
Disebuah kafe yang terletak tak jauh dari rumah Anne, dua orang wanita kini tengah berpelukan untuk melepaskan rasa rindu yang mereka tahan selama ini. Mereka adalah Anne dan juga Meta, setelah sekian lama berpisah akhirnya mereka di pertemukan kembali dalam keadaan sehat tentulah mereka bahagia.
" Maafkan aku yang tidak menghadiri pernikahanmu ya? Aku janji deh saat kalian punya anak nanti aku akan sering datang kerumahmu ya? "
Ucap Meta sembari mencubit pelan pipi Anne, memang seperti itulah kebiasaan mereka sedari dulu.
Anne memaksakan senyumnya mendengar ucapan Meta barusan, punya anak? Anne mencengkram kain dress yang ia gunakan karena merasa tersentil dengan kalimat itu.
" Eh? Kenapa kau malah sedih? "
Anne menggeleng dengan cepat, apapun itu alasannya dia benar-benar tidak siap menceritakan kepada Meta sekarang ini. Mereka baru saja bertemu jadi dia tidak ingin ada satu saja hal yang pada akhirnya membuat mereka berdua merasa sedih, karena seperti biasanya dan juga sebelumnya, jika salah satu dari mereka sedih, maka secara otomatis mereka akan merasakan sedih itu seolah sama-sama menjalaninya.
" Meta, jadi rumahmu benar-benar sudah di jual ya? "
Meta membuang nafas kasarnya.
" Kau tahu sendiri kan kalau adik bungsuku itu memiliki penyakit? Terakhir kali sebelum dia meninggal orang tuaku menjual semua aset yang mereka punya untuk mengobati adikku, tapi Tuhan memang punya kehendaknya sendiri, dan adikku meninggal. "
Anne meraih tangan Meta dan membuat tangan mereka saling menggenggam satu sama lain. Meta tersenyum, bagaimanapun dia tidak boleh bersedih sekarang, jalan hidup harus terus maju.
" Anne, adikku kan sudah tidak merasakan sakit lagi jadi untuk apa aku bersedih lagi? Pasti berat juga untuknya bertahan dengan kesakitan itu. Aku sudah lega meksipun tidak bisa melihatnya lagi, sekarang aku hanya harus fokus dengan hidupku kan? "
Anne mengangguk, dibanding siapapun sungguh dia benar-benar tahu bagaimana rasanya bertahan hidup dengan rasa sakit di sekujur tubuh. Kepala seperti ingin pecah, tubuh nyeri, lemas tak berenergi, hidung terus mengeluarkan darah, tidak nyamannya menggunakan kateter dan juga selang makanan, di suntik bahkan pernah lebih dari sepuluh kali dalam sehari, leher di lubangi dan di pasang alat, berkali-kali menjalani operasi, kejang juga hampir setiap menit. Sakit seperti itu benar-benar membuat Anne kecil selalu memohon untuk dia mati saja, tapi ketika melihat bagaimana orang tuanya terus menangis dan mengatakan untuk jangan meninggalkan mereka, Anne bertahan melalui itu semua hingga sekarang tubuhnya sudah di nyatakan sehat meski tak sekuat fisik orang pada umumnya.
" Meta, sekarang kau hanya perlu menjalani hidup dengan bahagia saja. Aku yakin adikmu akan bahagia saat melihatmu dan keluargamu hidup bahagia. "
Meta mengangguk dengan cepat karena memang dia setuju dengan apa yang dikatakan Anne.
" Iya, meskipun kami tidak memiliki banyak uang seperti dulu, tapi kami juga cukup dengan hidup sederhana saja kok. Sekarang aku yang sudah bekerja ini hanya tinggal bekerja keras supaya orang tuaku tidak kelaparan, iya kan? " Meta tersenyum memarkan barusan giginya yang begitu rapih dan bersih sembari mengacungkan Ibu jarinya dengan percaya diri. Sungguh Anne bahagia sekali masih bisa melihat Meta yang bersemangat seperti biasanya. Meksipun keluarga Meta sudah tidak memiliki kekayaan lagi, nyatanya Meta masih tak berubah dan terlihat begitu tegar.
" Meta, kau disini tinggal di apartemen atau bagaimana? "
" Sial sekali karena aku harus tinggal menumpang di rumah Bibiku yang judes itu. Setiap hari aku harus mendengar ocehannya, menuntut pekerjaan rumah untuk aku kerjakan, belum lagi selalu membahas soal uang. Padahal dia sendiri tahu kan kalau aku baru saja bekerja? Hah! Benar-benar kesal kalau membicarakan tentang dia. "
" Bagaimana kalau tinggal dirumahku saja? "
" Aduh duh! Baik sekali, tapi lebih baik kalau tidak tinggal di rumahmu. Bagaimanapun aku juga harus tahan semua ini, aku harus bisa hidup mandiri nanti, dan tidak boleh mengandalkan orang lain meksipun kau adalah teman sejati ku. "
Anne membuang nafasnya, sudahlah! Mau di apakan lagi kalau Meta sudah memiliki keinginan tentu saja tidak akan ada yang bisa mencegahnya.
***
" Tuan, boleh aku bantu mengerjakan apa yang sedang Anda kerjakan? " Tanya Larisa kepada James yang masih belum pulang ke apartemen meski jam kantor sudah selesai dari lima belas menit yang lalu.
James tak ingin melihat ke arah Larisa, jelas dia tahu kalau Larisa ingin mencaritahu apa yang sedang ia kerjakan untuk melapor kepada orang yang menyuruhnya. James tak bereaksi untuk beberapa saat, tapi dia juga perlu membuktikan bahwa apa yang dipikirkannya adalah benar.
Larisa tersenyum lalu mengangguk. Dia bekerja dengan sangat hati-hati dan juga cermat membuat James berpikir begitu sayang kemampuan seperti itu malah disalah gunakan. James benar-benar membatin seperti itu, tapi Larisa yang menyadari dia tengah di tatap oleh James menjadi gugup dan salah mengira.
Apakah James menyadari bahwa aku sangat cantik? Apakah sisi seperti ini membuatku bersinar di mata James?
Larisa tersenyum tipis, dia benar-benar bahagia sekali karena merasa kalau James terpanah oleh pesonanya.
" Ini sudah selesai, Tuan. " Ucap Larisa dengan lembut dan sopan. Dia tersenyum manis sembari menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinga.
" Terimakasih. "
" Ada yang bisa saya kerjakan lagi, Tuan? " Tanya Larisa yang belum rela kalau harus berpisah dengan James.
" Tidak ada, aku juga sudah mau pulang. "
" Oh, begitu. "
Larisa nampak kecewa, tapi ya sudahlah mau bagaimana lagi? Toh memang dia juga harus segera pulang untuk bertemu dengan Arthur yang memintanya untuk datang menemuinya.
Beberapa saat kemudian.
Larisa kini tengah berada di ruangan yang sama dengan Arthur.
" Bagaimana bisa James mendapatkan investor yang begitu royal hah?! Kau memberikan informasi yang salah apa kau sengaja? "
" Tidak, bukan! Aku memberikan informasi sesuai proposal yang aku baca waktu itu, tapi tidak tahunya James dan Ayahnya malah membuat dokumen baru yang begitu bagus. "
" Sejak kapan kau menjadi bodoh dan teledor, Larisa? " Arthur menatap dingin Larisa seolah mencurigai sesuatu yang sedang di sembunyikan oleh Larisa sendiri.
" Maaf, Tuan. Lain kali saya tidak akan membuat kesalahan lagi. "
Arthur membuang nafas kasarnya, di tatapannya kembali Larisa yang berucap dengan tatapan menyelidik.
" Kau terlihat tidak yakin dengan ucapanmu sendiri, jadi bagaimana mungkin aku mempercayaimu? "
" Saya bersungguh-sungguh, Tuan. "
Arthur menajamkan matanya.
" Larisa, jangan lupa kalau akulah orang yang sudah memungutmu dari lubang sampah. Aku juga yang sudah menjadikanmu wanita yang memiliki uang lebih, bahkan kau juga bisa berfoya-foya dengan bahagia. Jadi, jangan membuatku kecewa dan tidak ada pilihan selain menendangmu, mengembalikanmu ke tempat asalmu. "
Bersambung.