Perfect Marriage!

Perfect Marriage!
BAB 26 : Lelah Bukan Menyerah



Anne bangun pagi-pagi sekali untuk meyiapkan sarapan. Tidak ingin terlalu berharap bahwa James akan memakannya, tapi dia juga tidak menyiapkan untuk dirinya saja. Lagi-lagi berkat si bumbu racik instan dia memasak yang menurutnya enak. Cah kangkung, dengan ayam goreng dan ikan goreng sebagai lauknya. Untungnya mereka berdua sama-sama tidak menyukai rasa pedas, jadi tidak usah khawatir soal itu.


James yang mengendus bau masakan tentu saja tak bisa menahan dan terbangun dengan sendirinya. Sejenak dia melihat jam, memang sudah waktunya bangun jadi dia segera bangkit untuk membersihkan diri. Ini adalah jati Minggu, jadi tidak perlu terburu-buru untuk bekerja seperti biasanya, hanya saja perutnya yang merasa lapar tak tahan untuk bangun setelah ada bau masakan terendus oleh hidungnya.


beberapa saat kemudian, James keluar dari kamar, dia berjalan menuju dapur untuk menyusul Anne yang pastilah sudah berada di sana. Sebentar James mematung menatap Anne yang benar-benar berbeda jauh dari pendapatnya selama ini. Dia nampak sederhana dengan dress polos rumahan, rambutnya di gulung dan di ikat tinggi-tinggi. James merasa sudah keterlaluan juga menilai Anne selama ini dan membuatnya begitu membatasi diri.


" Ah! " Pekik Anne segera menjauhkan buah dan pisau dari tangannya. Ada darah di ujung jarinya membuat Anne menjadi panik. Segera James berjalan cepat untuk melihat bagaimana keadaan jati Anne.


" Kalau sudah tahu tidak bisa melakukanya, lebih baik kau panggil aku saja. " Ucap James sembari membawa Ana untuk mendekat ke wastafel, lalu mengguyur jari telunjuk Anne. Setelah ia dia menyeka menggunakan tisu kering, dan membawa Anne untuk duduk lebih dulu. Dia mengambil kotak obat, mengoleskan obat, lalu memakaikan hansaplas di sana.


" Jangan sok rajin, kalau kau tidak begitu mahir menggunakan pisau, kau kan bisa membangunkan ku? " Protes James lagi-lagi karena dia merasa kesal dengan Anne yang begitu ceroboh.


" Cepat bangunlah atau- "


James tak bisa lagi berkata-kata, dia tersentak melihat Anne yang memandangi jarinya sembari menahan tangis.


" Kau, kenapa menatap jarimu seperti itu? Apa kau takut melihat darah seperti kebanyakan nona kaya yang lainnya? "


Ane kini menatap James dengan tatapan marah.


" Kenapa? Aku salah bicara ya? "


" Melihat jariku teriris seperti tadi mengingatkan ku saat Dokter melubangi leherku, memasukkan selang masuk melalui kerongkongan ku, mengingatkan betapa banyak sayatan di tubuhku yang sudah lama tak aku rasakan, kau sudah tahu jawabannya kan? Aku bukannya takut dengan darah, karena ku biasa melihat pisau bedah, tubuhku sudah berteman baik dengan pisau tajam, jadi berhentilah menilai ku sesukamu. "


Anne bangkit dengan wajah cemberut, mengabaikan James yang menatapnya sembari menggaruk tengkuk entah apa maksudnya. Ane kembali ke meja makan, dia mengambil buah yang sudah ia potong sebelum terkena pisau, lalu memulai sarapannya tanpa menawarkan kepada James.


Tentu saja James tidak mau rugi, dengan segera dia ikut duduk bergabung dengan Anne, mengambil makanan yang ada di meja. Yah, semua makanan itu kan di beli dengan uangnya jadi sayang sekali kalau membangunkannya padahal dia sudah mengeluarkan uang kan?


Anne benar-benar mengacuhkan James, dia bahkan sama sekali tak menganggap James ada di sana, tapi hanya itu yang terlihat oleh James, karena sebenarnya Anne benar-benar merasa bahagia karena James memakan makanan yang ia masak. Memang sih tidak begitu enak, tapi karena masakannya habis berarti tidak terlalu buruk juga kan rasanya?


Setelah sarapan pagi selesai, James berniat pergi untuk menemui temannya, tapi karena ucapan Anne barusan dia jadi menggagalkan rencananya.


" Aku pergi ke unitnya Don ya? Kemarin dia mengundang kita untuk datang karena kemarin dia baru saja meresmikan rumah makan miliknya. "


James ingat bena betapa menyebalkan Anne saat bersama Don, tertawa seperti tidak tahu malu membuatnya kesal saja.


" Aku juga ikut! "


" Barusan kau bilang ingin pergi? "


" Pokoknya ikut ya ikut! "


Ane menghela nafas.


Sederhana saja, Anne hanya menggunakan dress polos berwarna nude, riasan di wajahnya juga begitu sederhana. Rambutnya ia biarkan terurai begitu saja, tubuhnya juga menggunakan parfum yang begitu sedap dengan aroma yang lembut.


James menatap Anne sebentar, memang benar-benar berbeda jauh dari Angel yang biasa menggunakan make up agak tebal, Anne terlalu sederhana dalam berdandan, meksipun barang yang melekat di tubuhnya adalah barang mewah, nyatanya Anne lebih suka menggunakan yang tidak terlalu mencolok.


" Barang aneh apa ini? " James menunjuk ke dua gelang yang Anne beli beberapa waktu lalu itu.


" Itu aku beli kemarin saat kita pergi bersama dengan kak Angel dan Kaka ipar. "


James membuang nafasnya.


" Jangan bawa masuk barang aneh, tempat ini sudah sangat kecil. "


" Yang aneh itu kau! Sudah punya istri tapi tidak pernah menyadari. Kalau masuk ke sini jangan bawa hatimu itu. "


James terperangah tak mampu membalas ucapan Anne barusan.


" Sudahlah, malas meladeni mulutmu, kita berangkat sekarang saja. " Ucap James, dengan segera mereka berdua keluar dari apartemen lalu menuju ke unit dimana Don tinggal. Tak begitu lama sampailah dia di apartemen Don, seperti kebanyakan para tamu yang seharusnya, mereka berdua mulai berbosa-basi lebih dulu hingga suara dering ponsel membuat James segera menerima telepon begitu melihat teleponnya sebentar.


" Iya? Ah, a aku akan datang segera. " Setelah mengatakan itu James menutup teleponnya.


" Anne, aku tinggalkan disini sebentar ya? Ada sesuatu yang harus di urus. Don, aku titip istriku sebentar ya? "


Don mengangguk sembari mengacungkan Ibu jarinya.


Anne sebenarnya ingin sekali bertanya tentang hal penting apa sampai harus meninggalkannya di apartemen seorang pria lajang. Apakah begitu penting, bahkan lebih penting dari pada menjaga harga diri istrinya? Sayang sekali James nampak begitu terburu-buru hingga dia tidak bisa menanyakan apapun di depan Don.


Setelah kepergian James, Don benar-benar terlihat tida nyaman. Kalau saja mereka berada di luar ruangan mungkin dia masih bisa mengobrol santai seperti biasanya, tapi dia terlalu takut kalau James nanti akan salah paham dengannya.


" Anne, kalau tidak nyaman bagaimana kalau aku panggil beberapa tetangga yang aku kenal? "


Anne segera mengangguk, tentu saja itu lebih baik dari pada mereka hanya berdua saja. Setelah beberapa saat suasana jadi begitu ramai, Anne yang biasanya tidak suka banyak orang kini mulai tak terganggu dengan hal itu. Tak terasa waktu berlalu, Anne juga bukan sekali dua kali minat ke arah jam tangan, bahkan sampai acara selesai James belum juga kembali. Tentu saja dia meminta izin kembali dan terimakasih untuk hari menyenangkan sebelum kembali ke rumah.


Begitu sampai di rumah, Anne menyibukkan diri dengan beberapa kesibukan untuk membersihkan rumah. Ini sudah malam, tepat pukul sepuluh James baru kembali ke rumah.


" Kau belum tidur? " Tanya James saat melihat Anne masih duduk di kursi.


Anne bangkit dari posisinya, tadinya dia ingin langsung masuk ke dalam kamarnya, tapi begitu melewati James, dia mencium aroma parfum yang sering digunakan kakaknya.


Bersambung.