Perfect Marriage!

Perfect Marriage!
BAB 89 : Perasaan Terlarang



Karena perasaan bersalah kepada Meta, Gerry akhirnya memutuskan untuk sebentar berada di sana dan mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi dengan Meta sehingga dia sampai membeli bunga beracun itu.


" Kau seharusnya membagi kesedihanmu itu dengan orang lain, setidaknya orang lain akan memberikan masukan padamu dan mencegahmu melakukan apa yang pada ujungnya hanya akan merugikan dirimu sendiri. Aku mengatakan ini bukan karena aku sok bijak, tapi aku mengalami fase seperti itu, aku melakukan sesuatu yang seharusnya tidak aku lakukan, sekarang aku amat menyesalinya, aku benar-benar sulit menerima kenyataan dan terus mengelak. Buanglah jauh-jauh niatmu itu, aku yakin kau akan berubah menjadi lebih baik nantinya. Mulai besok kau tinggal saja di apartemen dimana Jhoni tinggal. ( Jhoni, sekretarisnya Gerry ).


" Terimakasih banyak, Tuan. Aku benar-benar akan melakukan semua perintah Tuan, juga akan bekerja lebih tekun lagi. "


Gerry membuang nafasnya, dia tersenyum tak memiliki maksud dari senyumnya itu.


" Sudahlah, itu tentu saja bukan hal yang besar. Bagaimanapun masalah sewa apartemen kau harus menyelesaikan sendiri, tapi karena tanggal gaji mu masih beberapa hari lagi, aku akan meminjamkan uang padamu sebagai deposit apartemen dan kebutuhan lainnya, nanti kau bisa mencicilnya untuk membayar. "


Meta tersenyum sumringah, sungguh dia sama sekali tidak menyangka kalau Gerry sebenarnya adalah orang yah begitu baik.


" Baik, terimakasih banyak atas segala bantuannya, Tuan! "


Dirumah sakit.


Angel terdiam tak sekalipun mengatakan apapun, dia hanya merasa hatinya seperti sakit tapi tidak yakin dengan perasaan yang ia rasakan. Saat dia sadar beberapa saat lalu, jelas sekali dia mendengar Jhoni menghubungi Gerry, dan saat Jhoni menyebut nama Meta, Angel yakin sekali kalau Gerry pasti sedang menemui Meta. Ini sudah satu jam lebih, bahkan mungkin hampir dua jam setelah Angel bangun tapi Gerry tak kunjung datang.


Aneh, padahal beberapa saat lalu dia yakin benar dia tidak mencintai Gerry tapi kenapa perasaannya seolah mengatakan lain sekarang? Angel menggelengkan kepala lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak, dia tidak boleh memiliki perasaan kepada Gerry, dia tidak boleh merasa cemburu kepada Meta. Bukan Gerry tidak pantas untuk dia cintai, hanya saja Angel terlalu rendah diri sekarang ini. Ucapan Gerry yang begitu menyakitkan beberapa waktu lalu, tatapan matanya yang tajam dan terkesan jijik, setiap pukulan yang dia terima dari Gerry, bahkan saat melihat rekaman video yang di tunjukan Gerry membuatnya merasa seperti wanita rendahan yang menjijikan, bahkan tidak pantas untuk hanya di jadikan seorang teman.


Tidak ingin terus membuat hatinya gelisah memikirkan apa yang seharusnya tidak ia pikirkan, Angel memiringkan tubuhnya dan mencoba untuk menutup mata siapa tahu dia akan tidur dan bangun dengan keadaan yang sudah lebih baik suasana hatinya.


Beberapa saat kemudian, Gerry perlahan membuka pintu ruangan di mana Angel di rawat. Dia menatap punggung Angel dengan segala pemikirannya, lalu perlahan mengubah posisi hingga sekarang dia sudah berada di dekat Angel dan bisa menatap wajahnya yang tengah tertidur.


" Sampai saat ini kau masih menggantungkan ajakanku, kau tidak menjawab saat aku meminta untuk kita coba memulai lagi dari awal, kau seperti tidak ingin melakukannya, tapi aku tidak bisa menerimanya. Aku sudah terlalu dalam mencintaimu, aku sudah terlalu sulit untuk mulai membiasakan diri tanpamu. Aku tahu aku banyak melakukan kesalahan, aku tahu aku salah karena telah menyakiti hati dan fisikmu, tapi apakah kau tahu bahwa aku juga sama sakitnya seperti yang kau rasakan? Aku juga sangat sedih saat melihatmu menangis, aku juga sangat membenci diriku sendiri saat harus memaksamu melakukan hubungan badan. Aku membenci diriku sendiri setiap kali mengingat betapa gilanya aku menyakitimu, hanya saja yang sok percaya diri itu sama sekali tidak menyangka kalau aku tersakiti oleh perbuatanku sendiri. " Gerry menggerakkan jemarinya ingin menyentuh wajah Angel, tapi karena takut akan membuat Angel terbangun, dia mengurungkan niatnya dan menarik kembali tangannya.


" Aku pikir aku akan bahagia dengan menyiksa wanita yang sudah mengkhianatiku, tapi sial sekali aku malah begitu menderita saat melihatmu kesakitan. Aku minta maaf, Angel. Meskipun aku tidak tahu seberapa besar kau kecewa, marah dan benci terhadapku, aku benar-benar berharap kita untuk tetap bersama, berikan aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku, dan biarkan aku menunjukan padamu bahwa aku bisa menjadi suami yang baik untukmu. "


Jangan seperti ini, aku mohon.


Batin Angel sembari menitihkan air mata, dia sebenarnya sudah terbangun saat Gerry datang dan mengatakan semua kalimat itu, hanya saja dia memilih untuk tetap memejamkan mata.


***


Setelah mendapatkan persetujuan dari Ayahnya untuk melanjutkan S2 di luar negeri, Anne kini tengah mempersiapkan apa saja yang di butuhkan olehnya. Jujur saja hatinya benar-benar terasa berat dan tidak rela, tapi demi untuk melupakan semua yang terjadi ini Anne harus mencari kesibukan sendiri. Di akan menggunakan sebagian waktunya untuk kuliah, lalu sebagain lagi untuk melukis da beberapa hal yang akan di rasa menyenangkan lainnya.


" Anne, kau benar-benar akan berangkat? " Tanya Ibunya Anne seraya berjalan mendekati Anne yang tengah mengemas pakaiannya.


Anne memaksakan senyumnya, bagaimana dia akan menjawab ini? Kalau jujur dengan alasan sebenarnya tentu saja akan terdengar sangat memalukan, bagaimanapun kepergiannya untuk kuliah hanyalah kedok untuk menyembunyikan betapa pengecut dirinya karena tidak mampu menghadapi kenyataan yang sebenarnya.


" Iya, Bu. Dari pada cuma menghabiskan waktu untuk bersantai lebih baik cari kesibukan dan pengalaman kan? "


Ibunya Anne membuang nafasnya, bohong sekali kalau dia tidak bisa merasakan apa yang di rasakan putri keduanya itu hanya dengan menatap kedua bola matanya saja. Anne seperti sedih untuk pergi, dia seperti tidak rela tapi terdorong oleh sesuatu yang tidak bisa dia tolak.


" Anne, sejauh apapun kau pergi, bila hatimu terus merindukan maka jarak jauh hanya akan membuatmu lebih sakit. Ibu tahu kau tidak ingin pergi, Ibu tahu kau ingin terus bisa melihat James, Ibu tahu kau ingin tetap berada di tempat dimana ada kenangan bersama dengan James. Baiknya selesaikan dulu masalah hatimu, nak. Kau tahu sekali hidup hanya sekali kan? Lakukan saja apa yang membuatmu bahagia, belajarlah menjadi egois agar kau bisa hidup dengan bahagia. "


Anne terdiam sebentar, yah selama ini dia sudah cukup egois, maka dari itu keadaan tidak baik pada akhirnya kan?


" Ibu, jika memang aku pergi ke luar negeri bisa menata hatiku kembali, maka keputusanku ini adalah keberuntungan, jika tidak juga berubah, maka aku kan hanya perlu menyimpan perasaan untukku sendiri. Aku tidak akan menjadi sebab pecahnya sebuah keluarga, Bu. "


Bersambung.