
Satu Minggu terlewati, Anne benar-benar merasa satu pekan sudah seperti satu tahun untuknya. Dia selalu merindukan James setiap kali dia tidak melakukan apapun untuk mengalihkan perasaan cintanya. Padahal seharian penuh kadang Anne gunakan untuk duduk dan melukis agar tidak mengingat tentang James, atau bahkan dia akan menemani Ibunya pergi ke salon atau mengunjungi galery untuk menyibukkan diri. Nyatanya waktu saat akan tidur dia terus menerus mengingat James hingga hampir satu pekan ini dia kurang tidur.
Anne membuang nafasnya lalu bangkit untuk duduk di atas tempat tidur karena benar-benar matanya tidak mau di ajak untuk tidur. Ini sudah pukul tiga pagi, tapi dia benar-benar gelisah dan tidak bisa tenang lebih parah dari pada sebelumnya. Kemarin malam dia hanya tidur sekitar tiga jam saja, tapi malam ini sepertinya dia akan benar-benar tidak tidur sampai pagi.
" Bagaimana kabarmu, kak? " Gumam Anne menatap ruang kosong dengan pemikiran yang sudah mulai melayang memikirkan semua tentang James. Padahal dia sudah bekerja begitu keras untuk melupakan James, mulai tidak pernah mengaktifkan nomor ponsel, membuka akun media sosial apapun, dia bahkan sudah satu Minggu tidak menonton acara televisi yang dia sukai karena itu jelas akan membuatnya teringat momen dimana James menemaninya menonton drama kesukaannya.
Bukan berarti tidak mengetahui jika selama satu Minggu ini James tidak mencoba untuk menemuinya, karena setiap hari James selalu menghubungi Ayah Bien dan juga Ibunya untuk menanyakan bagaimana kabar Anne, apakah bisa bertemu Anne hari itu? Bahkan Anne juga menyadari jika setiap hari James mengintainya dari luar gerbang rumah.
Sayang sekali, bayangan dari peristiwa dimana Ibunya James pingsan dan segala pertengkaran James dengan Ibunya membuat Anne bisa dengan kuat menahan diri agar tidak goyah. Dia sadar benar jika dia tidak akan mampu memberikan apa yang di inginkan oleh Ibunya James sehingga memilih untuk tetap dalam kesedihan karena harus berpisah dengan James. Yah, Anne pikir dengan melepaskan James maka James akan bahagia, dengan begitu dia juga akan merasa bahagia saat James merasa seperti itu kan?
Di sisi lain, James kembali ke rumah saat sudah akan pagi dengan langkah kaki yang gontai. Dengan mata yang ia paksakan untuk terbuka akhirnya dia mampu membuka pintu rumahnya dan langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
" James?! "
James menatap ke arah sumber suara. Jelaslah James tahu siapa yang berteriak memanggil namanya, sudah satu Minggu ini Ibunya menginap di sana dengan alasan mengkhawatirkan keadaan James yang benar-benar kacau. Satu Minggu full hampir semua pekerjaan kantor di handle oleh Ayahnya James sedangkan James hanya mengambil beberapa pekerjaan yang dia rasa dia malu melakukannya lalu sisa waktunya akan dia gunakan untuk menunggu agar bisa melihat Anne, kaku mabuk saat malam hari. Sama seperti sekarang, James kembali ke rumah dalam keadaan mabuk parah.
" James, kau ini mau merusak tubuhmu sendiri ya?! Berhentilah mabuk seperti ini, James. Kau tidak akan mendapatkan apapun kalau kau mabuk begini terus! "
James mengeryit mendengar ucapan Ibunya, lalu tertawa kecil, hingga lama kelamaan James terbahak-bahak seolah ucapan Ibunya terdengar menggelitik lucu sekali.
" Kau sudah mulai gila James, kau tahu kan kalau mengkonsumsi minuman beralkohol sangat tidak baik untuk kesehatanmu? Berhentilah kekanakan, dan jadilah James seperti sebelumnya! "
James menatap Ibunya dengan tatapan yang begitu sulit untuk di artikan oleh seorang Ibu kepada putranya sendiri. Ada sedikit senyum tipis yang terbit di bibirnya, tapi tatapannya masih tak terbaca.
" Aku gila, benar sekali. Aku benar-benar gila, aku ditinggalkan istriku karena Ibuku sendiri bagaimana aku tidak gila? Ingin menyalahkan siapa aku juga tidak tahu. Yang satunya adalah Ibuku, yang satunya adalah istri dan wanita yang aku cintai. Aku benar-benar ingin bersama istriku tapi juga tidak ingin bermusuhan dengan Ibu. Tapi, nyatanya aku bahkan tidak mampu mempertahankan keduanya. Aku tidak mampu membawa istriku kembali, dan aku mulai membenci Ibuku sehingga aku lah yang menginginkan permusuhan ini ada. Jadi intinya aku yang salah, aku yang tidak pecus, aku yang bodoh hingga merasa hidup saja tidak pantas untukku. "
Plak!
Ibunya James begitu marah hingga tidak tahan lagi untuk menahan diri lebih lama. Sudah satu Minggu dia tinggal bersama James dan merawatnya dengan baik karena dia tidak ingin James merasa kesepian sampai nanti James bertemu wanita yang tepat dan James memiliki ketertarikan dengan wanita itu lalu menikahinya untuk melahirkan cucu untuknya. Tapi, yang ada dia malah hanya harus melihat James yang selalu pulang dalam keadaan mabuk, berbicara tidak jelas kesana kemari yang intinya adalah untuk membuatnya merasa bersalah.
" Aku menginginkan Anne, kembalikan dia padaku! Kau membuat dia meninggalkanku, maka kau harus membawanya kembali padaku! "
Plak!
Lagi, tamparan mendarat di pipi James membuat James perlahan tertidur di sofa ruang tamu karena dia benar-benar sudah mabuk parah, di tambah ngantuk berat. Sementara Ibunya James, wanita itu hanya bisa menatap nanar putra yang dia lahirkan dan dia sayangi sepenuh hati. Sebenarnya dia juga tidak tega melihat James seperti sekarang ini, tapi dia yang merasa begitu kukuh harus memiliki keturunan mau tak mau hanya bisa menahan diri dan bersabar menghadapi James yang protes melalui tindakan seperti sekarang ini.
***
Angel menatap jendela kaca di kamarnya dengan perasaan pilu. Sebenarnya rumah tangga macam apa yang sedang dia arungi? Kenapa rumah tangganya bersama Gerry benar-benar tidak masuk akal? Padahal sudah jelas Gerry bilang akan menceraikannya beberapa waktu kedepan, tapi kenapa Gerry masih saja terus memaksanya untuk melakukan hubungan suami istri?
" Pakaikan dasi kerjaku! "
Ucap Gerry sembari menyodorkan sebuah dasi kepada Angel. Tak ingin membantah, dia juga tidak ingin bertengkar, Angel memakaikan dasi tanpa sedetikpun menatap wajah Gerry.
" Nanti malam aku tidak pulang, pastikan keadaan rumah aman. " Ucap Gerry.
'' Hem.... " Jawab Angel singkat.
" Nanti sore Meta akan mengambil keperluan dinasku, kau siapkan saja sebelum dia datang untuk ambil. "
Angel membuang nafasnya.
" Kenapa tidak minta dia saja yang siapkan sembari belajar menjadi istrimu juga kan? "
Bersambung.