sana dengan cara apapun.
" Pergilah sana, aku tidak ingin melihatmu membawa kabar buruk, aku juga tidak akan mau melihatmu sebelum kau menjernihkan otak kotormu itu. "
Larisa bangkit dari posisinya perlahan-lahan, sungguh seluruh tubuhnya sangat sakit dan dia sampai kesulitan berjalan.
***
Gerry mengeryit perlahan membuka matanya, sontak dia terbangun karena melihat ruangan yang jelas bukan ruangan miliknya atau asing untuknya. Perlahan Gerry bangkit dari posisinya, laku melihat Meta yang tengah tertidur di ujung ruangan di atas sofa dengan posisi duduk. Rumah sakit, Gerry benar-benar sadar benar kalau dia sedang berada di rumah sakit sekarang, tangannya juga terdapat jarum infus.
Sebentar Gerry menatap Meta yang nampak pulas tertidur seperti orang yang sangat kelelahan. Gerry membatin di dalam hati, kenapa yang menunggunya di rumah sakit bukan istrinya? Ini sudah pukul sembilan malam tapi yang setiap bersama dengannya justru assisten barunya yang beberapa hari ini semenjak dia masuk bekerja terus mendapatkan Omelan darinya.
Rasanya Gerry ingin bangkit untuk mengambil air minum karena dia begitu haus, tapi sial sekali karena kepalanya sangat pusing di tambah tubuhnya juga masih terasa begitu lemas sehingga mau tak mau dia membangunkan Meta untuk meminta bantuannya.
" Meta! Meta! "
Segera Meta membuka matanya begitu mendengar suara Gerry. Dia mengusap wajahnya agar segera kantuknya menghilang lalu dengan buru-buru dia berjalan mendekati Gerry.
" Ada apa Tuan? Ada yang tidak nyaman? Mau di panggilkan Dokter, atau bagaimana? "
" Aku hanya ingin minum. "
Meta dengan segera mengambil air mineral yang di berikan sekretarisnya Gerry beberapa saat lalu sebelum dia pergi meninggalkan rumah sakit.
" Hati-hati, Tuan. " Ucap Meta sembari memberikan air mineral itu, dia membatu Gerry untuk meminumnya, membuat Gerry merasa dihargai. Yah mungkin karena Gerry adalah atasannya jadi Meta begitu perduli untuk menciptakan image yang baik, batin Gerry di dalam hati.
Meta terdiam, sebenarnya kalau ingat beberapa waktu lalu saat Gerry menggenggam tangannya begitu kuat, bahkan sulit sekali saat Meta melepaskan tangannya dia jadi tidak ingin berada di sana, tapi beberapa saat lalu bibinya menghubungi dan memaki karena listrik di rumah habis, beras habis, Meta jelas sudah menjelaskan kalau dia belum satu bulan bekerja dan belum menerima gaji, tapi Bibinya tak mau tahu dan meminta Meta untuk meminjam ke teman-temannya, bahkan anehnya dia meminta Meta untuk meminta gaji lebih awal. Jadilah Meta memutuskan untuk tinggal di rumah sakit untuk menghindari bibinya dulu sembari menjaga Gerry yang katanya tidak akan ada yang menemani.
" Tuan, saya di sini saja ya? Saya akan membantu dan menjaga Tuan di sini. Saya tidak bisa pulang karena Bibi saya sedang tidak bersahabat. Saya janji tidak akan membuat suara berisik yang akan mengganggu Tuan istirahat. "
Gerry membuang nafas kasarnya, sekarang ini dia benar-benar tidak memiliki banyak tenaga sehingga bisa banyak bicara, jadi terserah sajalah kalau memang Meta mau tinggal di sana, batin Gerry.
" Terserah kau saja. " Jawab Gerry seraya mengerakkan kakinya untuk turun ke bawah.
" Tuan mau kemana? "
" Ke kamar mandi. "
" Biar saya bantu. "
Meta segera meraih lengan Gerry tanpa permisi, mengalungkan ke lehernya dan membantu Gerry untuk berjalan. Tadinya Gerry ingin mengatakan untuk jangan begini, tapi sadar benar dia juga pusing dia jadi tak lagi bicara. Entah mengapa pula Gerry gugup saat tubuh mereka menempel seperti itu.
" Ah! " Pekik keduanya saat Gerry tak bisa mengimbangi kakinya dan jatuh di sofa, tepatnya berada di atas tubuh Meta. Mereka terdiam sebentar saling menatap dengan gugup, untungnya saja jarum infus di tangan Gerry baik-baik saja.
***
" Kak, sekretaris kak James tadi sepertinya- "
" Aku tahu apa yang ingin kau katakan, tapi percayalah aku akan segera menyelesaikan masalah ini secepat mungkin. Dia baru beberapa hari kerja dengan tujuannya sendiri. Sabar sebentar ya? "
Sebenarnya Anne masih belum paham benar dengan apa yang dikatakan James, tapi sudahlah, kali ini dia akan coba mempercayai James sepenuh hati.
" Nah, ini rumah kita yang baru. " Ucap James seraya memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Segera James dan Anne keluar dari mobil untuk melihat rumah yang sudah rapih dan hanya tinggal masuk saja mereka berdua.
Anne tersenyum, memang rumah baru mereka bentuknya minimalis, tapi setidaknya ini lebih baik dari pada apartemen sebelumnya.
Iya, tersenyumlah untuk saat ini, Anne. Ujian rumah tangga yang sesungguhnya akan segera datang.
Bersambung.