Perfect Marriage!

Perfect Marriage!
BAB 40 : Aku Mendengarnya



" Orang tuaku punya uang untuk membawaku kerumah sakit dan berobat, tapi nyatanya dia juga mereka tetap khawatir meski aku sudah dewasa. Ini bukan soal aku akan mati di usia berapa, tapi bagaimana aku akan mengahadapi diriku sendiri setelah kembali tersadar bahwa aku adalah si anak lemah yang selalu sakit-sakitan, sahabat sejati ku juga hanyalah rumah sakit saja. Jadi aku merasa seperti hanya punya waktu untuk menghitung hari dan melihat wajah kedua orang tuaku sampai aku puas saja. "


James terdiam, bolehkah dia jujur sekarang? Dia benar-benar tidak suka mendengar kalimat yang keluar dari mulut Anne barusan. Padahal gunanya rumah sakit adalah untuk meneruskan kesehatan, jadi untuk apa begitu khawatir selama masih ada rumah sakit yang menerima pasien?


" Berhentilah berpikir macam-macam, jangan terlalu terbebani untuk hal yang bahkan tidak satupun bisa memastikannya. Asalkan kau rajin memeriksakan kesehatan, kau tentu saja akan lebih cepat tahu apa yang terjadi dengan tubuhmu sehingga bisa lebih cepat mengobatinya kan? "


Anne menghela nafas, tentu saja mudah bagi orang untuk mengatakan itu, tapi apakah tidak tahu bagaimana sakitnya harus merasakan jarum suntik setiap hari? Anne benar-benar masih ingat betapa seringnya jarum suntik menusuk tubuhnya, leher yang harus di trakeostomi, di lubangi agar bisa di pasang tabung pernapasan yang bisa langsung ke paru-parunya. Suruh tubuhnya di pasangi banyak alat yang membuatnya risih serta sesak, mana mungkin itu di sebut mudah?


" Kak.... " Panggil Anne dengan nada suara yang pelan membuat James sedikit tersentak, sudah beberapa hari ini kan Anne amanat ketus, dia selalu memanggil James dan berbicara kepada James dengan sebutan kau.


" Kenapa? "


" Kalau aku mati nanti apa kau dan kak Angel akan segera menikah? "


James mengeryit, tapi juga dia merasa benar-benar kaget. Mati? Menikah dengan Angel? James membuang nafasnya karena terasa seperti menumpuk di dadanya. Jika saja pertanyaan ini di ajukan padanya beberapa saat lalu setelah mereka menikah, James pasti akan menjawab pertanyaan itu dengan seringai jahat dan langsung mengiyakan tanpa perduli apa itu rasa kasihan. Tapi sekarang, perasaan tidak rela ia rasakan entah apa sebabnya. Dia tidak siap jika tidak ada Anne, dia tidak siap kalau tidak bisa melihat Anne lagi.


" Bisakah mulai sekarang kita berhenti membahas tentang Angel? "


" Kau tidak mengizinkanku membicarakan Kak Angel apa karena kau tidak rela aku membicarakannya dan berujung mengatai kakakku? "


James menghela nafasnya, bukan seperti itu, sungguh! Dia hanya tidak suka karena setiap kali membicarakan Angel wajah Anne akan terlihat berbeda, lalu setelahnya akan bersikap dingin kepada James. Jadi dia pikir lebih baik jangan membahas tentang Angel agar situasinya aman-aman saja untuk mereka.


" Tidak, bukan begitu. "


" Yah, mulut bilang tidak tapi hati orang lain mana ada yang tahu? "


James menepikan mobilnya, dia langsung saja meraih tengkuk Anne dan membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman.


***


" Brengsek! "


Gerry membuang laptopnya ke lantai hingga membuatnya rusak, layarnya juga pecah. Dia marah, benar-benar sangat marah yang luar biasa. Seumur hidup dia benar-benar merasa begitu marah dan di curangi habis-habisan seperti ini baru kali ini saja, dan sialnya orang yah membuat perasaan itu timbul adalah Angel.


mereka kembali masuk ke dalam apartemen, entah apa yang di bicarakan mereka tapi Anne keluar sembari menyeka air matanya. Bukankah itu cukup menjelaskan bagaimana situasi yang sebenarnya? Mulai dari pertama kali setelah dia menikahi Angel, Gerry masih coba untuk memahami kedekatan mereka, tapi seiring berjalannya waktu dia selain curiga, tapi dengan bodohnya dia yang memilih untuk diam sembari menunggu kapan Angel akan jujur dengannya.


" Rupanya kalian berdua sudah bukan hanya sekali dua kali berada di apartemen begitu lama ya? Hanya orang bodoh saja yang akan terus berpikir positif setelah melihat kondisi dari yang di tunjukan oleh kamera pengawas. Aku sudah cukup sabar, tapi aku rasa kesabaranku yang begitu mahal ini telah salah sasaran. Rupanya aku memberikan rasa sabarku kepada manusia tidak tau malu seperti kalian berdua. "


Gerry bangkit dari duduknya, dia membuka seluruh tirai yang menutup jendela ruang kerjanya. Hati suami mana yang tak sakit melihat kenyataan bahwa istrinya yang menurut kedua orang tuanya adalah wanita berkualitas dan berpendidikan serta sikap yang mendekati nilai seratus. Padahal dia sudah baik-baik menjaga perasaan Angel dengan menjauhi semua wanita yang pernah dekat dengannya, atau juga baru ingin mendekatinya agar Angel merasa nyaman dan tidak perlu khawatir akan kesetiaannya. Sayang sekali, ternyata dia menjaga hati yang sebenarnya bukan miliknya, dia menjaga perasaan seseorang yah bahkan tidak memiliki perasaan untuknya.


" Sialan! Padahal tinggal jujur saja dari awal aku pasti akan coba untuk mengerti dan mencari solusi, tapi kalian memilih untuk membuatku merasa kesal karena kebodohanku sendiri. James, mari kita lihat seberapa tanggungan kau ketika aku sudah ikut campur dalam kehidupan mu. "


Gerry mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi orang kepercayaannya.


" Tio, jari tahu semua tentang James. Dia adalah adik iparku, aku tunggu segera kabar darimu. "


Gerry membuang nafasnya, dia berjalan untuk meraih senderan kursinya lalu duduk di sana.


" Angel, aku tidak pernah sekesal ini dengan wanita, jadi jangan salahkan aku berbuat semauku padamu nanti. "


Tak lama seorang pelayan rumah Gerry mengatakan jika Angel sudah kembali dan sekarang sedang berada di dalam kamar. Dengan segera Gerry bangkit, dia menyusul Angel untuk masuk ke dalam kamar.


" Aku akan pergi menginap ke rumah orang tuaku nanti. " Ucap Angel tanpa mau menatap Gerry sedikitpun. Sekarang dia tengah melepas perhiasan yang ia gunakan karena dia ingin pergi mandi setelah itu.


" Oh iya? Sayangnya aku takut kau tidak akan berani bertemu dengan orang tuamu lagi. " Ucapan Gerry barusan membuat Angel menatapnya dengan tatapan bingung.


" Apa maksudmu? " Tanya Angel bingung.


Gerry tersenyum miring sembari menunjukan rekaman dari kamera pengawas yang sudah ia kirim ke ponselnya tadi.


" Bagaimana kau akan menemui orang tuamu kalau orang tuamu melihat ini, Hem? "


" Jangan keterlaluan, Gerry! "


Bersambung.