
Larisa terdiam dengan tatapan kosong setelah meeting selesai. Iya, dia amat terkejut karena mengetahui jika dokumen yang dia baca sebelumnya bukanlah dokumen yang akan digunakan untuk bahan meeting bersama calon investor yang kini sudah menyetujui untuk menjalankan proyek bersama dengan perusahaan James dan Ayahnya.
James jelas bisa melihat mimik wajah Larisa yang tidak biasa, jadi dia benar-benar yakin benar jika Larisa memiliki niat yang tidak baik tentunya. Sekarang James bisa mendapatkan satu investor yang berani memberikan begitu banyak dana, tapi bahkan mungkin saja Larisa akan membuat usahanya hancur, atau merusak pekerjaannya. Untuk sehari ini cukup James diam saja dulu, nanti perlahan baru dia akan mencari tahu perlahan siapa orang yang menyodorkan Larisa kepadanya, dan apa tujuan detailnya.
James melihat jam tangan di tangannya, sudah lewat jam makan siang, tapi perut ya belum juga merasa lapar. Sebentar James melihat ke jendela mobil, sepertinya juga masih membutuhkan lumayan lama untuk sampai di kantor jadi dia memutuskan untuk menghubungi Anne saja sembari mengusir suntuk.
Dua panggilan tak mendapatkan jawaban membuat James kembali berpikir kalau Anne pasti akan mulai menjauhinya lagi. Padahal dia kira hubungannya sudah membaik, ternyata masih begini juga? Sekali lagi James mencoba untuk menghubungi Anne melalui panggilan video, dan ternyata Anne menerima panggilan video itu. Yah, padahal niatnya James ini panggilan terakhir sebelum dia sampai di kantor.
Kak?
James tersenyum, dia benar-benar bahagia melihat wajah Anne di layar ponselnya.
" Kau sedang melakukan apa? "
Tidak ada, aku baru saja selesai makan siang. Kak James sudah makan siang?
" Belum, nanti saja kalau sudah sampai di kantor. "
Bagaimana dengan pekerjaan kak James hari ini?
" Semuanya lancar, ini pasti berkat istriku kan? "
" Aku tidak ikut serta bekerja kan? "
" Ini karena suntikan semangat dan keberuntungan yang kau berikan padaku. "
Anne tampan merona malu dan mengarahkan kamera ponsel ke arah yang lain.
" Anne.... "
Iya?
" Kau masih ingin tinggal di rumah orang tuamu? Aku kesepian kalau sendirian di apartemen. Oh iya, rumah untuk kita sudah siap, jadi nanti kita tidak perlu tinggal di apartemen itu lagi. "
Setelah itu Anne dan James membicarakan banyak hal entah apa itu Larisa tidak mau mendengarkannya. Dia sadar benar jika terlalu dini untuk menyukai James, tali mana lagi kalau perasaan itu tumbuh begitu cepat sehingga dia merasa cemburu dan marah saat James menghubungi seorang wanita yang sepertinya adalah istrinya. Di dalam hati dia menggerutu apakah karena wanita itu anak pengusaha yang cukup kaya sehingga James nampak begitu menyayanginya? Jelas dia sudah mencari tahu semua tentang James, dia juga tahu dengan siapa James menikah, bahkan cerita tentang hubungannya dan kakak iparnya juga ia tahu. Tapi sialnya sikap jual mahal James benar-benar membuatnya semakin penasaran dan jadi ingin tahu banyak tentang James yang pada akhirnya perasaan suka juga kagum membuatnya terus jatuh hati kepada James.
Melihat lagi James yang masih saja asyik mengidap istrinya, Larisa mengambil kesempatan saat mobil yang dikendarai mereka melintasi polisi tidur.
" Ah! " Pekiknya sembari merobohkan tubuhnya di samping James membuat Anne bisa melihat adanya wanita lain di dekat James.
Kak, itu siapa?
" Sekretaris baru, sekretaris yang lama mengundurkan diri jadi diganti. Ada apa? "
James tersenyum tipis, mungkinkah Anne cemburu?
" Iya wanita kan memang semuanya cantik, tapi aku kan hanya bisa punya satu istri saja, iya kan? "
Larisa mengepalkan tangannya, benar-benar sangat sulit di dekati, batin Larisa kesal sendiri.
***
Gerry membaca dokumen yang berasal dari perusahaan dimana James dan Ayahnya menjalankannya. Sungguh dia tidak menyangka kalau James dan Ayahnya yang terkenal tidak memiliki kemampuan nyatanya mampu memikirkan proyek yang lumayan bagus, jika di prediksikan juga akan memberikan untung yang lumayan besar untuknya.
" Apa dia menjadi pandai karena aku pukul waktu itu ya? " Gumam Gerry sembari tersenyum mengejek di dalam hati. Sebenarnya dia benar-benar kesal, dan juga ingin membalas perbuatan James yang telah mengkhianatinya sebagai suami dari kakak iparnya, tapi melihat Anne dia tidak tega, terlebih proyek yang akan di jalankan beberapa waktu kedepan jelas akan mendatangkan untung yang lumayan besar dia tentu saja tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas itu.
" Tuan, jam makan siang sudah hampir lewat, bagiamana kalau saya kenakan makanan untuk Tuan? "
Gerry menatap Meta yang kini berdiri cukup jauh darinya, dia menunduk hormat tak berani menatap langsung wajahnya entah dimanapun dan kapanpun.
" Oke, jangan makanan yang mengandung banyak minyak, aku tidak terlalu menyukainya. "
" Baik. "
Beberapa saat kemudian, Meta masuk kembali kedalam ruangan Gerry setelah mengetuknya beberapa kali untuk meminta izin dari Gerry agar dia bisa masuk.
" Tuan, ini makan siang anda, ikan bakar dan juga sup ayam tanpa minyak. " Meta dengan hati-hati meletakkan makanan itu di meja ujung ruangan yang biasa digunakan Gerry untuk makan, atau bertemu dengan tamunya. Gerry segera beranjak untuk menuju ke tempat itu, dia duduk tepat di hadapan makanan yang di siapkan oleh Meta.
" Tuan, ini jus alpukatnya tidak apa-apa kan tutupnya agak terbuka? Sepertinya si penjual kurang pas menutupnya tadi. "
" Iya. " Jawab Gerry singkat.
Dengan segera Meta meraih jus alpukat itu berniat meletakan di sebelah makan siang milik Gerry. Sial! Kakinya tiba-tiba keseleo padahal dia hanya satu kali saja melangkah untuk dia semakin dekat dengan meja.
" Ah! " Meta membulatkan matanya melihat wajah Gerry yang begitu dekat dengannya. Dia yang reflek ingin terjatuh tanpa sadar berpegangan pada Gerry yang sedang duduk untuk makan siang, sialnya jus alpukat itu juga tumpah mengotori pakaian yang di kenakan Gerry bahkan juga pakaiannya.
" Ma maaf, Tuan! " Segera Meta bangkit dari posisinya, dia melihat betapa fatalnya kesalahan kali ini. Apalagi saat tidak sengaja melihat wajah Gerry yang nampak sekali dingin seperti sangat marah hingga tidak ingin mengatakan apapun membuatnya menjadi gemetaran karena perasaan takut yang luar biasa.
" Ma maafkan saya, Tuan. Maaf, saya tidak sengaja. " Meta memaksakan diri untuk berani meraih beberapa lembar tisu. Dengan tangan yang gemetar dia mencoba meraih jas yang di gunakan Gerry dan perlahan membersihkan jus alpukat yang menempel di sana.
Gerry, pria itu benar-benar sangat marah sebenarnya, dia juga sudah mengeraskan rahangnya ingin sekali memukul Meta kalau saja dia bukan wanita. Tapi melihat tubuh Meta yang gemetaran, wajahnya memerah menahan tangis, dia menjadi tidak tega dan memilih untuk diam saja berharap amarahnya perlahan-lahan menghilang.
Bersambung.