
Anne bergegas masuk ke kamarnya setelah dia menguping pembicaraan James dan juga Angel. Benar-benar sangat tidak pantas tindakannya itu, tapi Anne begitu penasaran hingga tak bisa menahan diri untuk mencari tahu apa yang sedang di bicarakan oleh Angel dan juga James.
Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dia erat memegangi dadanya, kalimat yang di ucapkan James benar-benar membuat dadanya seakan meledak bahagia. Bolehkan? Dia juga tidak bisa menahan diri untuk tidak bahagia, benar dia masih ingat bahwa kakaknya akan sangat sedih, tapi perasaan senang itu benar-benar mengalahkan perasaan iba untuk kakaknya.
Suara ketukan pintu membuat Anne tersadar, dengan segera di menarik nafas dalam-dalam untuk dia hembuskan perlahan agar segera menghilang rasa gugup yang ia rasakan. Setelah itu Anne membuka pintu, dan James berada di hadapannya sekarang. Pria itu tersenyum, lalu segera masuk ke dalam kamar.
" Aku mau pergi bekerja ya? Jam sepuluh nanti ada janji temu dengan orang. "
Anne mengangguk tapi tak berani menatap James yang terus menatapnya.
" Anne, doakan aku agar kali ini berhasil ya? Aku benar-benar ingin menunjukan kepada semua orang bahwa aku layak menjadi suamimu. "
Ucapan James barusan sontak membuat Ane menatap James dengan tatapan terkejut.
" Layak? Tidak ada yang bilang kalau kak James tidak layak kan? "
James mengacak pelan rambut Anne.
" Kau tahu benar gosip tentang kemampuan keluargaku dalam mengelola bisnis kan? Jika di tidak ada Ayahmu bagaimana mungkin kami bisa seperti sekarang ini? "
Anne menunduk pilu.
" Aku yang tidak layak untukmu, kondisi tubuhku yang mudah sakit ini pasti sangat merepotkan. Jadi mana mungkin- "
James mencium bibir Anne dengan segera, bukan karena James menginginkan hal lain, hanya saja dia tidak sanggup mendengar kalimat yang akan membuat Anne merasa jika dia sangat tidak berguna dengan tubuhnya yang mudah lelah dan sakit.
" Berhentilah untuk memvonis diri sendiri, selama kita masih bisa hidup maka nikmati saja hidup ini. Jangan memikirkan tentang sakit karena semua orang juga akan memiliki waktunya sendiri untuk sehat dan sakit. Jangan rendah diri karena itu ya? " Ucap James setelah dia melepaskan ciuman bibir mereka.
Anne mengangguk paham.
" Baiklah, aku berangkat sekarang, jangan mengabaikan pesan dan panggilan telepon dariku terus ya? "
Anne tersenyum dan mengangguk.
Setelah itu James berangkat untuk bekerja, sementara Angel tengah bersiap-siap untuk kembai ke rumah Gerry. Bukan karena keinginanya, tapi karena Gerry sudah mengirimkan pesan untuk Angel segera pulang kerumah.
***
Gerry menatap sebal asisten pribadi barunya yang selalu saja salah dalam bekerja. Pagi tadi membuatkan teh begitu manis, sekarang lagi lupa dengan gulanya, salah memfotokopi kertas, sekarang malah mengotori pakaian Gerry dengan tinta yang berasal dari salah satu pena di ruangannya.
" Kalau kau benar-benar tidak bisa bekerja, cepatlah pergi dan jangan kembali lagi ke sini. " Ucap Gerry yang sudah kehilangan kesabaran.
" Maaf, Tuan. Lain kali saya tidak akan salah lagi, ini yang terakhir saya janji. " Ucap asisten pribadi Gerry yang baru. Dia adalah Meta, dia juga adalah sahabat baiknya Anne yang baru saja kembali dari luar kota karena adanya keperluan keluarga. Ini pekerjaan pertamanya, tentu saja tidak mudah tapi dia juga akan terus mencoba melakukan yang terbaik agar tidak di pecat.
Meta mengangguk, dengan segera dia keluar dari ruangan Gerry menuju ruangan kerjanya yang menjadi satu dengan para staf lain.
'' Cih! Kenapa juga aku malah tidak tega memecat secara langsung. " Gerutu Gerry setelah Metta pergi dari sana.
***
Larisa menyambut hangat kedatangan James yang terlambat hari ini.
" Selamat pagi, Tuan? " Sapa Larisa dengan begitu lembut juga sopan. Dia tersenyum meninggalkan kesan anggun tapi sayangnya James sama sekali tidak tertarik untuk memperhatikannya. Ini sudah agak siang, dia juga harus segera menemui perwakilan dari sebuah perusahaan yang akan menjadi investor.
" Tuan anda ingin minum teh atau kopi? " Larisa bertanya sembari menatap James dengan sopan, tapi kesan menggoda dari wajahnya memang tak menghilang.
James menghela nafas, dia menatap Larisa dengan tegas.
" Tidak perlu, aku sudah minum teh buatan istriku sebelum berangkat bekerja. "
Larisa memaksakan senyumnya, sungguh penolakan dari James barusan membuatnya semakin ingin mendekati James dan memilikinya. Padahal Arthur berulang kali mengatakan jika James adalah pria yang payah dan bodoh, tapi yang ia lihat justru James yang nampak sempurna. Memang sih kalau melihat dari perusahaan, juga dari keluhan para karyawan yang bekerja di sana, James dan Ayahnya memang terkesan tidak bisa melakukan apa yang bisa Arthur lakukan untuk memajukan perusahaannya. Tapi, kenapa Larisa malah jadi meragukan semua itu dan memiliki firasat jika James akan berada di atas Arthur nantinya.
" Apa yang harus saya kerjakan, Tuan? "
" Sementara ini tidak ada. " Jawab James singkat.
" Bagaimana kalau saya bantu memeriksa dokumen yang akan kita gunakan saat kita meeting nanti? "
James terdiam sebentar, sungguh dia tidak tahu kenapa dia begitu waspada kepada Larisa. Jika saja yang berniat membantu memeriksa dokumen kembali adalah mantan sekretaris yang lama, mungkin dia masih bisa memberikannya tanpa adanya rasa curiga. Tapi, kegagalan beberapa kali sebelumnya membuat James begitu berhati-hati dan memiliki firasat jika sbelumnya sekretaris lama ada ikut andil dalam kegagalan menuju kata sepakat kepada calon investor.
James menatap dokumen itu, dokumen yang ada di mejanya memang ada dua. Satu dokumen yang di buat oleh divisi, sedangkan yang satu lagi di buat secara rahasia olehnya dan juga Ayahnya. Mengindari dan memberikan kesan menjaga jarak tentu saja akan membuat Larisa curiga, jadi James membiarkan saja Larisa membantunya dan lihat bagaimana reaksi Larisa nanti.
" Silahkan. " James menyodorkan satu dokumen kepada Larisa, dan dengan segera Larisa mengambilnya dan memeriksa secara teliti.
Setelah selesai, Larisa meminta izin untuk kembali ke ruangannya. Begitu sampai di ruang kerjanya, Larisa degan segera menghubungi Arthur guna membicarakan isi dokumen yang tadi dia periksa kembali bersama dengan James.
Hahahaha..... Tidak heran kalau perusahannya tidak maju, rencana bodoh seperti itu mana mungkin akan ada investor yang tertarik? Sepertinya aku terlalu waspada, nyatanya James memang pria bodoh yang tidak memiliki kemampuan apapun. Kau teruslah dekati dia, buat dia jatuh cinta padamu, aku menantikan kabar baik darimu.
Begitulah kalimat yang keluar dari mulut Arthur begitu Larisa memberitahu intinya saja dari dokumen yang tadi ia baca.
" Kenapa ya aku merasa jika James itu tidak sebodoh yang di katakan Tuan Arthur? Apa ini benar hanya firasatku saja ya? "
Bersambung.