
" Aku akan pulang kerumah, tapi maaf karena aku akan pulang kerumah orang tuaku, dan bukan rumah kita, kak James. " Gumam Anne ketika dia sedang berada di dalam perjalanan dengan taksi yang dia pesan dari depan rumah Ibu mertuanya.
Mungkin untuk sebagian istri lainnya, mereka akan memilih bertahan dengan kondisi ini selama suaminya masih menginginkan dan mempertahankannya, tapi bagiamana bisa seperti itu jika yang di lihat Anne adalah pertengkaran hebat sebuah keluarga sampai ada yang sakit, dan semua itu adalah karena dia. Jujur saja Anne tidak ingin menyalahkan Ibu mertuanya, dia juga tidak menyalahkan Tuhan dengan kondisinya karena bagaimanapun dia bisa hidup hingga sekarang ini sudah membuat orang tuanya merasa bahagia.
" Tidak apa-apa, Anne. Pilihanmu adalah yang terbaik, setidaknya kau bisa perlahan-lahan melupakan James, asalkan dia dan Ibunya bahagia kau pasti akan bahagia kan? " Anne berucap pelan kepada dirinya sendiri, sok tegar, tapi pada akhirnya dia tetap menangis tanpa suara.
Begitu sampai di rumah yang di tinggali bersama James, Anne dengan segera masuk ke dalam kamar. Sebentar dia menatap isi kamar itu dan mengingat semua momen bahagia bersama dengan James. Pelukan hangat dari James pasti dia akan merindukannya, tapi sekarang dia harus merelakan semua itu menjauh darinya demi kebahagiaan keluarga suami tercintanya.
Anne membuang nafasnya, dia kini menatap jemari tangannya, lalu dengan berat hati melepaskan cincin yang melingkar di jarinya. Padahal James sudah .diminta untuk tetap kuat dan lebih bersabar lagi, tapi siapa sangka kalau dia bahkan akan menyerah secepat itu? Tidak, ini bukan soal menyerahnya, tapi ini soal perasaan bersalah yang begitu besar hingga menyudutkannya dan membuatnya tak memiliki pilihan lain selain mundur dan mencoba bahagia dengan cara yang lain.
" Kak, maaf karena mengingkari janjiku. Aku tahu kau pasti merasa tidak enak untuk mengungkapkan bagaimana perasaan penatmu terhadap masalah dan situasi sekarang ini, tapi aku bisa merasakan bagaimana kau juga menderita kak. Yang di larang mengandung adalah aku, yang memiliki tubuh lemah adalah aku, tapi kenapa kalian semua bersedih karena aku? Sudah waktunya semua kembali seperti seharusnya, kak James, Ibu dan Ayah mertua pantas mendapatkan semua kebahagiaan setelah kalian mengalami ketidakadilan dan kesedihan, aku pamit pergi, kak. Hiduplah dengan baik, jaga Ayah dan Ibu mertua dengan baik ya? " Anne mengusap wajah James pada photo pernikahan mereka yang masih menggantung di dinding kamar mereka. Bibirnya tersenyum, dan air matanya terus jatuh bercucuran tak tahu sudah berapa banyak.
Anne melihat ke arah meja, lalu dia berjalan menuju arahnya, mengeluarkan selembar kertas dan menuliskan sesuatu sebagai pesan terakhir sebelum dia keluar dari rumah itu. Dengan air mata yang masih berjatuhan Anne menuliskan semua yang ingin dia sampaikan kepada James, tak lupa dia juga mengatakan betapa beruntungnya dia memiliki kesempatan menjadi seorang istri dari James, dia juga meminta kepada James agar selalu mendengarkan keinginan Ibunya, dan menjaganya baik-baik, buatlah Ibu dan Ayahnya bahagia selalu.
Beberapa saat kemudian, Anne keluar dari rumah tanpa di ketahui Ibu Nori karena dia sedang menjemur pakaian di atap rumah. Baguslah, biar bagaimanapun Ibu Nori adalah orang baik dan cukup dekat dengannya, sangat sulit untuk berpamitan karena dia pasti akan terus menangis nantinya.
Tadinya Anne ingin langsung kembali ke rumah orang tuanya, tapi karena telepon dari Angel begitu banyak sedari tadi, Anne memutuskan untuk menunda niatnya dan menerima panggilan telepon dari Angel dulu.
" Kak? "
Kau dimana? kenapa tidak membalas pesan-pesan dariku? Kau masih marah, hah? Kalaupun kau sih marah seharusnya temui saja aku dan memaki!
Anne menutup mulutnya menggunakan telapak tangan. Kakaknya sudah kembali, Angel si cerewet dan perhatian sudah kembali, batin Anne.
Kenapa kau diam? Kau benar-benar masih marah? Oke, oke aku janji tidak akan mengambil priamu itu lagi, sekarang katakan kau ada di mana ada hal yang harus aku bicarakan denganmu.
Anne kembali menangis sesegukan.
" Kak....... "
Hening sebentar.
Kau dimana?
Beberapa saat kemudian.
Sebuah mobil terhenti tepat di hadapan Anne, lalu keluarlah seorang wanita yang tak lain adalah Angel. Sebentar dia membeku melihat bagaimana wajah Anne yang terlihat begitu kacau, lalu dengan segera dia berlari memeluk Anne dan membuat Anne kembali menumpahkan air matanya di pelukan Angel.
" Anne, kau benar-benar yakin dengan keputusanmu ini? " Tanya Angel dan langsung di angguki oleh Anne sembari menyeka air matanya.
" Ayah dan Ibu tentu saja akan mendukung semua keputusan yang sudah kau buat ini, tapi yang tidak bisa mereka terima adalah kesedihanmu ini. "
" Aku juga inginnya tidak menangis kak, tapi air mata sialan ini sulit sekali untuk di tahan, aku juga sulit mengendalikan diri untuk tidak menangis. " Ucap Anne masih terisak-isak.
" Jadi ke mana kau akan pergi setelah ini? Kau akan kembali ke rumah ayah dan ibu? "
" Iya kak. "
Angel mengangguk paham, memang kembali ke rumah orang tua adalah salah satu hal paling benar. Memang ini juga akan melukai perasaan orang tua mereka, tapi percayalah pelukan Ayah dan Ibu mereka akan mengurangi rasa kasih juga kesedihan anak-anaknya.
" Ya sudah, kakak antar ke rumah Ayah dan Ibu ya? Sekarang atau mau istirahat di sini dulu? "
" Sekarang saja kak. "
Satu jam telah berlalu, sekarang Angel dan Anne sudah sampai di rumah kedua orang tuanya. Hanya ada Ibunya saja, karena sang Ayah sedang pergi bekerja.
" Anne, Angel? Kalian kok tumben datang ke rumah bersamaan? Kalian sudah janjian dulu ya? " Sambut Ibu mereka dengan mimik bahagia melihat kedua putrinya kembali akur seperti dulu.
Anne tak tersenyum seperti biasanya, wajah ya nampak begitu sedih, Angel juga terlihat tidak baik membuat Ibu mereka mengeryit menatap dengan tatapan bingung.
" Ada apa? Kenapa kalian memperlihatkan wajah seperti itu? "
Anne berlari memeluk Ibunya lalu menceritakan semua yang terjadi, di bantu Angel karena suara Anne terputus-putus saat tersendat ketika dia menangis.
" Seharusnya mereka bicarakan ini dengan kami para orang tua kan? " Ibu mereka nampak sedih, kecewa, dan marah.
" Sudahlah Bu, Fokus saja kepada Anne sekarang ini. Ini pasti sangat berat untuknya. " Ucap Angel yang sebenernya tidak ingin Ibunya jadi banyak pikiran dan sakit nantinya.
" Iya, sekarang kau telepon Ayahmu, minta dia untuk segera pulang ke rumah ya? "
" Iya. " Jawab Angel dengan segera.
Bersambung.