Perfect Marriage!

Perfect Marriage!
BAB 25 : Merasa Lelah



Anne terdiam melihat betapa dekatnya James dan Angel, mereka benar-benar terus tertawa satu sama lain dengan saling melempar candaan. Gerry sepertinya juga tidak terlalu menyukai James, tapi mengingat bahwa mereka sudah dekat sedari kecil, Gerry seperti sedang menahan diri, dan tidak terlalu memperlihatkannya.


Semua ini jelas sudah berada di bayangan Anne sebelum dia berangkat bersama James tadi. Lelah, dia benar-benar lelah harus terus mengerti meski keinginan untuk menyerah masih belum ia rasakan. Memang benar apa yang dikatakan banyak orang, pria semakin di kejar dia malah akan semakin menjauh. Jadi, hati ini, detik ini juga Anne akan bersikap seolah dia tidak mencintai James, dia akan bersikap seperti biasa terkecuali menunjukan rasa cintanya.


" Lihat James! Ini kan manekin mini yang dulu pernah kau beli. " Tunjuk Angel kepada sebuah patung manekin kecil yang berbetuk tokok kucing dalam kartun Jepang.


" Ah, iya. Dulu aku sangat menyukai tokoh kartun ini. " James tersenyum, tangannya tergerak menyentuh manekin itu dengan hati-hati.


Anne menghentikan langkahnya, dia mundur beberapa langkah dan memilih untuk melihat saja apa yang di lakukan Angel dan James, bersama dengan Gerry yang sedari tadi diam menahan kesal. Bagaimana dia tidak kesal? Angel memang berjalan bersamanya, tangannya juga dia yang genggam, tapi Angel malah terus berbicara dengan James ke sana kemari tidak jelas.


Anne pikir mereka hanya akan pergi ke sebuah restoran dan mengunjungi tempat wisata yang romantis cenderung privasi, tapi yang di datangi adalah pasar rakyat yang menyediakan banyak sekali makanan, pernik-pernik untuk hadiah, juga pakaian dan masih banyak lagi.


Anne tersenyum melihat seorang anak kecil yang berusia sekitaran sepuluh tahun. Dengan begitu semangat dan pintarnya dia menawarkan banyak sekali gelang dagangannya. Anne mengingat dengan jelas bagiamana usia sepuluh tahunnya yang lebih sering dia habiskan di rumah sakit, ditusuk jarum suntik, infus adalah hal yang sangat biasa untuknya. Dia tidak bisa pergi bermain seperti kebanyakan anak-anak yang lain, bahkan terkena sinar matahari sebentar saja kulitnya akan langsung memerah dan setelah itu dia lemas seperti ingin pingsan.


Pernah satu masa dia membenci Tuhan karena tidak memberikan fisik yang sehat, tapi dia juga tidak bisa menyerah karena melihat perjuangan orang tuanya, serta tangis mereka saat dia merasakan sekujur tubuhnya sakit dan merasa kalau mati saja sepertinya adalah kebahagiaan. Semua sudah berlalu, meski dia tidak memiliki fisik yang kuat dibanding kakaknya ataupun orang lain nyatanya dia juga memiliki hati yang kuat setelah melewati semua rasa sakit di masa lalu. Tidak apa-apa, menikmati hidup dengan cara yang di inginkan adalah kebahagiaan juga kan?


" Kak, mau beli gelang ini? Ini buatan ku dan Ibuku sendiri loh, kakak tidak akan mendapatkan yang sama di luar sana. " Anak itu tersenyum menyodorkan gelang padangan kepada Anne.


Anne tersenyum, dia mengambil gelang itu dan melihatnya. Memang tidak rapih seperti yang biasa dia beli di supermarket, tapi semangat anak itu benar-benar membuat Anne seperti merasakannya juga.


" Baiklah, jadi berapa harga dua gelang ini? "


" Tiga puluh ribu saja. "


Anne mengeryit bingung.


" Kenapa harganya murah sekali? "


" Karena kakak kelihatannya sedang sedih, jadi aku berikan harga murah. "


Anna tersenyum kembali.


" Ibuku bilang bersedih hanya akan membuang waktu dan uang, jadi aku dan Ibuku tidak ingat bagaimana rasanya sedih karena kami sibuk mencari uang. "


Anne terdiam, sungguh dia merasa tersentil dengan ucapan anak-anak yang bahkan jauh lebih dewasa di banding dirinya. Sedari tadi hanya menceritakan tentang dia dan Ibunya, berarti Ayahnya tidak ada kan? Kalau di lihat sendal dan dress lusuh yang ia gunakan jelas sekali anak itu bukan tidak mungkin pernah kesulitan untuk makan.


" Eh, aku tidak ada kembalinya kak. "


" Ambil saja, karena mengobrol denganmu bisa membuat ku bahagia, jadi tips untukmu ya? " Anne mengusap kepala anak itu pelan, laku berjalan pergi sembari melambaikan tangan sebentar sebelum dia berbalik badan. Anne tersenyum menggenggam gelang dari anak itu, memang seharusnya dia menyibukkan diri dari pada memikirkan sesuatu yang selalu membuatnya sedih.


" Dari mana saja kau hah?! "


Anne sontak mengentikan langkahnya saat James tiba-tiba berhenti di hadapannya dengan wajah kesal, entah apa lagi yang membuatnya kesal sampai seperti ini. Apakah dia cemburu melihat Angel dan Gerry?


James berjalan mendekati Ana, nafasnya terdengar tak teratur seperti habis berlarian lumayan jauh.


" Kau mau membuatku kelelahan dengan mengelilingi tempat seluas ini hah?! Kenapa kau menghilang?! " Anne tak menjawab karena dia benar-benar terkejut. Apakah James mengkhawatirkannya?


" Aku tidak memintamu melakukanya, aku bukan anak-anak. Jika memang aku tersesat, aku pasti tahu keman jalan pulang. " Tadinya Anne memang sempat merasa senang karena James mengkhawatirkannya, tapi dia masih menolak untuk mempercayai hal itu. Bisa saja kan yang James takutkan bukan Anne hilang, tapi takut dengan orang tuanya dan orang tua Anne dan di tuduh tidak bisa menjaga Anne dengan baik.


" Sialan, memang kau tidak mengaku mencari mu, tapi kalau aku merasa kau menghilang masa iya aku hanya diam santai saja?! "


Anne membuang nafas kasarnya.


" Sudahlah, aku sedang malas bertengkar. Alasan mu ingin datang kesini karena kakakku kan? Sekarang aku ingin pulang, kau pulang saja kalau sudah puas disini. "


James menahan Anne yang sudah akan berbalik badan dengan menahan lengannya. Entah salah dengar atau tidak, tapi ucapan Anne beberapa hari ini seperti telah mengetahui hubungan Angel dan dia. Jika pun memang benar begitu, entah mengapa dia merasa tidak bisa membiarkan Anne pulang.


" Tidak boleh! Aku ada disini, kau juga harus ada di sini. " James meraih kemari Anne, lalu menggenggamnya erat-erat.


Angel memaksakan senyumnya begitu James dan Anne sampai di sana, sebenarnya dia dan Gerry sudah cukup lama melihat James dan Anne tadi, tapi karena tidak enak untuk ikut campur akhirnya mereka berdua memilih untuk diam dan menunggu saja sampai keduanya selesai.


" Mereka terlihat romantis meski bertengkar seperti itu. " Ujar Gerry yang membuat Angel semakin merasakan sakit di dadanya. Padahal jelas kalau adiknya adalah istri James sekarang, tentu saja wajar kalau James dan Anne bergandengan tangan seperti ini, tapi kenapa dia seperti tidak menerimanya?


" Maaf membuat kalian ikut panik, istriku kadangkala memang suka berulah, tolong jangan merasa kapok ya? " James berucap dengan wajah tak enak mengabaikan Anne yang memilih diam seperti tak tertarik, padahal dia cukup senang ketika James menggenggam tangannya seperti itu.


Bersambung.