Perfect Marriage!

Perfect Marriage!
BAB 68 : Menerima Dan Niat



James terdiam mematung mendengarkan obrolan antara Anne dan juga Ibu Nori, jujur saja dia benar-benar malu dengan Ibu Nori yang begitu bijak dalam berbicara, dia yakin benar Anne pasti sudah agak baikan mendengar nasehat Ibu Nori, dia sendiri juga mulai memahami jika ada hal yang kadang tidak bisa di paksakan sesuai dengan harapan. Setelah membenahi mimik wajahnya, James kembali melangkahkan kaki menuju meja makan di saat obrolan antara Anne dan juga Ibu Nori selesai.


" Selamat pagi, Tuan? " Sapa Ibu Nori yang di balas sedikit senyum juga anggukan.


Anne segera melayani James dengan mengambilkan nasi goreng ke piring yang sudah di siapkan untuknya, laku juga sosis dan telur mata sapi untuknya. Untuk dirinya sendiri, Anne mengambil salad dan segelas susu murni yang hangat. Kegiatan sarapan mereka memang agak kaku kali ini, Anne sama sekali tak bicara, dia fokus dengan kegiatannya sehingga tak menyadari beberapa kali James terus mencuri pandang ke arahnya.


Kekakuan di antara mereka rupanya berlanjut selama beberapa hari, dan ini sudah empat hari tapi Anne masih betah saja banyak diam membuat James gelisah sepanjang hari.


Hari ini adalah hari Minggu, biasanya hari ini di gunakan James untuk menghabiskan banyak waktu bersama Anne, tapi Anne justru sibuk dengan kuas melukisnya dan baru keluar dari ruangannya setelah hampir sore.


" Sampai kapan kau akan diam terus begini? " Tanya James, rupanya dia sudah menunggu Anne keluar dari ruangannya, dan James sendiri sudah berada di depan ruangan melukis hampir dua jam.


Anne terdiam sebentar, dia mengubah posisi tubuhnya untuk menatap James. Sungguh dia tidak tahu harus mengatakan apa kepada James saat ini. Bukan dia marah, dia hanya tidak bisa menahan diri untuk tidak kecewa dengan keadaan, dia malu, dia kecewa, dia juga marah kepada dirinya sendiri karena tidak bisa memberikan apa yang di inginkan suami beserta keluarganya. Tapi begitu tatapannya bertemu dengan kedua bola mata James, Anne kembali tidak bisa mengendalikan diri, dia mengigit bibir bawahnya menahan tangis yang seakan pecah begitu saja. James tentu saja bisa melihat itu semua, hingga dengan segera dia meraih lengan Anne, menarik untuk menjatuhkannya ke dalam pelukannya.


" Aku akan mencoba mengerti dan menerima, maaf untuk sikapku yang kurang dewasa, maaf karena tidak memahami dan membuatmu merasa tidak memiliki suami yang bisa mengertimu. " James semakin mengeratkan pelukannya ketika tangis Anne pecah.


Mungkin dia memang jauh dari kata sempurna untuk bisa memahami kehendak istri, dan apa yang terjadi ini juga pasti cukup membuat Anne merasa sedih dan kecewa dibanding dia ataupun keluarganya.


Di sisi lain.


Ibunya James menceritakan bagaimana kondisi Anne sembari terus terisak kepada teman-temannya. Mungkin memang terkesan tidak dewasa tapi harapannya sebagai Ibu dari anak tunggal tentu saja bisa memiliki cucu kandung adalah hal yang sangat wajar untuknya.


" Kenapa kau tidak minta saja James menikahi wanita lain, tidak usah menceraikan menantumu, biar bagaimanapun menantumu juga harus sadar diri. Dia itu kan tidak bisa melahirkan anak, jadi ya harus siap kalau suaminya menikah lagi untuk mendapatkan keturunan. " Saran ini keluar dari salah satu sahabatnya, terdengar kejam, tapi Ibunya James merasa saran itu juga perlu untuk di pertimbangkan.


" Tidak bisa sembarangan begitu, masalahnya tidak semudah itu karena menantumu itu kan anak dari orang yang sudah membantu perusahaan keluargamu berdiri. Kalau kau menyembarangi anaknya, kau juga harus siap dengan konsekuensinya yang jelas tidak main-main. "


Ibunya James menghela nafas, apa yang dikatakan dia sahabatnya itu jelas lah benar adanya.


" Tapi aku dengar-dengar dulu James malah memiliki hubungan cinta dengan anak pertamanya itu ya? Kenapa kok malah menikah dengan anak keduanya? Kenapa tidak bujuk ana pertamanya saja untuk menikah dengan James, jadi hubungan kekeluargaaan tetap terjalin, dan kau juga bisa punya cucu kan? "


Ibunya James terdiam sebentar, kalau saran yang ini sepertinya benar-benar sangat benar untuknya. Apalagi belakangan di ketahui Angel dan James diam-diam sering bertemu hingga membuat keluarga besar kesal kan? Ini memang jahat, tapi Ibunya james pikir tidak ada yang bisa mengalahkan rencana terbaik ini.


Angel terdiam memandangi photo pernikahannya dengan Gerry. Dia mengingat momen itu dengan jelas dikepalanya, bagaimana Gerry tersenyum bahagia dan menatapnya penuh cinta. Tapi, sayangnya perasaan yang sempat begitu membara itu seolah padam tak tersisa, dia sudah mencoba sebaik mungkin menjalani kehidupan versinya agar menemukan bahagia. Tapi begitu mengingat kalimat Gerry yang mengatakan jika dia tidak akan pernah bahagia kalau saja tidak mengubah cara berpikir mengenai dunia ini.


Angel menghela nafas, bahagia? Rasanya sikap Maruk yang ada di dalam hatinya benar-benar begitu sulit untuk dikendalikan. Dia selalu menginginkan lebih, lebih, dan lebih setiap kali mencapai sesuatu yang menurut orang lain sulit. Sifat seperti itu sudah ada jauh sebelum menikah dengan Gerry, dan sekarang dia benar-benar sadar jika dia harus mencoba meredam sifat itu untuk menjalani hari seperti seharunya.


James, pria itu benar-benar harus dihilangkan diri misi obsesinya, selain karena begitu sakit melihat tatapan sedih dan memohon kedua orang tuanya, dia juga merasa sudah tidak sanggup lagi kalau harus melihat kehancuran Anne. Dia mulai menyadari jika dia begitu terobsesi kepada James yang gagal dia dapatkan sebelumnya, sekarang adalah waktunya untuk mencoba membenahi diri dan meninggalkan apa yang seharusnya tidak dia kejar dengan kebodohannya.


Suara dering ponsel membuat Angel berhenti memikirkan semua hal yang terjadi, dia meraih ponsel itu dan menerima panggilan dari nomor yang tidak dia kenal. Angel terdiam mendengarkan suara wanita yang mengajaknya untuk bertemu dan sekarang dia sudah menunggu di salah satu restauran yang tidak jauh dari Angel tinggal.


Angel menghela nafas, dia meraih tasnya tanpa perduli bagiamana penampilannya.


Tidak sampai tiga puluh menit Angel sudah sampai di sana, dan wanita yang menghubunginya tadi sudah menunggu. Dia adalah Ibunya James, begitu mendapatkan masukan saran dari sahabatnya dia benar-benar tidak membuang waktu dan langsung menemui Angel.


" Apa kabar, bibi? " Sapa Angel sopan seperti sebelumnya saat mereka bertemu.


" Baik, silahkan duduk Angel. " Jawabnya ramah.


" Bagaimana kabarmu, nak? Kau terlihat lesu. " Ujar Ibunya Angel yang justru merasa senang karena berpikir jika Angel pasti tida bahagia dengan suaminya sehingga raut wajahnya seperti itu.


" Aku baik-baik saja. "


Setelah cukup berbosa basi, akhirnya apa yang ingin dikatakan Ibunya James keluar juga dari mulutnya.


" Nak, apakah mungkin bagimu dan James untuk bersama lagi? "


Angel terdiam memandangi wajah Ibunya James dengan tatapan datar.


Bersambung.