
Gerry membuang nafasnya setelah satu botol anggur rendah alkohol habis dia minum. Sekarang ini dia tengah berada di kamar yang terakhir kali digunakan Angel untuk tinggal. Rasanya benar-benar sesak karena merindukan Angel, ini sudah satu bulan lebih dan dia sudah semakin tidak tahan lagi dengan perasaan rindu yang mencekik membuatnya sesak dan tak bisa fokus melakukan apapun.
" Aku harus menemeuimu, aku harus melakukan itu. "
Gerry bangkit dari posisinya berakal keluar untuk menuju kamarnya, lalu mengemas barangnya sendiri. Ya, keputusan untuk menemui Angel sudah sangat bulat karena beberapa hal di luar dugaannya seperti, datangnya surat permohonan cerai pagi tadi.
Sebenarnya bisa saja Gerry mencari wanita lain di luar sana untuk dia jadikan istri, tapi bagaimanapun dia juga tidak ingin bertingkah seperti pria bajingan yang akan lari begitu saja. Gerry bangkit kembali setelah selesai dengan kopernya, dia sudah menahan diri sebulan ini maka dia tidak akan terus seperti itu.
" Angel, kali ini aku akan mengejarnya dengan sungguh-sungguh, aku akan membuktikan bahwa aku kayak untuk menjadi suamimu. Tunggulah aku dengan kesungguhan ini. "
Gerry bergegas menuju garasi mobil meninggalkan kopernya di sana, dia harus menemui orang tua Angel terlebih dulu dan meminta maaf dari mereka dengan lebih bersungguh-sungguh, dan meminta mereka memberikan kesempatan lagi agar bisa kembali bersama putri mereka.
Sesampainya di rumah orang tua Angel, Gerry menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nafas perlahan berharap apapun yang terjadi, apapun yang akan di katakan oleh orang tua Angel dia bisa menahan diri sesabar mungkin.
" Pak, tolong biarkan aku masuk ya? Aku harus bertemu dengan mertuaku. " Pinta Gerry dengan nada bicara yang sopan kepada satpam rumah. Sebenarnya dulu Gerry juga sopan, tapi karena satpam rumah itu terus memintanya pergi sesuai perintah dari atasannya, Gerry merasa tidak terima dan kesal, jadilah dia begitu kasar dalam berucap, bahkan bukan sekali dua kali dia menghina pekerjaan satpam dengan kalimat merendahkan yang pastilah menyakitkan untuk di dengar oleh satpam tersebut.
Satpam itu tersentak cukup kaget karena Gerry nampak begitu sopan meski tatapan matanya terlihat putus asa membuat satpam itu mengangguk cepat dan meminta Gerry untuk menunggu sebentar karena dia membutuhkan izin dari Tuannya untuk bisa membukakan pintu gerbang.
" Tuan, di depan ada Tuan Gerry meminta untuk bertemu dengan anda. "
Ayah Bien membuang nafasnya, sebenarnya dia sendiri sudah cukup lelah karena pekerjaan di kantor yang menumpuk, tapi sepertinya dia memang harus memberikan waktu dan kesempatan untuk Gerry bicara, toh mempersilahkan Gerry masuk juga tidak akan membuat putrinya bisa melihat kedatangan Gerry.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Ayah Bien, segera Gerry di bukakan pintu dan bisa masuk ke dalam untuk bicara. Hanya ada Ayah Bien saja, itu karena istrinya enggan melihat Gerry yang akan terus mengingatkan bahwa Gerry pernah menyakiti hati dan fisik putrinya.
" Katakan dengan cepat, aku sudah cukup lelah dan butuh istirahat. " Ucap Ayah Bien denah tatapan dan wajah dinginnya.
Tentu saja persis seperti dugaan Gerry, seperti inilah ekspresi yang akan dia lihat saat bertemu dengan Ayah Bien. Tapi, dia benar-benar tidak akan menyerah jadi dia tidak akan marah atau tersinggung karena memang nyatanya semua itu terjadi atas perbuatannya.
Bruk!
Gerry menjatuhkan dirinya dengan posisi bersimpuh di hadapan Ayah Bien membuat Ayah Bien terkejut dan menatapnya dengan tatapan terkejut pula.
" Ayah mertua, aku tahu aku sudah melakukan kesalahan. Aku bodoh, aku tidak bisa mengontrol emosiku dengan baik, aku terlalu merendahkan Angel, aku juga sudah menyia-nyiakan kepercayaan Ayah dan juga Ibu mertua, tapi aku benar-benar memohon dengan sangat, dengan sepenuh hati untuk sekali lagi di berikan kesempatan untuk kembali bersama dengan Angel. "
" Aku tidak bisa menerima putriku yang sudah mengalami kekerasan karena ulahmu, tapi aku juga tidak menampik kalau asal dari permasalahan juga karena putriku. Tapi, semua kenyataan itu membuatku tersadar bahwa putriku membagi bukan jodoh yang tepat untukmu, begitu juga sebaliknya. "
Gerry menggeleng cepat menolak pendapat Ayah Bien, meskipun benar dia terpancing emosi karen apa yang Angel lakukan, tapi kembali lagi tidak ada alasan yang membenarkan kekerasan dama rumah tangga itu terjadi.
" Ini semua salahku, aku tidak bisa berpura-pura benar dan mencari kesalahan Angel untuk mengurangi kesalahanku. Tapi, aku benar-benar tidak ingin menyerah dengan pernikahan, jadi tolong restui lah aku untuk mengejar Angel dan mendapatkan hatinya dengan wajar, Ayah mertua. "
Ayah Bien terdiam karena memang dia tidak bisa mengatakan apapun.
***
Anne dan James terdiam di meja makan karena tida tahu harus bagaimana lagi mengatakan kepada Ibunya James bahwa Mereka tidak akan menerima hadirnya wanita lain apapun alasannya. Tapi, yang terjadi benar-benar seperti yang mereka berdua perkirakan. Yah, rupanya Ibunya James benar-benar belum bisa menerima kembalinya Anne sehingga dia memilih untuk melakukan hal-hal aneh seperti sekarang ini.
Ibunya James membawa sahabatnya untuk datang ke rumah James membawa anak perempuan mereka. James sendiri sebenarnya sangat risih apalagi kepalanya masih suka pusing dan kadang juga sakit serta perih, tai sialnya dia masih harus menghadapi tingkah Ibunya yang begitu aneh.
Untung saja ada Anne, James benar-benar bisa menjalani hari dengan mudah walau sekesal apapun dia terhadap tingkah Ibunya.
" Jeng Rini maaf sekali makan malam harus menumpang di rumah putraku ya? Maklum saja suamiku hari ini kan sedang pergi menemui kenalannya yang sedang di rawat di rumah sakit, jadi aku disini karena memang tidak ingin makan sendiri. " Ujar Ibunya James untuk bosa basi saja.
Anne tak ikut mengatakan apapun, dia hanya sibuk untuk melayani James saja. Mulai dari mengambilkan nasi, sayur, juga lauk Setya minum untuk James. Sementara anak gadis yang juga anak sahabat Ibunya James sepertinya merasa tertarik dengan James, itu semua terbukti dari cara dia menatap James sedari tadi. Saat makan juga sama, beberapa kali Anne memergoki gadis itu terus mencuri pandang kepada James.
" Sayang, suapi aku makan ya? Tidak tahu kenapa tanganku lemas. " Ujar James membuat Anne tak lagi merasa canggung.
" Buka mulutmu, sayang! " Anne menyodorkan sesendok makanan ke mulut James dengan tatapan lembut.
" Em, makanan kalau lewat tangan istriku benar-benar jadi tambah lezat ya? " Ucap James dengan tatapan manja, dia bahkan tidak perduli bagaimana yang lain menatap ke arahnya dan seperti sengaja ingin menunjukkan betapa mereka saling mencintai.
" Ah! " Pekik Anne saat James sengaja menggigit jarinya.
" Duh, sayang aku salah gigit. Semua salahmu yang sangat menggiurkan. "
Bersambung.