Perfect Marriage!

Perfect Marriage!
BAB 48 : Mari Berpisah Sebentar



" Kak, bisakah biarkan aku kembali ke rumah orang tuaku dulu? Aku ingin tenang, aku butuh lingkungan yang membuatku tenang jadi biarkan aku tinggal diruang orang tuaku ya? " Pinta Anne dengan tatapan melas, sungguh ini benar-benar untuk pertama kalinya James melihat Anne begitu memohon setelah seringnya dia tersenyum dan menerima saja apa yang di berikan kepadanya. Mungkin memang begini lebih baik untuk mereka, karena Anne juga butuh berpikir jernih agar tidak salah melangkah dan akan melakukan kesalahan nantinya.


James terdiam, sekarang dia benar-benar tidak bisa mengatakan tidak kepada Anne setelah melihat bagiamana Anne begitu memohon melalui ucapan dan tatapan matanya.


" Berapa lama kau akan tinggal di sana? "


Anne terdiam sebentar, berapa lama? Dia bahkan tidak tahu butuh berapa lama untuk menenangkan diri, untuk mengatur kembali pikirannya yang sudah kaca beberapa waktu terakhir ini karena ulah James dan juga kakaknya.


" Aku tidak tahu kak, tapi aku benar-benar membutuhkan ketenangan. Hanya di rumah orangtuaku aku merasa nyaman dan aman, jadi apakah boleh pulang dari rumah sakit aku langsung kesana? "


" Anne, kau tidak akan menghindari ku saat kau tinggal di sana kan? "


" Maaf kak, tapi kita memang lebih baik untuk tidak bertemu dulu sampai aku tenang. Nanti baru kita bicarakan lagi masalah kita yang belum selesai. "


James sontak tak bisa lagi bicara. Sekarang dia ingin membujuk pun akan terasa mustahil untuk menggerakkan hati Anne yang sekarang sudah mulai mengeras.


" Baiklah, kalau begitu setidaknya balas pesan yang aku kirimkan padamu Setipa hari ya? Kaka aku tahu bagaimana kabarmu aku pasti akan tenang, boleh seperti itu kan? "


Anne mengangguk setuju, sebenarnya kalau boleh jujur dia juga berat untuk berpisah dengan James, tapi bayangan dari wajah sedih Angel begitu membekas di ingatannya sehingga memilih untuk tenang adalah harapan terakhir Anne. Belum lagi kata-kata Angel yang menyebutkan bahwa dia tidak akan hidup sampai empat puluh tahun benar-benar membuatnya terguncang hebat. Bukan kematian yang ia takutkan, tapi dia takut mati dengan membawa penyesalan.


Setelah di perbolehkan pulang oleh Dokter, Anne langsung di antar kan oleh James sendiri ke rumah orang tuanya, sedangkan Angel langsung di bawa pulang ke rumah Gerry.


" Ayah, Ibu mertua, aku titip Anne disini ya? Aku akan jarang datang mengunjungi Anne karena ini adalah permintaan Anne sendiri. Tolong jangan lupa memberi kabar Anne padaku. " James menunduk pilu setelah mengatakan itu, sungguh dia sangat merasakan berat hatinya padahal baru saja dia mengantarkan Anne kesana.


" Tolong, bantu aku untuk meyakinkan Anne bahwa aku sangat ingin pernikahan ini terus berlanjut sampai akhir hayat kami. Aku mohon.... "


Kedua orang tua Anne hanya bisa terdiam, jelas lah mereka bisa menebak jika terjadi sesuatu, dan Angel pasti ada di dalam permasalahan itu. Sebagai orang tuanya Anne tentu saja dia sangat senang karena bisa melihat kesungguhan dari James untuk mempertahankan rumah tangannya bersama dengan Anne, tapi mereka juga orang tua Angel yang ingin melihat Angel bahagia juga.


" Berusahalah sebisa mungkin, James. Anne pasti sedang kacau, dan juga kebimbangan yang luar biasa, buktikan bahwa kau pantas untuk tetap dia cintai dan posisimu sebagai suami terasa layak. " Ayah Bien kali ini menatap sendu wajah James, benar-benar tidak biasa tapi ini adalah permintaan dari seorang Ayah agar anaknya bahagia sebenarnya. Terkesan egois karena membuat batasan semakin besar antara James dan Angel, tapi dari semenjak Angel hamil anak Gerry, dia sudah bisa menebak jika Angel tidak akan bisa disandingkan dengan James sebagai suami dan istri.


" Anne memang memiliki banyak kekurangan, tapi coba lihat dia baik-baik, maka kau akan melihat bagaimana hatinya yah tulus, bagaimana dewasanya dia meski dia agak berbeda dengan gadis diluar sana. Anne memang kurang bergaul karena kondisi tubuhnya yang gampang sakit, tapi dia jauh lebih baik di banding semua wanita yang kau kenal. "


" Aku dengar perusahaan juga sedang kacau, apa kau membutuhkan bantuanku? "


James sebentar menaikkan tatapannya, dia benar-benar bisa melihat tatapan tulus dan penuh perhatian dari wajah Ayah Bien yang biasa akan terlihat dingin itu membuat hatinya bergetar karena rasa haru. Tapi, untuk kali ini James benar-benar ingin membuktikan bahwa dia tidak sepayah dan seburuk yang keluarga Ayahnya katakan. Dia sudah kehilangan banyak kesempatan selama ini, dan ini lah waktunya dia menjadi manusia yang lebih baik, pekerja keras yang tidak lagi menyandang label payah, dan dia harus menjadi suami yang baik pula untuk Anne.


" Kali ini, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk melakukanya, Ayah mertua. Aku akan membuktikan diriku, aku akan berusaha sekuat yang aku bisa agar tidak ada lagi orang yang menghina kemampuanku, dan juga Ayahku. Terimakasih karena Ayah mertua selalu membantu kami selama ini, sekarang biarkan aku mengasah diri dan menunjukan diri bahwa aku mampu melakukanya. "


Ayah Bien tersenyum, dia menepuk pindah James dengan perasaan bangga. Sudah bertahun-tahun orang tua James selalu di rendahkan oleh keluarganya sendiri karena selalu gagal dalam menjalankan bisnis, Ayah Bien juga sudah melakukan segala cara untuk membantunya sehingga Ayahnya James tetap di pandang rendah karena selama ini hanya mengandalkan dirinya. Sekarang dia melihat adanya semangat yang membara dari James, maka dia akan mendukung James sepenuhnya dan membantunya secara diam-diam jika dia merasa James tidak mampu mengatasinya.


Setelah pembicaraan itu berakhir, Ibunya Anne masuk ke dalam kamar putrinya untuk melihat bagaimana keadaannya.


Anne, dia terdiam memandangi photo keluarganya yang terlihat begitu bahagia membuatnya merasakan rindu dan ingin sekali mengulang masa-masa itu.


" Sayang? Kenapa melamun seperti itu? " Ibunya Anne berjalan mendekati Anne dan duduk di sebelahnya. Seperti kebiasaan lamanya, dia akan membawa kepala Anne ke dalam pangkuannya dan mengusapnya dengan lembut.


" Apa yang sedang kau pikirkan, Hem? "


Anne memejamkan matanya sebentar menikmati rasa nyaman dari Ibunya yang tak dia dapatkan di tempat lain.


" Ibu? "


" Iya? "


" Apa ada masanya Ibu merindukan masa-masa kita dulu? Aku tiba-tiba rindu saat kita camping di taman kota sekeluarga. "


Ibunya Anne terdiam, jika boleh jujur dia sama sekali tak merindukan masa-masa dulu. Kenapa? Karena dulu dia hanya merasa senang dan bahagia tidak lebih dari sepuluh jam, sisanya dia akan menghabiskan untuk menangisi Anne yang sering sekali sakit. Mulai dari tipes, demam berdarah, ganguan pernapasan parah, kebocoran jantung, tumor jinak, tekanan darah rendah di usia anak-anak, bahkan Anne juga sering kejang tiba-tiba. Di usia remaja memang tidak separah saat anak-anak, tapi batuk pilek saja akan menjadi parah jika berada di tubuh Anne. Jadi, Ibu mana yang merindukan masa seperti itu meski ada sedikit kebahagiaan.


Bersambung.