Perfect Marriage!

Perfect Marriage!
BAB 62 : Rencana Larisa



Larisa menahan sakit dan perih di wajahnya ketika menggunakan alas bedak, hari ini dia benar-benar harus mengunakan make up yang lebih tebak untuk menyembunyikan luka lebam di sekitar bibirnya. Sadar sudah tidak bisa melakukan hal di luar perintah, Larisa hanya bisa menggunakan seluruh kemampuan yang ia miliki demi untuk menyelematkan hidupnya. Nanti ketika dia sudah bisa menyelesaikan tugas degan baik, barulah dia benar-benar akan mencoba segala cara agar terbebas dari Arthur. Ah, sepertinya James juga bisa melindunginya dari Arthur. Toh selama ini Arthur hanya bertindak diam-diam dengan menyuap semua yang bekerja untuk James dan masih belum berani terang-terangan dalam melawan James.


Hari ini Larisa sudah menggunakan pakaian yang lebih terbuka dari kemarin, dia juga sudah berpenampilan jauh lebih menarik dari kemarin, itu juga hanyalah menurutnya saja. Setelah yakin benar semua beres, Larisa segera keluar dari apartemennya. Dia sengaja menggunakan taksi untuk pulang pergi demi menghindari kecurigaan James padanya. Yah, padahal dia punya dua mobil yang terbilang cukup mahal.


Begitu sampai di kantor, Larisa dengan sengaja memasukkan photo cincin dan beberapa photo lain agar suatu saat nanti Anne akan mencurigainya dan hubungan mereka akan semakin memburuk.


Setelah itu dia hanya tinggal menunggu saja James datang dan melakukan beberapa trik untuk membuat Anne mencurigai James.


" Selamat pagi, Tuan? " Sapa Larisa begitu James masuk ke dalam ruangannya. Sangat menyebalkan!, itulah yang di rasakan Larisa begitu melihat wajah semangat James yang tidak seperti sebelumnya. Entah mengapa dia yakin benar jika Anne adalah orang yang membuat James terlihat bahagia seperti ini. Sungguh tidak bisa di percaya semua informasi yang Arthur berikan padanya. Padahal Arthur mengatakan jika James memiliki kekasih gelap yang tak lain adalah kakak iparnya sendiri yang juga sudah memiliki seorang suami.


James hanya sedikit menunduk untuk menjawab sapaan dari Larisa. Hari ini dia sudah mendapatkan banyak informasi tentang Larisa, termasuk dengan siapa semalam Larisa bertemu walau tak memiliki bukti valid, tapi Larisa ternyata pernah tertangkap kamera bersama dengan Arthur beberapa waktu lalu saat menghadiri sebuah acara peresmian sebuah gedung perhotelan. Tentu itu adalah salah satu bukti yang menguatkan dugaannya, dan setidaknya dia sudah tahu untuk siapa Larisa bekerja, dan tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menendangnya keluar setelah dia mendapatkan bukti keterlibatan Arthur agar bisa menjerat Arthur dengan hukum.


Untuk memulai aksinya, Larisa segera menuju pantry untuk membuat teh hijau dan memberikannya kepada James. Seperti biasanya, Larisa akan mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk, lalu dengan langkah kaki biasa dia melaju mendekati James yang sedang fokus dengan pekerjaannya.


" Tuan, ini teh- Ah! " Larisa dengan sengaja membuat kakinya tidak seimbang dan menjatuhkan tubuhnya ke pangkuan James membuat pria itu mendelik kaget juga kesal. Dia tidak menyangka kalau Larisa bahkan akan menggunakan cara murahan seperti kebanyakan wanita lainnya. Tak hanya jatuh di pangkuan James, tapi bibir Larisa menempel di pundaknya entah apa maksudnya.


" Bangkitlah atau aku tidak akan segan-segan dalam bersikap kasar padamu. "


Karena sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, Larisa tentu saja segera bangkit dari posisinya, dia memasang wajah takut dan bersalah penuh penyesalan tentang apa yang terjadi barusan.


" Maaf, Tuan. Barusan aku kehilangan keseimbangan dan jatuh, aku sungguh tidak sengaja melakukannya. "


***


Angel kini tengah berada di rumah kedua orang tuanya setelah pagi tadi kedua orang tuanya menghubungi dan meminta Angel untuk datang kerumahnya karena ada hal yang ingin di bicarakan. Untung saja Gerry tidak pulang kerumah jadi dia bisa bebas keluar dari rumah dan sebentar meninggalkan ruangan penuh kenangan menyesakkan itu.


" Kita masuk dan bicara ya? " Ajak Ayah Bien dengan wajah serius membuat Angel mengeryit bingung, tentu saja karena mimik seperti itu tidak pernah di tunjukan kepada Angel juga Anne sebelumnya, jadi kenapa Ayahnya memberikan mimik dingin seperti itu kepadanya? Batin Angel bertanya-tanya di dalam hati.


" Ada apa, Ayah dan Ibu? " Tanya Angel menatap kedua orang tuanya bergantian dengan tatapan penuh tanya.


Ayah Bien terdiam sesaat sebelum berbicara, sementara Ibu memilih untuk diam saja karena ini harus di mulai dari suaminya terlebih dulu.


" Angel, kami sudah dengar apa yang terjadi antara kau, Anne dan juga James beberapa waktu lalu. Ayah kira tidak separah itu sehingga Ayah masih mencoba untuk mengerti kalau itu adalah proses untuk kalian menyesuaikan diri, tapi ternyata keadaannya cukup parah. Kau tahu kan kalau James sudah menjadi suami adikmu sendiri? Terjadi pernikahanmu dengan Gerry juga kau yang tahu benar alasannya, tolong berhentilah memikirkan apa yang seharusnya tidak mau pikirkan karena itu pasti akan merugikan dirimu sendiri. "


Angel mencengkram kain dress yang ia gunakan, dia benar-benar tidak menyangka kalau Anne akan menceritakan ini kepada Ayahnya, dan tiba-tiba dia merasa yakin benar jika Anne pasti melebih-lebihkan situasinya sehingga orangtuanya menegur seperti ini.


" Ayah, kenapa Ayah dan Ibu selalu mengutamakan Anne di banding aku? Apa karena Anne penyakitan? Apa karena aku jauh lebih sehat aku bisa di nomor duakan? "


Ibu melotot kaget, jelas lah dia tidak setuju dengan apa yang di katakan Angel. Jelas dia dan juga suaminya sudah berusaha sebaik mungkin membesarkan Angel dan Anne dengan cinta yang sama meski tidak mengelak jika waktu mereka memang lebih banyak di habiskan untuk bersama Anne yang sakit-sakitan sedari kecil.


" Kau akan tahu jawabannya ketika kau menjadi orang tua dari anakmu sendiri. Anne, dia adalah adikmu yang lahir dengan imun yang buruk. Kami memang memberikan waktu lebih banyak untuk Anne, bukan berarti kami menomor duakanmu. Kapan Ayah pernah menolak permintaanmu? Kau pernah meminta Ayah untuk tinggal bersamamu di saat adikmu kritis dengan alasan kau mimpi buruk terus kan? Apa kau pikir kau di nomor duakan dengan semua cinta kasih yang kami berikan? Kalau memang kau merasa seperti itu, kami meminta maaf setulus hati. " Ibu menatap Angel dengan tatapan kecewa hingga tidak tahan untuk meneteskan air mata kesedihannya.


" Angel, gagalnya menikah dengan James kau tahu itu bukan salah kami kan? Orang tua James dan kami sudah berjanji untuk menikahkan anak kami agar hubungan kami semakin erat, dan kau juga paham bahwa tidak mungkin kami menikahkanmu yang sedang hamil anak pria lain dengan James kan? "


Angel mulai menangis, dia tahu semua itu benar hingga tidak tahu harus menjawab apa.


" Lupakan James, fokuslah dengan hidupmu bersama dengan Gerry. Kami tahu kau menyayangi adikmu sangat kan? Jangan mengelak dan terus menyalahkan semua ini yang tidak sesuai dengan apa yang kau inginkan. Berdamailah, Angel. Lihatlah sekitarmu, percayalah kau bisa bahagia tanpa adanya James di hidupmu. "


Bersambung.