Perfect Marriage!

Perfect Marriage!
BAB 98 : Jangan Pergi



" Aku terlalu takut mengkhianati istriku meskipun hubungan kami sedang tidak baik, kau seharusnya juga tahu bagaimana hubunganku dengan istriku melalui Ibuku kan? Berhentilah mengikuti apa yang di katakan Ibuku biarpun dia sampai berlutut memohon di hadapanmu. Aku, bukan pria yang mudah jatuh cinta, jadi seumur hidupku ini aku pastikan perasaan untuk istriku tidak akan pernah berubah. "


Begitulah ucapan James yang membuat Sandrina terdiam tak bisa lagi tersenyum apalagi mengatakan hal-hal sok kenal supaya mereka menjadi dekat. Sebenarnya dia menyukai James dari pertama melihat photo yang di berikan Ibunya James padanya, tapi siapa sangka kalau penampilan terbaiknya malam ini bahkan tidak bisa membuat James terpikat sedikitpun.


Setelah kembali dari restauran itu, James sama sekali tidak mengatakan apapun kepada Ibunya yang juga ikut peluang ke rumahnya dengan wajah kesal dan tak mau bicara. Sungguh masa bodoh James benar-benar sudah tidak ingin begitu memperhatikan Ibunya, mungkin karena efek anggur beralkohol yang dia minum.


***


Setelah menimbang-nimbang pilihannya, akhirnya Angel memutuskan untuk sejenak rehat dan menenangkan diri dengan pergi keluar negeri. Anne, beserta keluarga juga setuju apalagi tujuan negara yang ingin dikunjungi Angel sama dengan negara yang akan di datangi Anne untuk mengambil pendidikan sarjana dua nya di sana.


" Kau apa tidak ingin memikirkan lagi keputusanmu, Anne? Biar bagaimanapun James itu tidak seperti Gerry yang kasar, dia pasti kecewa sekali kalau kau pergi begitu saja menggantungkan hubungan pernikahan kalian. " Ucap Angel sembari menatap Anne yang sedari tadi sibuk dengan kopernya padahal jelas semua barang yang di perlukan sudah semua ada di sana. Tapi begitu Angel melihat wajah Anne yang terlihat seperti menahan kesedihan, Angel mulai menyadari jika kepergiannya pasti juga berat untuknya tapi dia tetap memaksakan diri dengan dalih kebaikan bersama.


" Untuk selanjutnya aku serahkan kepada Ayah dan Ibu saja kak. Aku tidak ingin terus goyah kalau bertemu Kak James lagi. "


" Kalau kau sangat mencintai dia, kenapa kau harus memilih jalan sulit seperti ini? Anne, perjalanan hidup ini benar-benar mengajarkan banyak hal untukku, meskipun kadang hubungan terasa bosan, meskipun di luar sana ada banyak pria yang lebih menawan, tapi pria yang bisa menerima kita apa adanya tentu saja adalah pria yang menikahi kita. Jangan mengambil keputusan yang akan kau sesali, Anne. "


Anne tak lagi bicara, dia memilih untuk diam dan menahan semua perasaannya yang menggebu-gebu karena beberapa hari ini tidak melihat James di luar gerbang rumahnya, juga tidak mendapatkan pesan dari James padahal dia sudah mengaktifkan ponselnya dari beberapa hari lalu.


" Baiklah, keputusanmu ini adalah pilihanmu. Kau mau keras pada dirimu sendiri juga adalah urusanmu, aku sebagai kakakmu hanya ingin kau bahagia karena pria yang menikahimu pantas juga untuk kau perjuangkan. " Angel bangkit dari sofa yang ada di kamar Anne dan berjalan keluar meninggalkan Anne di sana.


Anne, dia mencengkram kuat baju yang ia pegang setelah sok menyibukkan diri tadi untuk melihat semua barang yang rencananya akan dia bawa ke luar negeri.


Besok paginya.


Angel dan Anne baru saja tiba di bandara, dan mereka di antara oleh orang tua mereka sampai jam keberangkatan tiba nanti mereka akan menemani kedua putri mereka.


" Anne, aku check-in tiket kita duluan ya? Kau temani Ibu dan Ayah saja disini. " Pinta Angel yang langsung di angguki Anne tanpa curiga.


Setelah lumayan jauh meninggalkan Anne dan orang tuanya, Angel mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor James yang dia curi dari ponsel Anne semalam.


" Datanglah ke bandara secepatnya, kami akan berangkat ke luar negeri, jam keberangkatan kami sekitar satu jam dari sekarang, tepatnya sembilan dua belas menit. "


Di rumah James.


Begitu mendapatkan telepon dari Angel, James segera bangkit dari tempat tidurnya. Sebenarnya kepalanya benar-benar sakit dan pusing, tapi untunglah dia masih bisa mendengar dering ponselnya sehingga kabar besar ini bisa ia dapatkan sebelum terlambat.


James meraih kunci mobilnya masa bodoh dengan pakaian yang tidak dia ganti, rambut berantakan, wajah kusut karena kurang istirahat dan banyak mabuk beberapa waktu terakhir ini.


" James, sarapannya sudah siap ayo kita sarapan. "


" Tidak. " Ucap James mencoba untuk melanjutkan langkahnya tapi di halangi oleh Ibunya.


" Kau jangan selalu memuji kesabaran ibu ya?! Semalam kau sudah mempermalukan Ibumu, dan sekarang kau bertingkah seolah kau korbannya? James, begitu cetek arti Ibu bagimu ya? "


James terdiam sebentar menatap kedua netra Ibunya.


" Ibu, hubungan kita memburuk karena Ibu sendiri. Aku hampir gila dan menderita setiap hari karena Ibu, aku tidak bisa menjadi James yang seperti dulu saat Ibu mengambil, merampas kebahagiaanku. Aku sudah cukup mengalah, jadi tolonglah untuk kali ini saja biarkan aku menjemput kebahagiaanku. "


" Lakukan saja kalau kan ingin melihat Ibu mati perlahan. "


James membuang nafas kasarnya.


James meninggalkan Ibunya di sana tanpa mau memikirkan lagi yang lainnya lagi.


Begitu masuk ke mobil, James secepat mungkin mengendarai mobilnya dan mencoba menyalip kanan dan kiri menghindari kendaraan lain untuk cepat sampai di bandara. Sial! Dia benar-benar sulit menahan rasa sakit dan pusing di kepalanya yang membuat konsentrasinya agak rendah, dan begitu di mengindari satu mobil di depannya, James jadi menabrak pembatas jalan dan membuat kepalanya terbentur kaca mobil dan berdarah.


" Sh.... " James berdesis memegangi kepalanya, benar-benar ini salahnya karena terburu-buru sampai lupa menggunakan seat belt dan akibatnya jadi seperti ini.


" Sial! " Pekik James kesal, jelas saja mobilnya tidak bisa digunakan lagi, dan orang juga sudah mengerumuni mobilnya untuk mengecek bagaimana kondisi James di dalam sana.


" Anda baik-baik saja? " Tanya salah satu orang di sana ketika James keluar dari mobil sembari memegangi kepalnya yang berdarah hingga darahnya mengenai sebagian wajahnya.


" Aku baik-baik saja, tolong panggilkan taksi, aku butuh taksi. "


" Di depan jalanan macet karena ada pohon tumbang, kebetulan saya membawa kotak obat bagaimana kalau gunakan itu dulu? "


" Bukan, aku bukan mau pergi ke rumah sakit untuk berobat, aku harus pergi ke bandara. "


Semua orang yang ada di sana saling menatap bingung.


" Tolong....... " Pinta James.


" Saya pakai motor, apa anda mau saya bonceng? " Tanya salah satu orang yang ada di sana, pengendara motor yang masih muda itu sepertinya paham kalau pergi ke bandara pasti sangat penting untuk James karena saat terluka pun James bersikeras untuk pergi kesana.


Cukup lama Angel menunggu kedatangan James, dan sebentar lagi mereka sudah harus berangkat. Angel yang khawatir dan gelisah mengeluarkan ponselnya dan mengirim titik keberadaannya sehingga mempermudah James untu menemukan mereka.


Tak lama kemudian James sampai di bandara berkat pengemudi motor itu, dia segera berlari saat dia membuka ponselnya untuk menemukan Anne. Masa bodoh dengan bagaimana orang minatnya yang berdarah-darah, sendalnya juga tidak tahu kemana sebelahnya.


" Kak, ini sudah hampir berangkat, kita bergegas ya? " Ucap Anne, benar-benar pintar berbohong, batin Angel. Bagiamana tidak? Suara Anne nampak di buat semangat untuk pergi, tapi sorot matanya terlihat sangat sedih.


" Anne! "


Anne yang baru saja bangkit tersentak dan melihat ke arah sumber suara yang memanggil namanya.


" Kak James? "


Anne tentu saja terkejut bukan main, begitu juga orang tuanya, Angel sebenarnya tidak heran kalau James menemukannya, tapi yang mengejutkan adalah kondisi James sekarang ini.


Anne berlari menghampiri James yang berjalan cepat dengan satu kaki pincang entah sejak kapan dia tidak merasakannya untuk mendekat kepada Anne.


" Kak, kenapa denganmu?! " Tanya Anne khawatir begitu posisi mereka sudah sangat dekat hingga Ane bisa menyentuh darah di wajah James.


" Jangan pergi, tolong jangan pergi. " James mengatupkan kedua telapak tangannya untuk memohon, dia bahkan sampai tidak menyadari jika air matanya jatuh.


Anne sontak memeluk James dan juga ikut menangis, bagaimanapun alasan dia ingin meninggalkan James adalah untuk sebuah kebahagiaan, tapi kalau James sampai menderita begini, bukankah selama ini dia hanya berkorban demi hal bodoh?


" Tidak, aku tidak akan pergi kemanapun. "


Bersambung.