Perfect Marriage!

Perfect Marriage!
BAB 39 : Rasa Benci Yang Timbul



Angel menatap Anne dengan tatapan terkejut, sungguh dia sama sekali tidak menyangka kalau adiknya yang dulu sangat jarang bicara, menatap marah seperti sekarang juga tidak pernah, lalu sekarang dengan berani tanpa ada ketakutan yang terlihat dari mimik wajahnya jelas membuat Angel tertekan. Bagaimanapun mereka di besarkan dengan cinta kasih berharap Angel dan Anne tetap kompak dan saling menyayangi selamanya.


Sekarang setelah melihat tatapan itu dari Anne, tentu saja hubungan mereka tidak akan bisa seperti dulu tanpa ada kecanggungan. Angel mencengkram tangannya sendiri dengan tatapan nanar. Sungguh dia sedih karena hubungannya dengan sang adik tersayang harus jadi seperti ini, tapi apalah daya karena perasaan yang ia miliki untuk James semakin meluap setelah dia menikahi Gerry yang ternyata tidak seperti yang dia inginkan.


" Kak, lihatlah diri kakak sekarang ini, lihatlah betapa besar perubahan pada diri kakak. "


Angel mengigit bibir bawahnya dengan perasaan kesal, jika di rangkai jalan ceritanya, bukankah semua ini gara-gara Anne? Andai saja bukan karena ingin memenuhi keinginan Anne Ayahnya tidak mungkin memaksanya merelakan James untuk menikahi Anne kan? Iya, andai saja Anne tidak sakit-sakitan sedari kecil, andai saja Anne tidak banyak diam dan lebih aktif mengatakan hal apa saja yang dia inginkan dan tidak menunjukan tatapan penuh cintanya setiap kali melihat James, Ayahnya tidak mungkin menyadari itu, Ayahnya pasti akan membiarkan dia dan James menikah kan?


" Anne, kalau waktu itu aku mengatakan tidak untuk pernikahan kalian, apakah kau pikir kau bisa menikahi James? " Angel tersenyum dengan mimik kesal, bukan kesal kepada Anne sebenarnya, dia hanya kesal dengan keadaan ini, dia kesal, dia marah, dia kecewa karena semua berjalan tak sesuai prediksinya.


Anne menyatukan jemarinya dan membuatnya saling bertautan erat. Dia menghela nafas tapi tak begitu dalam sehingga dadanya tidak naik lumayan tinggi. Dia menatap kedua bola mata Angel, sebisa mungkin dia menahan agar tidak memperlihatkan emosi apapun meski begitu hancur hatinya saat ini.


" Kala begitu, kenapa kakak mengiyakan? Ayah bukan orang yang egois dan memaksakan kehendak anaknya, Kakak mengiyakan karena ada alasan lain, iya kan kak? "


Angel tersentak, matanya sempat tak fokus dengan melirik ke kanan dan ke kiri. Tapi tak berapa lama dia kembali mencoba untuk tidak terlihat terpancing dengan ucapan Anne barusan.


" Itu, " Angel nampak ragu-ragu, tapi dia hanya bisa mengatakan sembarangan alasan untuk menutupi alasan sebenarnya dia menyetujui pernikahannya dengan Gerry.


" Karena kau! Karena kau terus sakit-sakitan, sedari kecil kau hampir tidak pernah sehat, kau kritis dan koma beberapa kali, mengingat itu aku tidak tega dan membiarkanmu menikahi James. Dokter bilang juga dengan kondisi tubuhmu yang amat lemah itu kau tidak mungkin bisa hidup sampai empat puluh tahun. "


Bagai di sambar petir dari segala sisi, Anne tercengang menatap Angel dengan tatapan tak percaya. Kenapa? Kenapa dia harus mendengar itu dari Angel? Apakah Angel begitu membencinya sehingga mengatakan kalimat yang tidak berperasaan seperti itu? Anne mencengkram kuat, dan semakin kuat jemarinya. Air matanya kini luruh membuat James yang tadi terkejut dengan ucapan Angel menjadi tak tega saat matanya menatap Anne. Jelas dia tahu kalau itu menyakitkan untuk Anne, sebenarnya James tahu kalau sedari kecil Anne memang sering kali masuk keluar rumah sakit, bahkan hampir satu tahun juga pernah Anne tinggal di rumah sakit. Tapi dia tidak menyangka kalau kondisi tubuh Anne begitu lemah sehingga Dokter mengatakan akan sulit bagi Anne hidup hingga empat puluh tahun?


" A Anne, tadi aku salah bicara, maaf. " Ucap Angel karena langsung menyadari bahwa ucapannya sangat mempengaruhi Anne. Dia ingin mengulurkan tangan, mendekap tubuh Anne, mencium, lalu meminta maaf untuk apa yang dia katakan. Tapi, dia amat merasa bersalah juga menyesal sehingga tidak berani melakukanya.


Anne, dia masih terdiam membiarkan saja air matanya jatuh begitu banyak membasahi pipinya.


Angel ikut meneteskan air mata, sungguh dia menyesal sekali tapi dia terlalu takut untuk meminta maaf. Jadilah dia hanya bisa ikut menangis tanpa bisa menatap kedua bola mata Anne, dan juga mimik wajahnya yang terlihat begitu sedih.


" Ini sudah malam, kita pulang saja. " Ucap James seraya bangkit dari duduknya. Cukup, dia benar-benar tida tahan melihat Anne dan Angel menangis bersamaan. Sudah begitu dia juga ingat benar bagaimana perlakuannya selama ini terhadap Anne. Dia pernah memberikan makanan tidak bergizi, dia mengajak Anne tinggal di tempat yang kurang baik, dia juga tidak pernah menanyakan sama sekali apakah dia lelah atau tidak. Beberapa tahun ini Anne sudah jarang sekali sakit, jadi dia pikir Anne sudah baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.


James meraih pergelangan tangan Anne, tapi Anne sepertinya belum ingin pergi karena dia menolak dengan menahan tangannya untuk berada di posisinya.


" Kak, entah usiaku akan sampai empat puluh tahun atau tidak, tapi tetap saja pada kenyataannya James dan aku sudah menikah, kami terikat dengan status suami istri. Kakak juga sama kan? Saranku, cobalah kakak buka hati kakak, terimalah apa yang sudah terjadi ini, maka aku yakin kakak akan bahagia dan merasa bersyukur memiliki kak Gerry sebagai suami kakak. "


" Maaf.... "


Anne terdiam, sekarang dia benar-benar tidak sanggup untuk bicara lagi karena lelah mengartikan kata maaf dari Angel ini di tujukan untuk yang mana. Maaf karena mengatakan kalimat menyakitkan itu, maaf karena tidak bisa berhenti mencintai James, atau maaf karena masih tidak bisa menerima Gerry dan mengikuti saran dari Anne? Tidak tahu, biarkanlah saja waktu yang akan menentukan jalan cerita dan juga akhirnya.


" Anne, kita pulang sekarang. " James menarik tangan Anne membuatnya mau tidak mau hanya bisa mengikuti James yang membawanya keluar dari apartemen Angel. Sepanjang perjalanan bahkan sampai masuk ke dalam lift James sama sekali tak menatap Anne. Dia tahu Anne sedang sangat sedih, dia hanya mengindari kontak mata di antara mereka dan tidak ingin Anne salah paham lalu mengira dia mengasihaninya. Yah, lebih baik di tatap marah dari pada melihat orang mengasihani kita kan?


" Angel, kali ini kau sangat keterlaluan. " Ucap James sebelum meninggalkan Apartemen dan kini sukses membuat Angel menangis sendirian di apartemennya.


Selama di dalam perjalan pulang Anne sama sekali tak mengatakan sepatah katapun. Dia benar-benar diam, bahkan tatapan matanya juga kosong. James tentu bukan hanya sekali dia kali memperhatikan Anne sehingga merasa tidak senang melihat wajah sedih Anne.


" Berhentilah berpikiran macam-macam, umur hanya Tuhan yang tahu jadi jangan terbebani. "


" Aku hanya berpikir, kenapa tidak dari aku kecil saja Tuhan mencabut nyawaku. "


Bersambung.