Perfect Marriage!

Perfect Marriage!
BAB 97 : Gundah Bersamaan



Gerry terdiam setelah amukan dari Ayahnya Angel beberapa saat lalu pecah tak bisa dia tahan. Sekarang dia hanya tinggal merenungi semua yang terjadi dan terus menyalahkan dirinya sendiri, Angel di bawa paksa oleh orang tuanya setelah semua perbuatannya kepada Angel d ketahui oleh orang tuanya. Tentu saja dia sudah memohon bahkan sampai berlutut untuk jangan membawa Angel dan membiarkan dia menebus semua kesalahan dan juga memperbaiki hubungannya dengan Angel. Tapi kemarahan orang tua Angel terutama Ayahnya benar-benar membludak tak bisa di tahan sebentar saja.


Ruang tamu yang beberapa saat lalu ramai karena kemarahan orang tua Angel kini menjadi sangat kosong dan sepi. Guci bunga di ujung ruangan juga pecah karena tinjuan dari Ayahnya Angel, sungguh tidak bisa Gerry pahami semua ini karena terjadi begitu tiba-tiba.


" Aku menitipkan putriku untuk kau jaga dengan baik, biarpun dia melakukan kesalahan seharusnya kau biarkan kami menasehati. Kau hanya menikahi putriku dan sudah langsung berpikir bahwa hidup putriku adalah milikmu, kau sesuka hati menghukumnya, menyakitinya tanpa perduli bahwa Angel di lahirkan dengan susah payah penuh perjuangan. Dia di besarkan dengan baik, di didik dengan sebaik mungkin, kau bertemu dengan Angel saat dia sudah dewasa dan bisa berpikir, tapi kau memperlakukan dia seolah dia adalah sesuatu yang ada karena dirimu dan milikmu seutuhnya entah itu tubuh ataupun nyawanya. "


Seperti itulah kalimat yang keluar dari Ibunya Angel sembari menyeka air matanya. Ucapan Ayahnya Angel tentu saja juga terngiang di kepalanya, brengsek, bajingan, pengecut, tidak punya hati, otak, tidak memiliki empati, tidak layak menjadi suami dari putrinya, masih banyak cercaan lain hah Gerry dapatkan hari ini dari mertua laki-lakinya itu.


" Mulai dari mana ini? Bagaimana aku bisa memperbaiki situasi yang kacau ini? " Gumam Gerry lalu mengusap wajahnya dengan kasa dan frustasi.


Keadaan tidak baik juga di rasakan Meta setelah Anne mengatahui apa yang dia lakukan kepada kakaknya. Iya, awalnya Anne terkejut bukan main melihat Meta berada di sana, lalu saat Ayah Bien menanyakan bagiamana bisa ada video seperti itu yah tersebar, Gerry menceritakan segalanya tanpa ada yang ditutup-tutupi.


Meta, gadis itu kini hanya bisa terdiam di kamar apartemen yang baru saja semalam ini dia tempati. Sungguh dia pikir semuanya akan berjalan sesuai rencana, dia bisa menggunakan tangan Gerry untuk menghukum sepupu dan juga Bibinya yang sudah menyiksanya selama ini, dia bisa menyingkirkan Angel setelah video itu tersebar, lalu mendapatkan simpati dari Gerry dan perlahan akan berubah menjadi perasaan nyaman dan cinta. Gila, begitu inda khayalannya hingga kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan itu membuatnya begitu kesakitan dan merasa tidak bisa menerimanya dengan rela.


Anne, satu-satunya sahabat yang selama ini selalu dia dukung dan selalu mendukungnya juga malah menunjukan kemarahan yang begitu jelas dari tatapan matanya tadi.


" Sejak kapan kau memiliki sifat seperti itu? "


Pertanyaan itu tentu saja membuat Meta langsung berpikir mungkinkah maksud Anne adalah, sejak kapan kau memiliki sikap wanita rendahan seperti itu? Meskipun masih ingin mengelak nya, nyatanya sorot mata Anne sudah menunjukan semua itu memang benar adanya.


" Sekarang harus bagaimana ini? Tentu saja aku tidak mungkin bisa kembali ke perusahaan Tuan Gerry, aku juga sudah tidak bisa meminta bantuan Anne lagi, tapi aku sudah dengan angkuhnya mengatakan kepada Bibi dan sepupu bahwa aku tidak akan menginjak rumah sialan itu lagi. "


Hari demi hari terlewati, Angel yang beberapa waktu terakhir ini tinggal di rumah orang tuanya bersama Anne hanya banyak terdiam di dalam kamar dan terus melamun memikirkan semua yang terjadi kepadanya. Semenjak hari dimana video itu tersebar, dia benar-benar masih sangat shock dan terlihat stres.


Anne juga sama, dia tidak bisa berpura-pura lagi terlihat baik saat dia mengingat betapa terkejutnya James saat Anne menamparnya tempo hari. Memang benar James menjadi seperti yang dia inginkan yaitu, tidak terus berada di luar gerbang untuk mengintainya, berhenti mengirimkan pesan padanya seolah tamparan itu adalah hal yang membuatnya sadar jika tidak perlu berjuang lagi untuk hubungan pernikahan mereka.


Nyatanya, James benar-benar berbanding terbalik dengan apa yang di sangka Anne. Dia bukan tidak ingin lagi menemui Anne, tapi dia tengah frustasi dan terus menyalahkan diri sendiri karena apa yang dia lakukan waktu itu benar-benar seperti seorang bajingan. James pikir Anne pasti sudah sangat muak dan membencinya, tamparan itu adalah bukti sekaligus peringatan untuk James agar tidak melakukan hal yang seharusnya tidak dia lakukan, terutama mengejarnya seperti itu.


" Aku benar-benar sudah akan gila, Anne. Aku salah karena menggunakan waktuku untuk melakukan kebodohan itu, padahal sejatinya aku mengatakan tentang perasaanku padamu, harusnya aku memelukmu memberikan kenyamanan dan ketenangan di saat kau sedang dalam masalah, tapi aku malah langsung menginginkan tubuhmu dan melampiaskan perasaan rindu yang tertahan selama ini begitu menyesakkan. " Gumam James sembari meletakkan sebotol anggur yang dia habiskan seorang diri di kamarnya berharap anggur itu dapat menghilangkan stres yang beberapa hari ini begitu terasa berkali lipat berat dari sebelumnya.


Baru saja dia akan bangkit dan menuju tempat tidurnya sembari menghirup aroma tubuh Anne yang tertinggal di baju terakhir yang di gunakan Anne, dering ponsel membuatnya terpaksa menerima panggilan telepon itu.


James, tolong jemput Ibu ya? Sekarang Ibu sedang bertemu teman Ibu di restauran yang tidak jauh dari rumahmu.


" Aku pusing, naik taksi saja. "


Tidak bisa, kau tahu kan kalau Ibu itu treasure issue nya hampir parah?


" Bu, aku benar-benar pusing. Aku minum banyak jadi aku tidak bisa menjemput Ibu demi keselamatan kita bersama. "


Naik taksi saja, James. Yang penting ada kau di samping Ibu, semua akan baik-baik saja dan Ibu bisa tenang. Nanti kita pulang pakai taksi bersama.


James memutuskan sambungan teleponnya, kali ini saja, ini terakhir kalinya dia tidak tegas dengan Ibunya.


Dengan langkah gontai James berjalan untuk keluar dari rumah dan menunggu taksi yang biasanya juga akan sering lewat di depan rumahnya. Benar saja, tidak lama James berada di sana dia sudah mendapatkan taksi dan bisa langsung menuju ke restauran yang di sebutkan tadi.


Sesampainya di sana, James hanya bisa membeku dengan dahi mengeryit melihat Ibunya yang ternyata duduk bersebrangan dengan seorang wanita muda.


" James, kau sudah datang? Ayo duduk dulu, dan kenalkan, ini putrinya teman Ibu. "


James terdiam tak berekspresi meksipun gadis itu terus tersenyum ke arahnya.


" James? Ayo kenalan dulu. "


James menyambut sodoran tangan dari gadis itu.


" Aku Sandrina. " Ucapnya dengan suara lembut.


James tidak menjawab atau memperkenalkan diri.


" James, duduk disini temani Sandrina dulu ya? Ibu ingin pergi ke toilet. "


Bersambung.