Perfect Marriage!

Perfect Marriage!
BAB 50 : Perubahan Secara Perlahan



" Bajingan! Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku?! Kau kenapa mempermalukan ku seolah aku ini adalah pemuasmu saja?! " Angel berteriak marah, dia tak kuasa menahan tangis saat lagi-lagi Gerry mempertontonkan rekaman video yang dia rekam sendiri ketika Angel berada dalam kendali obat. Jelas dia bisa mengingat semua yang dia lakukan saat sedang berada di bawah pengaruh obat itu, tapi karena gairahnya begitu memuncak tak terkendali dia sama sekali tidak menyadari bahwa lagi-lagi Gerry merekam aksinya dan mempermalukannya setiap bangun pagi.


" Mulutmu sangat fasih sekali ketika mengatai ku bajingan ya? Kau ini mau dihukum lebih parah dari ini atau bagaimana? " Gerry tersenyum miring, pria itu benar-benar tidak terlihat merasa bersalah atau menyesak sedikit saja membuat Angel begitu ingin memukul wajahnya.


Lagi, dia benar-benar tidak pernah berhasil untuk memukul wajah Gerry, dan malah pria itu menjadi menatapnya dingin seperti sedang merencanakan apa lagi selanjutnya hukuman yang bisa dia lakukan untuk Angel.


" Aku benar-benar penasaran bagaimana ya kalau James melihat video ini? Haha.... Benar-benar luar biasa, selama kalian menjalin hubungan dia begitu menjagamu dengan baik tak menyentuhmu dengan berlebihan. Tapi kau? Kau melakukan banyak hal gila bersamaku, lalu berani-beraninya mengatakan kepada semua orang bahwa kita melewati satu malam dengan mabuk, lalu hamil. Cih! Mengingat aku harus mengiyakan aku benar-benar merasa malu sendiri. "


Angel mengerakkan tangannya untuk mengepal, iya dia salah! Itu adalah kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan. Dulu dia begitu serampangan dengan melihat dan menilai Gerry adalah pria yang sempurna di kala dia merasa bosan dengan hubungannya yang begitu saja bersama James, bahkan tak ada satupun gangguan. Akhirnya dia coba untuk dekat dengan Gerry karena mereka juga kenal melalui hubungan kerja sama antar perusahaan mereka semakin dekat dari waktu ke waktu.


Siapa sangka niat untuk menghilangkan kejenuhan itu malah menjadikan hatinya berubah, dia menyukai Gerry lebih dari yang dia pikirkan. Hingga Kesalahan itu terjadi beberapa kali, dan Angel hamil. Kalau dia mengakui yang sesungguhnya tentulah Ayahnya akan marah dan kecewa padanya. Dia yang tidak sanggup membayangkan betapa menakutkannya melihat Ayahnya kecewa akhirnya memilih berbohong. Tapi sekarang, dia bahkan sudah tak merasakan sedikitpun rasa suka kepada Gerry setelah beberapa waktu menikahi Gerry.


Kebiasaan Gerry, entah apapun semua seperti semakin mengikis rasa sukanya dan berubah menjadi rasa benci dan menjadi menyesal telah mengkhianati James, sekarang justru James yang dia anggap jauh lebih unggul di banding Gerry meski James tak sehebat Gerry dalam berbisnis, yang juga tak sekaya Gerry.


" Angel, jangan lupa kalau aku adalah pria yang ambisius, kau tahu benar aku tidak akan menyerah sebelum aku mendapatkan apa yang aku inginkan bukan? "


" Bermimpi lah saja, aku tidak akan menjadi milikmu lagi! "


'' Hahaha...... "


Gerry bangkit dari posisinya, benar-benar dia tidak bisa menahan tawa membuat Angel kebingungan tapi juga tak menghilangkan tatapan marahnya.


Bukan kau yang ingin aku miliki, kau terlalu menganggap tinggi dirimu, Angel. Kau terlalu percaya diri hanya karena kau lahir di keluarga yang lumayan berada, dan juga cantik. Tapi kau tidak menyadari jika banyak wanita yang jauh lebih cantik dibanding dirimu, dan memiliki kelebihan yang jauh dibanding dirimu. Kau terlalu menganggap dirimu sempurna hingga menuntut kesempurnaan dari orang lain, akan aku lihat bagaimana akhirnya jalan yang akan kau tempuh nanti.


***


James bangkit dari tidurnya dengan wajah lesu, semalaman dia tidak bisa tidur karena menunggu pesan dari Anne, dan sampai sekarang pun Anne masih belum membalas pesan darinya. Untungnya Ibu mertuanya membalas pesan dari James dan mengatakan jika Anne baik-baik saja seharian kemarin, kalau tidak pasti selama James akan datang kesana tidak perduli Anne mau menemuinya atau tidak.


Begitu sampai di kantor, James kembali menyusun rencana baru bersamaan dengan para staf di kantornya dengan maksimal. Memang membutuhkan waktu yang cukup lama, tapi dari sana mereka saling bertukar pendapat lalu mempertimbangkan baik-baik sehingga langkah yang akan mereka ambil tidak akan merugikan perusahaan mereka.


Selesai rapat James kembali ke ruangan, baru akan duduk tapi ponselnya berdering. Sempat sih dia berharap kalau yang menghubunginya itu adalah Anne, tapi sial sekali karena ternyata itu adalah telepon dari rumah kakeknya.


" Kenapa? " Sebentar James terdiam mendengarkan suara dari ponselnya. Tak lama James mengakhiri sambungan teleponnya karena sudah tahu apa yang di bicarakan orang tadi. Rupanya kakeknya sakit beberapa waktu lalu dan di rawat di negara tetangga, dan pagi tadi kakeknya sudah di bawa lagi pulang ke rumah dalam keadaan yang sudah membaik. James diminta untuk datang mengunjungi, tentulah James tahu kalau datang kesana sama saja menyerahkan diri untuk menjadi bahan celaan dan rendahkan seperti biasanya. Tapi kalau tidak datang juga dia akan di teror dan dikatai tak punya nyali untuk menemui kakeknya. Yah, anggap saja ini adalah ujian mental, jadi pada akhirnya James memutuskan untuk datang kesana.


Sebelum berangkat ke rumah kakeknya, James yang melihat toko bunga di pinggir jalan segera dia menepikan mobil, parkir untuk membeli sebuket bunga mawar putih. Setelah mengendus harumnya yang semerbak akhirnya James meminta pelayan toko untuk mengantarkan kepada Anne. James juga menulis kartu ucapan sendiri untuk Anne.


Aku merindukanmu, bagaimana denganmu? Jaga kesehatan ya, jangan lupa untuk membalas pesan dariku agar aku bisa tenang.


Setelah itu James melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah kakeknya. Sesampainya disana, rupanya James sudah di sambut oleh pamannya, juga anak menantu dari pamannya James.


" Akhirnya kau datang juga ya? Padahal kakek sakit sudah dari jauh hari, tapi kau baru saja datang apa kau sangat sibuk? "


James terdiam, sungguh dia heran dengan manusia yang begitu jelas menunjukan kedua wajahnya yang bertolak belakang di hadapan manusia lain. Bertanya dengan wajah ramah, tapi kalimat yang di ucapkan begitu menyakiti hati.


" Kau apa sangat tidak punya waktu? " Tanya kakek begitu melihat James datang.


Kali ini James tidak akan menunjukan perasaan takutnya sedikitpun kepada kakek atau siapapun yang berada di sana.


" Aku punya banyak waktu, tapi aku tidak merasa jika menghabiskan waktu bersama kalian adalah ide yang bagus. "


Bersambung.