Perfect Marriage!

Perfect Marriage!
BAB 100 : Menuju Pernikahan Sempurna



" Katakan padaku seberapa besar dan kuatnya tekad mu untuk tetap bersama putriku, seberapa yakin kau bisa menjalani cobaan yang sudah pasti akan datang bergantian silih berganti, bisa juga akan datang beberapa pengganggu dalam hubungan rumah tangga kalian. Aku tahu aku tidak begitu pantas ikut campur masalah ini karena bagaimanapun ini adalah rumah tangga kalian, tapi aku juga tidak bisa menahan diri jika aku melihat putriku menderita. "


James menatap dengan penuh keyakinan, yah tentu saja dia yakin karena baginya Anne sudah jauh lebih dari cukup, untuk yang lainnya tentu saja tidak akan begitu dia perdulikan.


" Iya, aku tahu apa yang aku lakukan, aku tahu apa yang aku pilih dan aku sadar benar dengan beberapa masalah yang mungkin akan timbul nanti. Kali ini biarkan aku membuktikan bahwa aku mampu menghadapinya asalkan kami tetap bersama, akan aku tunjukan bahwa kami bisa melewati segalanya bersama dan menghabiskan sisa umur kami untuk berbagi suka duka bersama juga. "


Ayah Bien menarik nafasnya dalam-dalam, pembicaraan di antara James dan dirinya memang baru beberapa saat di mulai setelah istrinya dan juga putrinya keluar dari ruangan dan memberikan mereka tempat serta waktu untuk membicarakan apa yang ingin di bicarakan.


" James, yah aku punya selain istriku hanyalah kedua putriku saja. Aku sebagai ayah mereka hanya ingin mereka bahagia, tapi beberapa saat lalu aku benar hancur sehancur hancurnya karena nyatanya kedua putriku begitu menderita dengan rumah tangganya. Anne, dia adalah anak yang lembut dan perasa, dia kadang bisa cerewet juga kadang cengeng sekali. Kau pasti mulai mengetahui bagiamana Anne yang sebenarnya kan? Sikapnya itu memang kadang kurang dewasa, tapi percayalah Anne itu adalah istri yang baik untukmu. Kedepannya tolong jaga senyum di wajahnya, jika memang ada masalah langsung saja temui kami dan ajak kami berunding. Jangan buang anakku ketika kau memiliki masa menginginkan anak, atau terdesak oleh ibumu Kembalikan saja kepada kami dengan baik, setidaknya dengan begitu perasaan sakit tidak akan begitu terasa berat untuk kami. "


James mengangguk paham, sebenarnya dia sendiri memang belum tahu ujian seperti apa yang akan mereka alami, meksipun ada sepintas bayangan beberapa problem, tapi kalau yang sesuai dengan yang dia pikirkan seharusnya dia bisa melewati itu bersamaan dengan Anne.


" Aku mengerti apa yang Ayah mertua katakan, juga inginkan. Maka tolong doakan saja kami berdua supaya kami bisa melewati semua rintangan dalam rumah tangga dan hidup harmonis seperti yang Ayah mertua harapkan. "


Ayah Bien tersenyum, sungguh kali ini dia benar-benar lega karena bisa melihat keyakinan yang begitu kuat dari sorot mata James.


" Baiklah, kali ini aku benar-benar yakin dengan keputusanku untuk menyerahkan putriku seutuhnya padamu. Hiduplah dengan bahagia setelah ini, aku titipkan putriku padamu, tolong jaga dia baik-baik ya? "


James mengangguk, sungguh kali ini dia benar-benar merasa begitu bahagia hingga hampir saja dia menangis. Untuk pertama kalinya dia melihat sorot mata yang hangat dari Ayah mertuanya setelah dia dan Anne menikah. James seperti merasa begitu lega karena pada akhirnya hubungan pernikahannya dengan Anne mendapatkan dukungan penuh dari keluarga Anne.


" Untuk masalah perusahaan, "


" Ayah mertua, aku tahu Ayah mertua ingin mengajukan diri untuk membantu segala hal yang kami butuhkan, tapi untuk kali ini biarkan kami berusaha sekuat tenaga kami, dan anggap saja ini pembelajaran untuk kami agar bisa kuat, kokoh di atas kaki kami sendiri. "


Ayah Bien mengangguk paham dengan hati yang merasa bangga.


Ini lah James yang seharusnya.


Setelah kepergian Ayah Bien dan istrinya, kini Ibunya James beserta Ayahnya datang ke rumah sakit untuk menemui dan melihat secara langsung keadaan James setelah dia di hubungi dari pihak asuransi. Maklum saja, James benar-benar mematikan ponselnya karena tidak ingin di ganggu oleh siapapun sekarang ini.


" Kak, ada yang mau aku bantu tidak? "


James tersenyum lalu meraih tangan Anne untuk dia genggam.


" Aku sekarang tidak membutuhkan apapun dan tidak ingin melakukan apapun selain berduaan denganmu saja. "


Anne tersenyum dengan rona merah di wajahnya.


" Tidur di sebelah ku ya? "


" Tidak mungkin kak, pasti akan jadi sempit dan tidak nyaman jadi aku tidur di sana saja. " Tunjuk Anne ke sebuah sofa yang tak jauh dari Brankar dimana James berbaring sekarang.


" Tidak boleh! Tidur di sisi kanan saja yang jauh dari jarum infus. "


" Tapi, "


" Sayang, ayolah, ayo..... "


Anne tentu saja langsung tidak bisa mengatakan tidak lagi setelah panggilan itu kembali dia dengar setelah beberapa waktu berkisah dengan James, tatapan yang penuh cinta dan juga suara lembutnya benar-benar membuat Anne merasa untuk tidak usah menolak lagi.


James menggeser tubuhnya perlahan, Anne juga dengan hati-hati merebahkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap James dan memeluknya bersiap untuk istirahat.


" Aku rindu di peluk seperti ini oleh mu. " Ucap James sembari memejamkan mata menikmati betapa hangatnya tangan Anne yang melingkar di perutnya.


" Aku juga rindu memeluk dan di peluk kak James. "


" Tunggu beberapa hari lagi, aku janji tidak akan melepaskan pelukan saat kita tidur. " Anne mengangguk sembari terkekeh setuju dengan apa yang di ucapkan James barusan.


Baru saja mereka bersiap untuk istirahat, Ibunya James dan Ayahnya datang tanpa mengetuk pintu, yah mungkin karena mereka khawatir juga terburu-buru ingin mengecek bagaimana kondisi James sekarang setelah kecelakaan pagi tadi.


Anne tentu saja segera mencoba untuk bangkit begitu menyadari ada yang datang, tali belum sempat dia turun dari Brankar rupanya Ibunya James sudah sampai lebih dulu di dekat mereka.


" Ka kalian? Bagaimana kau bisa ada di sini? " Tanya Ibunya James dengan tatapan terkejut luar biasa.


Anne menatap James yang kini menatap Ibunya dengan tatapan dingin. Kali ini dia benar-benar sudah memutuskan untuk tidak menyerah apapun alasannya, jadi dia hanya perlu kuat dan sabar saja menghadapi Ibu mertuanya itu.


" Kak James kecelakaan saat ingin menemuiku di bandara, jadi aku menemani kak James di sini, Ibu mertua. "


Ibunya James tentu saja tidak bisa seperti Ini mertua antagonis lainnya yang bisa asal bicara dan menyakiti hati menantunya, itu semua karena kebaikan orang tua Anne yang membuatnya tertekan bahkan sampai sekarang ini.


" Bukankah kalian sudah akan berpisah? Kenapa kalian dekat lagi? "


" Kami- " James tidak melanjutkan ucapnya karena Anne lah yang dengan lancar menjawab pertanyaan itu.


" Kami sudah mencoba untuk berpisah dan mencoba memahami situasi dan hati kami, tapi pada akhirnya kami memang tidak rela berpisah, kami tersiksa satu sama lain, jadi kami berdua memutuskan untuk kembali bersama, dan akan lebih kuat juga lebih sabar lagi menghadapi ujian pernikahan ini. "


Bersambung.