
James memeluk erat tubuh Anne yang justru semakin bergetar dan jelas dia bisa merasakan jika Anne semakin menjadi dengan tangisnya. Ini sudah tengah malam, dan mereka berdua sama-sama masih belum bisa tidur. James semakin mengeratkan pelukannya karena dia sendiri tidak tahu harus mengatakan apa, tapi setidaknya dia berharap dengan memberikan pelukannya Anne bisa sedikit tenang.
" Maaf, aku benar-benar minta maaf. "
Suara lirih, tersendat karena Isak tangis itu keluar dari mulut Anne dengan nada yang begitu melas dan bersalah membuat James yang mendengarnya dengan jelas menjadi begitu merasa bersalah. Benar, dia sudah memutuskan untuk bersama dengan Anne tidak perduli kalau Anne memiliki fisik yang lemah, memang bisa apa dia selain menerima Anne dengan tangan terbuka dan memaklumi kekurangan Anne. Jujur saja dia memang masih belum tahu apa yang akan terjadi di masa depan, apakah akan ada anak atau tidak di antara mereka berdua, tapi jah di dalam lubuk hati James, dia benar-benar ingin terus bertahan bersama Anne. Terdengar seperti pria yang begitu mencintai wanitanya, hanya saja terlalu dini bagi James untuk menyimpulkan mengenai cinta saat ini.
" Berhentilah menangis, ini bukan salahmu. "
Akhirnya hanya itu yang bisa di ucapkan James, dia berharap sekarang ini Anne bisa mulai sedikit tenang dan tidur secepatnya. Bukan hanya karena dia lelah, tapi dia tidak ingin Anne kurang istirahat dan sakit nantinya.
Lama kelamaan mereka berdua mulai memejamkan mata, larut dalam mimpi mereka masing-masing.
Pagi harinya.
Anne berjalan keluar dari kamar tidurnya setelah menyiapkan pakaian untuk James bekerja, berikut sepatu, kaos kaki, dasi, jam tangan, juga prenik lainnya. Dia tidak menunggu James bangun, karena Anne tahu sekali James memiliki alarm rutin dari Senin sampai Sabtu jadi cukup itu saja yang membangunkan James.
" Selamat pagi, non Anne? " Sapa tetangga Anne yang bekerja untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga di rumahnya. Anne tersenyum meski tak bisa menyembunyikan kedua matanya yang masih sembab parah hingga membuka mata saja dia merasa agak berat.
" Pagi, juga bu. Hari ini masak apa? " Anne berjalan mendekat, sebenarnya tujuan Anne adalah untuk belajar memasak secara langsung agar dia juga bisa memasak untuk James nantinya. Tapi setelah beberapa waktu terakhir ini Anne benar-benar baru sadar kalau memasak saja sangat membutuhkan keahlian. Yah, si Ibu tetangga si mengatakan jika memasak adalah kewajiban baginya yang lahir dan menikah dengan orang biasa saja. Tapi bagi Anne tentu saja sangat berbeda.
" Pagi ini masi goreng, sosis, telur mata sapi, juga ada salad sayuran non. Itu saja tidak apa-apa kan? "
Anne mengangguk.
" Iya, itu sudah banyak kok Bu. "
Ibu yang bekerja di dapur, atau panggil saja di Ibu Nori sebentar melihat wajah Anne yang masih sembab dan dia tahu jika Anne pasti banyak menangis sembari membatin di dalam hati, memang apa masalahnya hingga majikannya menangis sampai seperti itu? Padahal hidupnya terlihat baik-baik saja kalau di bandingkan dengan dirinya.
" Non Anne baik-baik saja? " Tanyanya yang tak tahan juga untuk mengetahui bagaimana kondisi majikannya itu.
Anne sontak memaksakan senyumnya, memang dia tidak akan bisa membohongi orang lain ketika matanya menjelaskan segalanya.
" Tidak apa-apa kok, Bu. "
Ibu Nori mengangguk saja, bagaimanapun dia hanyalah pembantu di rumah itu dan tidak boleh begitu ikut campur dalam urusan rumah tangga majikannya.
" Oh iya Bu, Ibu punya anak kan? " Tanya Ane yang merasa penasaran juga tentang itu.
" Punya non, empat anak saya. Dia sudah sekolah menengah atas, kelas satu dan tiga. Yang ketiga kelas enam sekolah dasar, yang paling kecil baru kelas dua. "
" Bagaimana rasanya memiliki anak sebanyak itu, Bu? "
Ibu Nori menghela nafas.
" Semua orang tentu saja bersyukur memiliki anak, non. Tapi kalau boleh jujur rasa lelah, penat, sering sekali saya rasakan. Usia saya kan tidak muda lagi, tapi saya harus mengurus empat anak saya sendiri, bekerja juga untuk membantu suami memenuhi kebutuhan rumah tangga. Tapi jangankan terimakasih, tidak di buat sedih saja saya sudah bersyukur. "
" Maksud Ibu? " Tanya Anne penasaran.
" Suami saya bekerja dari Senin sampai Sabtu, berangkat pukul tujuh pulang pukul enam sore. Kadang saya kan pulang juga dia sudah di rumah duduk dan mengopi dengan santai. Sesekali saya minta batuan untuk mengurus rumah, atau juga kadang urusan anak-anak, tapi dia selalu mengatakan lelah dan meminta untuk di mengerti dan di hargai. Padahal saya bekerja untuk mencari uang, mengurus rumah dan juga empat anak sekaligus, tapi saya tidak di beri waktu untuk meminta pengertian dari suami saya. Kadang ada masanya saya berandai-andai, bagiamana ya kalau tidak anak? Tapi kadang juga saya membatin, bagaimana ya seandainya jika suami saya bukan dia? Tapi bagaimanapun jalan hidup ini adalah pilihan saya, jadi mana boleh saya mengeluh? "
Anne tersenyum karena jawaban Ibu Nori cukup membuat hatinya tersentuh.
" Lalu bagaimana pendapat Ibu tentang pasangan yang tidak memiliki anak? "
Ibu Nori yang kala itu sedang mengelap piring tersentak dan sebentar mengentikan kegiatannya. Sekarang dia sadar benar maksud dari pertanyaan Anne selaku majikannya itu, kalau dia menjawab yang sebenarnya apakah itu akan melukai hati majikannya? Tapi kalau dia berbohong bukankah sama halnya dia dengan orang munafik? Ibu Nori membuang nafasnya pelan.
" Non, setiap pasangan suami istri memiliki cobaan dan rintangannya sendiri. Ada yang memilki pasangan tempramental, ada pasangannya yang suka berselingkuh, ada yang di uji dengan materi, ada juga yang di uji masalah keturunan, dan kelurga. Jika seorang wanita sedih karena tidak ada anak, coba deh lihat betapa banyaknya anak-anak yang di telantarkan oleh orang tuanya, ada juga bayi yang di buang oleh ibunya sendiri begitu dia dilahirkan. Dari pada fokus karena belum atau tidak memilki anak, bagaimana kalau mengurus salah satu dari bayi atau anak malang tersebut? Jangan begitu perduli dengan darah siapa yang mengalir di tubuh anak tersebut, seorang anak bukan hanya bisa lahir dari rahim, tapi anak juga bisa lahir dari hati seseorang kok. "
Anne menganggukkan kepala dengan mata berkaca-kaca. Ternyata wanita yang bekerja dirumahnya mampu membuat hatinya merasa lebih baik. Padahal hanya seorang wanita rumah tangga biasa, tapi Anne benar-benar merasakan bagaimana hebatnya pemikiran seperti ini yang tidak semua orang bisa mengatakannya dengan mimik tulus seperti itu.
" Terimakasih, perkataan Ibu akan aku ingat terus. "
Ibu Nori tersenyum dan tidak berniat menanyakan apapun karena setidaknya dia bisa membaca apa yang di katakan oleh tatapan mata Anne.
" Non, hidup itu sangat singkat meski puluhan tahun bahkan ratusan kita hidup. Jangan menghabiskan waktu untuk bersedih, lakukan apa yang bisa membuat Non Anne bahagia, itu baru namanya hidup. "
Anne terkekeh.
" Tapi Ibu juga mengeluh. "
" Tapi saya bahagia kok. " Ibu Nori tersenyum lebar karena malu dengan ucapannya sendiri.
" Maklum non, orang cuma bisa menasehati orang lain, tapi tidak bisa menasehati diri sendiri. "
Bersambung.