Perfect Marriage!

Perfect Marriage!
BAB 101 : Siap Menghadapi Segalanya



" Kami sudah mencoba untuk berpisah dan mencoba memahami situasi dan hati kami, tapi pada akhirnya kami memang tidak rela berpisah, kami tersiksa satu sama lain, jadi kami berdua memutuskan untuk kembali bersama, dan akan lebih kuat juga lebih sabar lagi menghadapi ujian pernikahan ini. "


Ibunya James terdiam karena memang dia tidak bisa mengatakan apapun, meski di dalam hatinya masih ingin meronta agar dapat memiliki cucu, tapi dia juga tidak bisa sejelas itu mengekspresikan keinginanya. Sadar benar dengan akibat jika mencari gara-gara dengan keluarga Anne, maka Ibunya James hanya boleh diam tak mengatakan apapun saat ini.


" Bagiamana keadaanmu, nak? " Tanya Ibunya James mengalihkan fokus karena tidak ingin terlalu memikirkan dan menanggapi ucapan Anne barusan, toh tujuannya datang juga untuk melihat secara langsung bagiamana keadaan James.


" Aku baik-baik saja, tidak ada yang serius. "


Ibunya James membuang nafasnya, sebal sebenarnya karena dia kan baru saja tahu kalau ternyata James mengalami kecelakaan karena Anne. Mungkin sekarang James Anne sedang dalam masa perasaan yang begitu membara, sehingga mau tidak mau Ibunya harus mundur dan menunggu waktu saja saat James lelah dan menginginkan anak. Yah, mana mungkin sih tidak ada orang tua yang menginginkan anak kandung mereka sendiri, batin Ibunya James di dalam hati.


Setelah sebentar memastikan James tidak mengalami luka yang serius, Ibunya James akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah, begitu juga dengan Ayahnya. Hanya saja Ayahnya James tidak memasang muka masang sekalipun seperti istrinya. Bagaimanapun dia ikut bahagia jika putranya bahagia, dia juga senang melihat Anne yang terlihat lebih tabah dan ceria dari sebelumnya.


" Kak, sepertinya Ibu masih ingin mengusahakan niatnya deh. " Ucap Anne begitu kedua mertuanya keluar dari ruangan di mana James mendapatkan perawatan.


" Biarkan saja, asalkan kau tetap mempercayaiku memang apa yang bisa terjadi di antara kita? "


Anne tersenyum, dan dia kembali mendekatkan tubuhnya serta memposisikan diri untuk bisa tidur di sebelah James.


" Kak, setelah- "


" Kita kembali menggunakan panggilan sayang saja ya? Takutnya nanti kalau kita sedang berada di luar, orang malah akan mengira aku ini kakakmu. " Ujar James yang segar mendapati anggukan dari Anne.


" Apa yang ingin kau katakan tadi? "


" Setelah kau sembuh nanti, bagaimana kalau pergi berlibur sebentar? "


James nampak berpikir sebentar, lalu membuang nafasnya.


" Sayang, boleh di tunda dulu tidak liburannya? Setelah aku sembuh, aku harus mengerjakan beberapa masalah pekerjaan yang sangat penting. Tapi bukan berarti permintaanmu tidak penting, hanya saja sekarang ini perusahaan sedang menjalankan proyek yang lumayan besar, kalau semua ini selesai dengan sukses kita bisa menyelamatkan banyak nasib karyawan kan? Aku juga sedang mengusut tentang Arthur, jadi bisa tolong sebentar tunggu? "


Anne mengangguk dengan cepat untuk menyetujuinya. Iya, bagaimanapun karyawan yang bekerja di kantor Ayahnya James juga patut untuk di perjuangkan juga, jadi sembari bersantai dia akan terus melakukan hal yang menarik karena ada atau tidaknya liburan hubungannya dengan James pasti akan lebih baik dan lebih mesra dari pada sebelumnya.


" Lusa aku kan sudah boleh pulang, kau benar-benar harus mempersiapkan diri dari sekarang ya sayang? Kuatkan diri dan jangan sampai kabur seperti dulu lagi. "


***


Gerry memerintahkan beberapa orang untuk menyebarkan video permintaan maaf dari Meta untuk semua orang yang merasa tidak nyaman dengan video yang beredar dan mengakui segala kesalahannya.


Meta kita semua akan berhenti begitu video permintaan maafnya tersebar luas, tapi ternyata sekarang dia seperti menjadi gantinya Angel untuk di gunjing. Para penghuni media sosial ramai-ramai menyalahkan Meta karena dengan lancang sudah menyebar luaskan video pribadi milik atasannya bersama dengan istrinya. Sekarang orang yang menggunjing Angel benar-benar sudah tidak ada sat mereka tahu jika pria yang bersama dengan Angel adalah suaminya sendiri. Tentu saja tidak akan ada yang menyalahkan Angel, mau bagaimana pun aksinya, Angel tetap berada di arah yang benar karena video itu di buat juga bersama suaminya, dan Meta la yang paling bersalah juga lancang dengan tidak tahu dirinya mencuri video pribadi atas dan membuatnya tersebar ramai di media sosial.


Dengan semua itu jelas pihak Angel sudah mulai bisa lega dan mulai menata kembali pikiran mereka karena bagaimanapun hidup harus terus berjalan. Tapi, orang yang tidak bisa tenang hatinya tentulah Gerry seorang. Hari dimana Angel berangkat keluar negeri dia terlambat sepuluh menit untuk bisa mengejar Angel dan akhirnya dia gagal untuk bertemu dengan Angel. Benar-benar sudah akan gila, tapi mau bagaimana lagi kalau sudah terlambat, ingin menyusul ke sana orang tua Angel justru lebih dulu mengatakan untuk jangan mengganggu putrinya dulu.


Ini sudah lebih dari satu bulan, dan Gerry benar-benar semakin sulit mengendalikan perasaan rindu dan sedih karena belum juga bertemu dengan istrinya. Mau sampai kapan sebenarnya dia harus seperti ini? Padahal dia sudah meminta maaf, bersujud, bahkan menawarkan untuk membuat surat perjanjian yang isinya jelas menguntungkan pihak Angel, tapi lagi-lagi usaha itu juga gagal total.


" Sudah lebih dari satu bulan, Angel. Kau apa masih butuh banyak waktu lagi untuk tenang? Bagaimana aku harus berundak sebenarnya? apakah membiarkanmu tenang adalah hal yang benar? Lalu bagaimana ya kalau aku menyusulmu kesana? " Gumam Gerry sembari menatap jendela kamarnya yang terbuka lebar.


***


Angel terdiam dengan tatapan lesu setelah sebuah kebenaran tentang dirinya terungkap. Tangannya kini tengah menggenggam sebuah benda pipih di tangannya. Dia menarik nafas nya dalam-dalam sebelum kembali melihat benda itu demi memastikan apakah benar dia tidak salah lihat tadi?


Ah, benar!


" Bagaimana ini? " Gumam Angel kepada dirinya sendiri sembari menatap tangannya yang sudah terbuka, dan akhirnya benda pipih itu terlihat jelas bisa dia artikan.


Alat penguji kehamilan yang memberikan kabar padanya lewat dua garis yang menyatakan kalau Angel kini tengah mengandung.


Angel menurunkan tatapannya untuk menatap perutnya yang masih amat rata. Dia menggerakkan tangannya mengusap perut perlahan dan membatin, akankah dari perutnya yang rata itu akan melahirkan anak seorang Angel.


" Masalahnya, aku harus senang atau harus sedih? Hubunganku dengan Gerry jelas tidak pernah baik, kalaupun bahagia, entah mengapa juga aku tetap merasa bahagia meski bisa saja aku harus mengabiskan waktu selanjutnya saat masa kehamilan. "


Angel membuang nafasnya dan bangkit dari duduknya. Dia membuka jendela kamar dan menghirup udara segar berharap bisa menenangkan pikirannya.


" Tidak apa-apa, bagaimanapun aku adalah Ibumu, jadi aku akan menjalankan peran Ibu dengan baik. Sehat-sehat di dalam sana ya sayang? Sampai jumpa delapan bulan selanjutnya... " Angel kembali mengusap perutnya dengan lembut.


Bersambung.