
Di acara perkumpulan untuk membicarakan tentang niat mereka yang akan menyumbangkan beberapa barang untuk anak-anak panti asuhan, juga membagi sejumlah uang, disana ada Ibu dari James juga Ibunya Anne. Maklum saja, orang yang mengenalkan Ibunya James kepada teman-teman nya adalah Ibunya Anne, jadi berada di tempat yang sama tentu adalah hal yang biasa untuk mereka.
Tentu saja mereka tidak akan seperti biasanya, jika saja itu dulu, jelas mereka akan saling menyapa, mencium pipi kanan dan kiri, berpelukan seperti orang yang sudah lama sekali tidak bertemu, padahal sih mereka sering sekali bepergian bersama. Sekarang benar-benar sangat jauh berbeda. Ibunya Anne sama sekali tidak melihat ke arah Ibunya James meski yang bersangkutan kedapatan beberapa kali menatap ke arahnya seperti ingin menyapa tapi terhalang oleh masalah yang sedang mereka rasakan.
" Nyonya, anda tidak menyapa besan anda? Tumben sekali. " Ujar salah satu sahabatnya.
Ibunya Anne membuang nafasnya, tapi dia benar-benar masih tidak ingin sekalipun melihat ke arah Ibunya James.
" Tidak apa-apa, bagiamana dengan semua hadiah untuk anak-anak sudah di kemas dengan rapih kan? " Ibunya Anne benar-benar menutup rapat masalah keluarganya, bukan malu dengan kondisi anaknya, hanya saja dia memang tidak suka dengan banyak orang yang tahu masalah keluarganya karena secara otomatis ada banyak orang yang akan sok empati, dan lain hal.
Sangat berbeda dengan Ibunya James kan? Wanita itu hingga sekarang masih sibuk mencari jalan keluar dari masalah yang ia hadapi, menceritakan bagaimana kondisi rumah tangga putranya, dan menceritakan kondisi Anne hingga sudah banyak orang yang tahu mengenai masalah itu. Bahkan sekarang ini juga sedang menjadi topik hangat bagi sekumpulan Ibu-ibu itu.
Tidak masalah, Ibunya Anne benar-benar tidak merasa sedih dengan kondisi Anne putrinya. Dia tetap bahagia dan bangga karena bagaimanapun Anne sudah berjuang sekuat tenaga untuk bertahan hidup dan membuatnya tetap menjadi Ibu dari dua orang putri yah cantik dan manis seperti Anne dan Angel.
" Nyonya, sepertinya besan anda masih terus gencar ya menceritakan tentang anda? "
Ibunya Anne mengentikan kegiatannya yang tengah ikut mengecek hadiah untuk anak-anak panti asuhan. Dia membuang nafasnya karena dia benar-benar malas membahas soal itu.
" Biarkan saja, apapun yang dia bicarakan aku anggap dia sedang menunjukan kualitas dirinya. Berlian tidak perlu memperdulikan sampah, karena hanya sampah yang akan terus berjuang agar bisa di daur ulang dan berguna. Sementara berlian, dia tidak perlu melakukan apapun tapi kualitasnya tidak akan mungkin bisa di bohongi dan tetap menjadi yang terbaik. "
Orang yang mendengar ucapan Ibunya Anne barusan benar-benar tersentak, sementara tadi yah bergosip langsung terdiam tak lagi ingin bicara.
***
James dan Don tersenyum puas setelah berhasil memeras Arthur. Hari ini Arthur dengan terpaksa melepaskan lima persen sahamnya sebagai alat untuk tutup mulut kepada James juga Don agar tidak membocorkan semua bukti itu. Yah, awalnya James ingin merebut sepuluh persen saham yang di miliki Arthur di perusahaan kakeknya, tapi itu pasti terlalu berat untuk serangan pertama. Jadi biarkan saja perlahan karena nanti hasilnya pasti akan jauh lebih memuaskan.
" Jadi, kau benar-benar berniat menghancurkan perusahaan Kakekmu sendiri? "
" Memang apa lagi? Sedari kecil aku selalu jadi cucu yang paling miris. Sekolah di tepat yang biasa, sementara Arthur sekolah di internasional school. Aku mengikuti les taekwondo sementara Arthur mendalami ilmu bisnis. Dia sudah di didik sedari kecil untuk memimpin perusahaan, sementara aku di alihkan dengan alasan bakat yang tida ke arah sana. Aku semakin di jauhkan dari kandidat pewaris dengan begitu banyak alasan yang tidak masuk akal. Memang siapa yang akan merasa sayang setelah semua yang aku lalui? "
" Iya, harus kuakui kau memang tidak beruntung. "
James memaksakan senyumnya.
" Yah, aku merasa seperti itu. " Ujar James karena lagi-lagi dia teringat dengan Anne, lalu memikirkan tentang apa yang sedang di lakukan Anne di jam sekarang.
" Apa kau ingin tahu sesuatu? "
James mengeryit menatap Don penuh tanya.
" Apa? "
James menatap tajam dengan mimik yang begitu terkejut. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Arthur akan sebegitu nya tertarik kepada Anne sampai mengoleksi photo. Tidak, ini benar-benar tidak bisa di biarkan begitu saja. Arthur pasti akan melakukan banyak cara agar bisa mendekati Anne, apalagi hubungan Anne dan James sekarang sedang ada masalah, tentu saja James takut kalau Arthur akan memanfaatkan keadaan ini.
James bangkit dari duduknya, dengan tatapan yang tidak biasa.
" Kau mau kemana? " Tanya Don bingung.
" Menemui Anne, aku harus memastikan agar Arthur tidak menyela hubungan kami yang sedang dalam masalah. "
Setelah mengatakan itu James pergi begitu saja meninggalkan Don yang keheranan sendiri.
Rupanya kecurigaan James benar-benar terjadi. Hari ini dengan alasan ingin mempererat silaturahmi, Arthur datang berkunjung ke kediaman Ayah Bien, di barengi dengan ingin mengundang Ayah Bien beserta keluarga untuk menghadapi acara amal yang akan di gelar oleh perusahannya Minggu depan, Arthur tentu saja semakin percaya diri untuk datang kesana.
" Saya harap, Tuan dan keluarga bisa menghadiri acara amal ini. "
Ayah Bien mengangguk paham, tali bukan berarti dia ingin memenuhi undangan itu ataupun mengiyakan. Dia benar-benar merasa perlu menjaga jarak terhadap Arthur karena analisanya mengatakan seperti itu. Pada awalnya Ayah Bien hanya tidak ingin terlalu menunjukkan kalau dia terlalu menjaga jarak dan terkesan sombong, tapi dia tidak menyangka kalau tindakannya itu malah di jadikan kesempatan oleh orang lain untuk mendekatinya karena menginginkan sesuatu darinya. Yah, tentu saja dia tahu kalau Arthur adalah saudara dari James, tapi mau bagaimana lagi? Tidak mungkin juga dia mengusir tamu yang datang dengan sopan ke rumahnya.
" Saya tidak bisa berjanji, tapi jika memang waktunya pas, apa salahnya juga mendatangi acara amal. "
Arthur mengangguk setuju sembari tersenyum.
" Ayah, sudah lihat brosur yang aku kirim? Aku- " Anne terdiam tak melanjutkan ucapannya karena dia sama sekali tida tahu jika Ayahnya kedatangan tamu, dan tamu itu Anne benar-benar kenal siapa orangnya.
" Nanti Ayah lihat ya sayang? "
" Iya, aku kembali ke kamar dulu yah. "
" Iya. "
" Lama tidak bertemu, Anne? Apa kabar? "
Anne yang tadinya ingin beranjak jadi harus menghentikan langkah kakinya sebentar. Dia menatap Arthur dan memaksakan senyumnya.
" Baik-baik saja. "
" Kau terlihat lebih segar dari sebelumnya, senang melihat wajahmu yang seperti itu. "
Bersambung.