
James terdiam menatap Anne yang masih belum juga sadarkan diri. Dokter meminta James untuk tidak mengganggu Anne dan membuatkan Anne istirahat lebih lama. Dokter sudah memberitahu sebab Anne pingsan, yaitu rendahnya tekanan darah, kondisi fisik Anne juga tidak sekuat orang biasa sehingga aktifitas sedikit saja sudah cukup membuat Anne kelelahan.
Teringat lagi saat dia berlari ke arah Angel membuat Anne terjatuh tanpa sadar, jelas saat itu semua orang bisa melihat bagiamana tidak becus nya dia menjadi seorang suami. Sebenarnya pemikiran itu tidak begitu masalah jika orang lain yang merasa begitu, tapi James merasa tidak ingin kalau sampai Anne berpikir semacam itu.
Benar, dia masih begitu simpatik terhadap Angel, tapi sungguh dia tidak memiliki lagi niat untuk bersama Angel karena beberapa alasan. Terlebih, yang saat ini James rasakan adalah dia tidak ingin berpisah dengan Anne tidak perduli apakah Anne akan berpikir jika dia takut dengan Ayahnya atau apapun dia sama tidak perduli karena dia sendiri juga tidak tahu alasan apa yang begitu kuat menahan dirinya untuk tetap bersama Anne.
" Keluarlah, aku ingin berbicara denganmu. " Ucap Ayah Bien setelah membuka pintu kamar rumah sakit dimana Anne sedang di rawat dan tengah istirahat.
James segera bangkit dari duduknya, dia meletakkan tangan Anne yang sedari tadi ia genggam perlahan-lahan karena tidak ingin Anne terbangun. Begitu James keluar, yang dia dapatkan rupanya sebuah pukulan dari Ayah Bien yang begitu kuat dan membuat James yang belum siap dan terkejut itu jatuh tersungkur. Orang tua James yang datang bersamaan dengan Ayah Bien tentu hanya bisa menahan kesedihan melihat putranya di pukul seperti itu. Tapi, mau bagaimana lagi karena kekecewaan seorang Ayah benar-benar tidak bisa di salahkan saat ini.
" Jika saja bukan karena putriku begitu mencintaimu, aku pasti sudah akan menginjakmu sampai mati tidak perduli kau anak siapa, tidak perduli jika aku harus di penjara setelahnya. " Dengan nada dingin Ayah Bien berucap kepada James yang tak mengeluarkan suara dan mulai bangkit dari posisi jatuhnya tadi. Dia memilih diam karena dia tahu dia salah, bukan takut yang ia rasakan, tapi dia merasa jika memang ini salahnya dan dia pentas mendapatkan pukulan itu.
" Maaf...... " Akhirnya inilah kalimat singkat yang keluar dari mulut James.
Ayah Bien tidak bisa lagi memukul James karena istrinya memegangi tangannya, dia juga menatap sedih seolah memohon agar tak memukul lagi, bagaimanapun James adalah anak satu-satunya dari sepasang sahabat yang sudah menjalani pahit manisnya kehidupan bersamanya juga.
" James, aku bukan orang egois yang akan menolak tanpa alasan. Aku menikahkan mu dengan Anne bukan karena semata-mata Anne mencintaimu sejak lama, tapi ada alasan yang belum bisa aku katakan karena suatu hal. Berhentilah untuk terus mengarahkan mata dan hatimu untuk Angel, tolong jangan membuatku melihat Anne menderita. Kau tidak akan memahamiku, kau tidak akan memahami bagaimana rasanya kami ketakutan untuk Anne. Baik aku, istriku, mempercayakan Anne padamu karena kami menaruh harapan besar padamu. Jangan pikir tidak ada pria lain yang ingin menikah dengan Anne, kalau kau tidak percaya kau boleh lihat nanti setelah kau melepaskan Anne. "
James menaikan pandangannya, tentu saja dia tahu, kalau saja dulu tentu saja dia tidak perduli apakah Anne banyak peminat atau tidak, tapi sekarang rasanya seperti tertusuk dadanya ketika mertuanya itu mengatakan sesuatu seperti perpisahan untuknya dan Anne.
" Maaf..... "
Ayah Bien menghela nafas, hati Ayah yang mana tidak sedih dan sakit melihat kedua putrinya jatuh pingsan di hari yang sama, detik sama tepat di hari perayaan pernikahan dan ulang tahun istrinya. Setelah kejadian ini dia benar-benar bertekad di dalam hati untuk tidak merayakan lagi, mungkin saja hanya akan ada dia, istrinya dan anak-anaknya saja di perayaan berikutnya.
Beberapa saat kemudian.
" Ckck..... Senangnya melihat sepupuku sedih, aku juga sangat senang melihat mertuamu memukul wajahmu sampai kau jatuh. Lihatlah dirimu sekarang, kau seperti kucing yang baru saja di tendang majikan karena baru saja mencuri ikan. "
James mengeraskan rahangnya, dia menatap sepasang sepatu di hadapannya dan perlahan menaikan pandanganya, tentulah dia tahu kalau suara itu adalah milik Arthur. Entah alasan apa juga yang membuat pria itu berada di sana, melihat Arthur di sana, apalagi senyum mengejek terbit dari wajahnya benar-benar membuat James kesal setengah mati.
" Kau benar-benar kurang kerjaan sekali ya? Kenapa kau juga berada di tempat ini? "
Arthur terkekeh melihat tatapan yang begitu tajam dari mata James. Takut? Tidak, dia sama sekali tidak takut dan menyukai James yang marah, karena biasanya James akan melakukan hal bodoh lagi setelah marah, dan itu akan sangat menguntungkan untuknya. James akan dikenal payah dalam kehidupan rumah tangga, dia juga akan terus di cap tidak mampu dalam urusan pekerjaan. Ah, membayangkan tatapan orang mengarah padanya sembari menggunjing memang membuat Arthur tidak bisa berhenti merasa bahagia.
" Aku mengkhawatirkan pelukis idolaku, memang ada salahnya? "
James bangkit dari duduknya, tubuhnya yang sama tinggi dengan Arthur membuatnya dengan jelas bisa melihat mata Arthur, dia juga bisa dengan jelas menunjukan semua hal yang ia rasakan untuk Arthur.
" Pelukis idola katamu? Sayangnya dia adalah istriku, wanita yang setiap malam tidur di ranjang yang sama denganku, jadi berhentilah memiliki minat menjijikan karena aku tidak akan membiarkan siapapun mendekati istriku. "
Arthur tersenyum miring, dia mendorong dada James membuat pria itu mudur selangkah tapi dia tak berhenti menatap tajam kepada Arthur.
" Kau lupa ya? Belum lama ini wanita yang setiap malam tidur di ranjang yang sama denganmu berada di pelukanku cukup lama, dia bahkan menatapmu dengan begitu menyedihkan bahkan diujung ingin pingsan saja dia masih sempat menangis melihat betapa jahatnya suami yang ia cintai itu. "
James mengeraskan rahangnya, mengepal tangannya menahan kemarahan. Ingin sekali memukul Arthur, tapi masalahnya adalah kakeknya pasti akan membuat masalah besar, dan tujuannya pasti bukan hanya dia, tapi kedua orang tuanya juga.
" Pergilah, kau begitu terhormat tidak mungkin menggemari istri orang lain kan? Jangan terus berkeliaran, kau tahu benar harus menjaga baik-baik image mu kan? " Ucap James yang sepertinya ampuh juga membuat Arthur terlihat kesal.
Bersambung.