Perfect Marriage!

Perfect Marriage!
BAB 29 : Luka Semakin Dalam



Anne tak lagi bicara setelah meluapkan emosinya beberapa saat lalu. Dia memilih segera membaringkan tubuhnya, memejamkan mata tidak perduli mau tidak atau tidak. Hati istri mana yang tidak sakit seketika menunggu kedatangan suaminya dengan bersungguh-sungguh, mengharapkan dengan sangat tapi nyatanya suami yang ia tunggu justru sibuk dengan wanita lain dan mengabaikan dia seperti tak ada artinya. Mungkinkah James lupa kalau Anne juga punya hati? Apakah James lupa kalau Anne juga tidak mati rasa dan jelas bisa me adakan emosi yang dia alami.


James juga memilih untuk diam, dia tidak tahu harus bagaimana menghibur Anne yang terlihat sedih dan kesal. Angel benar-benar membuatnya lupa dengan janji yang bahkan dia sendiri membuatnya. Jelas lah dia tahu seberapa buruk dia sekarang ini, hanya saja pengaruh Angel untuk hidupnya benar-benar sulit untuk di hilangkan. James membuang nafas kasarnya, sekarang ini dia berada di ruang tamu karena merasa serba salah sendiri, dia juga ingin Anne tidur dulu baru dia akan masuk, tentu saja itu karena dia merasa canggung jika Anne belum tidur.


Sebentar dia tergugah karena mendapatkan satu ide untuk meminta maaf kepada Anne. Rencananya besok dia akan melihat apartemen baru yang akan dia tinggali bersama Anne nantinya. Dia juga berniat memesan sebuket bunga mawar merah yang biasanya akan di sukai wanita. Setelah itu dia perlahan berjalan masuk ke dalam kamar, dia menatap Anne sebentar, dia pikir Anne sudah tertidur jadi dia beranjak naik ke tempat tidur.


Besok paginya, Anne tak mau kehilangan aktifitas yang mulai dia sukai yaitu, memasak. Pagi ini dia memasak nasi goreng dan telur ceplok. Sederhana, tapi Ana membutuhkan hampir dua jam untuk membuat makanan itu. Dia memang menyediakan piring untuk James, tapi masalah ingin memakannya atau tidak benar-benar Anne tidak ingin memperdulikannya lagi.


James yang baru saja keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang sudah rapih segera berjalan menuju meja makan untuk sarapan. Memang sih masih ada rasa canggung, tapi anehnya dia memaksakan diri karena tidak ingin kalau Anne kesal terlalu lama.


'' Nanti siang mau ikut lihat apartemen baru tidak? "


" Tidak, aku mau pergi ke galery temannya Ibu. "


James mengangguk dan memaksakan senyumnya.


" Dimana? Kalau kau mau kau bisa menghubungi ku kapan selesainya supaya aku bisa menjemput mu. "


" Tidak ada hal serius, tapi aku ingin bersantai dan melihat saja lukisan yang ada di sana. Kau sibuk saja, aku akan pulang mungkin pukul lima. "


James kembali mengangguk. Sebenarnya benar-benar aneh dengan Anne yang begitu dingin ini, tapi mau bagaimana lagi kalau kekesalan yang terjadi adalah karena James kan?


" Dimana alamat galery nya? "


" Tidak jauh dari butik Ibuku. "


Setelah selesai sarapan James segera berangkat ke kantor, sementara Anne bersiap untuk pergi ke galery milik sahabat Ibunya. Tidak butuh waktu lama karena Anne juga tidak berdandan heboh seperti kebanyakan nona kaya biasanya. Dengan langkah kaki santai Anne berjalan keluar, sampai ke lift dan dia bertemu dengan Don.


" Ane? Mau pergi kemana? "


" Eh, Don? Aku ingin ke galery sahabatnya Ibuku. "


" Oh, dimana? "


" Di jalan mawar. "


" Wah, aku juga lewat sana loh, aku mau antar pesanan customer ku. "


Anne sebenarnya tidak enak kalau lagi-lagi merepotkan Don, tapi dari pada dia cari taksi, lagi pula Don sekalian lewat sana jadi Anne mengangguk setuju saja.


" Kau pergi ke galery apa ingin membeli lukisan? Atau di sana sedang ada pameran lukisan? " Tanya Don begitu mereka keluar dari lift.


" Aku punya hobi melukis, aku juga menitipkan lukisan ku di sana. Aku hanya ingin melihat-lihat saja, lagi pula sudah lama juga tidak mengobrol dengan sahabatnya Ibuku. "


" Kalau kau suka lukisan, nanti kalau ada pameran aku akan memberikan undangan untukmu ya? "


" Wah, benar-benar beruntung mengenalmu ya? "


Anne terkekeh, begitu juga dengan Don hingga tanpa mereka sadari James sedari tadi melihat mereka berdua dengan tatapan tak suka. Dia kembali ke apartemen niatnya untuk mengambil dokumen yang ia bawa pulang kemarin malam. Tapi sialnya yang dia lihat malah istri dan temannya sedang mengobrol dengan begitu akrab.


" Anne! "


Anne menoleh kebelakang, ya ampun! Dia benar-benar tidak menyadari kalau ada James di sana, pasti juga tadi mereka melintasi James tanpa di sadari kan?


" Kak James? Bukannya tadi sudah berangkat? " Tanya Anne bingung.


" Ada yang harus aku ambil, kau temani aku ambil. "


" Aku benar-benar lelah kak, ambil saja sendiri ya? "


James merengut kesal, kini dia menatap Don.


" Don, kau pergi saja sana! Kau pasti akan sibuk kan? "


Don memaksakan senyumnya, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, yah wajar saja sih kalau James kesal, Don kan terlihat seperti menggoda istri sahabatnya sendiri. Don segera beranjak pergi setelah berpamitan dengan Anne dan James. Anne tidak ikut James ke atas lagi, dia memilih untuk tetap disana entah apa yang dia tunggu dari James.


Beberapa saat kemudian, James keluar dari lift.


" Biar aku antar aja kau ke galery. " Ucapnya sembari meraih tangan Anne, mungkin itu reflek, tapi Anne sedikit tersentuh juga saat tangannya di gandeng bahkan sampai masuk ke dalam mobil.


Setelah mengantar Anne James segera melajukan mobilnya untuk menuju kantor Ayahnya. Seperti seharunya, dia bekerja sebagai bawahan Ayahnya, membantu banyak hal yang bisa dia lakukan. Sampai waktunya untuk pulang tiba, dia yang sudah berniat membeli bunga tentu saja harus mampir ke toko bunga. Seperti rencananya dia membeli seikat bunga mawar di tempat biasa dia membeli bunga untuk Angel dulu.


" Seperti biasa, Tuan? " James yang sedang membalas pesan dari hanya bisa mengangguk saja saat pelayan toko bunga menanyainya. Selesai membayar dia segera kembali ke mobilnya, menjauhkan ponselnya setelah membalas pesan dari Angel. Yah, Angel lagi-lagi meminta James untuk menemuinya, tapi hari ini dia ingin menemui Anne jadi dia menggunakan alasan lembur untuk menghindar dari Angel meski berat sekali rasanya.


James menjemput Anne setelah mendapat balasan dari pesannya bahwa Anne masih berada di butik bersama dengan sahabat Ibunya. Begitu sampai di sana, James menghubungi Anne untuk keluar karena James menunggu di sana. Tak lama Anne keluar dari galery, dia langsung menghampiri James yang menunggunya sembari memegang sebuket bunga mawar merah lalu di serahkan padanya. Tentu saja Anne senang meskipun mawar merah bukanlah bunga yang ia suka.


" Terimakasih. " Ucap Anne lalu tersenyum bahagia setelahnya.


" Jangan berterimakasih, itu bunga untuk mewakili perasaan menyesal ku. "


Anne mengangguk paham, dia masih tersenyum hingga dia melihat kartu ucapan berukuran kecil terselip di sana. Anne mengambilnya lalu membukanya.


Always loving you, my Angel. Itu lah yang tertulis di sana sehingga membuat senyum di wajah Anne menghilang.


Bersambung.