
James duduk di lantai dengan wajah syok yang luar biasa, dia terdiam membiarkan air matanya jatuh. Selembar kertas yang Anne tinggalkan membuatnya hancur sehancur hancurnya. Padahal sudah berjanji akan bersama-sama dan menghadapi ini semua, tapi kenapa Anne malah menyerah secepat ini? Sungguh dia marah dan kecewa dengan keputusan Anne untuk pergi begitu saja. Sebenarnya kurang banyak apa dia menguatkan Anne agar tetap bersama, menghadapi semua masalah rumah tangga mereka bersama, dan menua bersama tidak perduli ada atau tidaknya anak.
" Bagaimana bisa kau meninggalkan ku begitu saja hah? " Ucap James sembari memegang erat selembar kertas di tangannya, kertas yang membuatnya seperti tersambar petir di siang bolong, kertas yang membuat hatinya hancur seketika padahal dia sengaja meninggalkan Ibunya yang belum sembuh benar, dia begitu gelisah dan khawatir kepada Anne hingga memutuskan untuk pulang dan melihat keadaan Anne. Sayang sekali karena kegelisahan yang ia rasakan memang mengarah kepada hal yang menyakitkan. Berkat selebar kertas yang di tinggalkan Anne, James kini seperti tak memiliki semangat dalam hidup.
Kak, maaf untuk keputusan yang aku ambil ini. Aku tahu seharusnya aku tidak menyerah begitu cepat setelah berjanji untuk selalu bersamamu. Aku tidak tahan melihat wajah kecewa Ibu, aku tidak tahan melihat wajah tak berdaya Ayah mertua, terlebih aku tidak tahan lagi melihatmu yang begitu serba salah karena bingung bagaimana menenangkan kami. Aku minta maaf karena kukuh dengan perasaan tidak sanggup jika harus membagi suamiku dengan wanita lain, aku tidak sanggup membayangkan jika semua itu terjadi, tapi aku juga tidak boleh menolak karena ini semua tidak akan mungkin terjadi, Ibumu tidak akan memaksa kalau aku tidak memiliki kekurangan seperti ini.
Aku tahu kak James juga menginginkan anak, aku juga harus sadar diri seperti yang dikatakan oleh Ibumu. Kak James dan keluarga tida perlu khawatir, keputusan ini aku pilih dengan sepenuh hati, Ayah dan Ibuku mungkin akan marah, tapi aku pastikan mereka tidak akan menyakitiku keluarga kak James.
Kak, pernikahan kita memang baru berjalan beberapa bulan saja, tapi sungguh aku sangat bersyukur karena memiliki waktu bersama denganmu, aku tidak mengeluh apapun kondisi sebelumnya karena aku benar-benar mencintaimu hingga mengabaikan segalanya. Sebenarnya saat apartemen dulu aku sering sekali sesak nafas, tapi anehnya saat denganmu aku merasa bahwa aku lebih kuat dan baik-baik saja. Aku benar-benar bersyukur untuk hari seperti itu, aku tahu sedikit bagaimana menjadi istri, aku tahu cara memasak meski rasa masakan ku tidak enak, aku tahu cara bagaimana memadupadankan pakaianmu dengan dasi, jam tangan, aku juga jadi tahu kebiasaanmu setiap hari yang tidak akan aku lupakan seumur hidup ini.
Kak, setelah perpisahan kita ini Ibu mertua tidak akan bersedih lagi, kak James juga tidak perlu merasa bingung bagaimana menjaga hatiku dan hati Ibu bersamaan. Kakak pasti lelah kan? Aku benar-benar berharap kak James segera menemukan pengganti yang lebih cocok, sehat dan bisa melahirkan banyak anak untuk kakak dan keluarga.
Jaga kesehatan kak, jangan lupa mematikan lampu saat malam akan tidur karena kalau kakak tidur dengan keadaan terang, biasanya kak James akan terus mengeryitkan dahi, jangan lupa lagi meminum vitamin mu, baik-baik jaga Ibu mertua, sampaikan salamku padanya, semoga semua keinginan beliau terkabul dengan segera, agar keluarga kakak bahagia.
Sekali lagi, maaf dan terimakasih banyak kak.
Seperti itulah barisan kalimat yang di tinggalkan Anne di kertas yang di pegang oleh James.
" Tidak, aku tidak boleh seperti ini. " James bangkit dari posisinya dengan segera, lalu menyambar kunci mobilnya berjalan cepat menuju ke garasi mobil dan segera melakukannya untuk menuju ke rumah orang tua Anne.
***
Angel membuang nafasnya, dia sudah kembali ke rumah dimana dia tinggal bersama dengan Gerry. Sudah sejak beberapa jam lalu Gerry terus menghubunginya membuat orang tuanya yang sedang tidak baik karena memikirkan Anne jadi memintanya pulang ke rumah Gerry, alasannya karena dia tidak ingin Angel dan Gerry bertengkar lagi. Yah, padahal bertengkar adalah hal biasa bagi mereka berdua,m tidak perduli pagi siang sore dan malam.
Mobil Gerry masih terparkir lengkap di garasi mobil, dan jelas sekali dia tidak pergi bekerja hari ini. Oh, ataukah mungkin dia di jemput oleh wanita yang semalam dan berangkat bekerja? Entahlah! Angel ogah lagi menebak-nebak dan memilih untuk masuk ke kamar di mana dia tidur sendiri sekarang.
Bruk!
" Dari mana saja kau? "
Suara berat dan lantang itu tentu saja sudah sangat hafal siapa pemiliknya. Angel bangkit dari posisinya dan menghadap pria yang kini menatapnya dengan tatapan masam tak enak untuk di lihat.
" Dari rumah Ayahku, kenapa? " Tanya Angel dengan mimik malasnya.
Gerry mengeraskan rahangnya, entah mengapa setelah dia mengetahui hubungan Angel dengan James dia jadi tidak bisa mengontrol dirinya sendiri, terutama emosinya. Padahal dia benar-benar tidak ingin berpisah dengan Angel, dia masih ingin bersama Angel, tapi dugaan kalau Angel tidak bisa di luluhkan hatinya dia menjadi begitu kesal dan rasa ingin menyiksa Angel benar-benar membara.
" Apa kau lupa kalau aku masih suamimu, hah?! Apa kau tidak punya mulut sampai kau tidak izin dariku dulu sebelum pergi?! Kau seharusnya mengurusku lebih dulu baru sibuk dengan yang lain! "
Angel membuang nafasnya, tangannya mengepal kuat karena sungguh emosinya membuat dada terasa sesak dan sakit.
" Suami? Kenapa aku harus begitu menurut kepada suami yang terus saja menatapku seperti ingin membunuhku? Kenapa aku harus begitu tunduk patuh kepada suami yang memperlakukanku seperti budak ranjang? Kau pikir kau begitu mulia hingga adanya kau perlu untuk di junjung dan di hormati? Gerry, semenjak kau memukulku, mencekoki obat sialan itu, merekam videoku juga, aku benar-benar sudah menganggap kau adalah seorang iblis. "
" Angel! " Gerry mendekat dengan cepat, mencengkram leher Angel dengan kuat, mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi berniat memukul wajah Angel. Tapi, melihat tatapan sinis dan seolah mengejek membuat Gerry terdiam dalam posisi bersiap untuk memukul.
" Kau lihat sendiri kan? Jadi pikirkan saja baik-baik, wanita mana yang akan tahan denganmu? "
Gerry melemparkan cengkraman tangannya, juga menurunkan tangannya. Sial, dia benar-benar hampir saja memukul Angel dan membuat kesan buruk di mata Angel semakin bertambah.
" Gerry, mari kita berpisah dengan baik-baik. Aku benar-benar tidak akan mengungkit ini sekalipun di masa depan, aku juga tahu kau ingin hidup dengan wanita yang cocok denganmu, jadi berhentilah menghukumku, lepaskan aku dan mari kita hidup bahagia di jalan kita masing-masing. "
Gerry menatap tajam, rahangnya kembali mengeras karena ucapan Angel barusan benar-benar membuatnya sangat marah. Gerry dengan segera meraih dagu Angel mencium bibirnya dengan paksa tida perduli bagaimana Angel terus menolak, dan memaksanya untuk berbaring di atas tempat tidur.
Bersambung.