
" Lakukanlah apa yang kau inginkan, aku hanya akan melihat, aku akan mengamati saat-saat kalian tertawa bahagia, berbagi sedih dan suka bersama. Aku juga hanya akan melihat saat kalian berdua menangis menyesali apa yang kalian lakukan. Sekarang ucapanku memang terdengar sok bijak, tapi percayalah bahwa waktu akan menjelaskan bahwa tidak semua hal akan berakhir baik hanya dengan keinginan membahagiakan sementara seperti yang kalian rasakan saat ini. "
Ucapan Anne waktu itu benar-benar membuat James tak bisa fokus bekerja hari ini. Sungguh dia juga merasa heran dengan dirinya sendiri, bagaimana bisa dia merasa takut hubungannya berubah buruk padahal beberapa waktu lalu dia begitu ingin menendang jauh Anne dari kehidupannya. Apakah dia takut dengan Ayah Bien? Tidak, sepertinya bukan itu alasannya, lalu apa?
James menguap wajahnya dengan kasar, lalu menghembuskan nafas beratnya. Dia ingat benar tatapan kemarahan yang begitu memancar dari mata Anne tadi, entah mengapa mengingat itu membuatnya berharap agar Anne tak terllau dalam salah paham dan mereka akan membaik seperti sebelumnya.
" James? " Panggilan itu membuat James tersentak dan menatap Ayahnya yang baru saja membuka pintu ruang kerjanya.
" Ayah? Ada apa? " Tanya James yang bisa dengan jelas melihat wajah panik dan penat dari Ayahnya.
" Perusahaan kakek mu sepertinya memberikan pengaruh buruk untuk perusahaan kita ini. " Ayahnya James menjelaskan satu persatu masalahnya, membuat James menggeleng heran dengan wajah kesalnya.
" Bagaimana kalau kita minta tolong Bien saja? Dia pasti punya solusi untuk masalah ini. "
James membuang nafasnya, sebenarnya Ayah mertuanya itu pasti memiliki solusi untuk setiap masalah di perusahaan, tapi dia itu juga orang yang sibuk, dia memiliki perusahaannya sendiri yang sangat maju dan tidak yakin kalau masih bisa membantu perusahaan milik Ayahnya James.
" Ayah, kita sudah banyak merepotkan Ayah mertua, kali ini kita atasi masalah ini sendiri saja ya? Mau sampai kapan kita terus menerus mengandalkan Ayah mertua? Aku lelah di anggap tidak memiliki kemampuan, lemah berpikir dan bodoh. Kali ini, mari kita berjuang bersama-sama, Ayah. "
Ayahnya James hanya bisa mengangguk setuju, sebenarnya dia merasa tidak yakin kepada dirinya sendiri, tapi kalau dengan James entah mengapa dia merasa begitu yakin dan pentas menyetujui ide putranya itu. Memang benar selama ini mereka terlalu mengandalkan Ayah Bien sehingga perusahaan mereka berkembang seperti ini juga masih tak hilang bayangan Ayah Bien dan menunjukan benar bahwa James dan ayahnya kurang mampu kalau tidak ada Ayah Bien.
" Bagaimana dan dari mana aku harus memulainya? " Gumam James setelah kepergian Ayahnya. Sekarang bertambah sudah masalah yang harus dia tangani, dia benar-benar hanya bisa berharap dan bergantung kepada dirinya sendiri agar semuanya baik-baik saja pada akhirnya.
Sudah waktunya pulang, James tentu saja pulang ke apartemen karena tidak mungkin juga menginap di kantor atau di tempat lain yang jelas akan membuat salah paham di antara dia dan Anne semakin melebar tak karuan.
Sesampainya di rumah dia perlahan menjalankan kaki, di ruang tamu, di dapur tidak ada Anne, jelas lah Anne pasti sedang berada di dalam kamar. Yah, seperti dugaan James, Anne sekarang benar-benar berada di kamar tengah membaca sebuah buku yang tidak tahu buku apa dan apa juga judulnya.
" Aku pulang. " Ucap James yang tak mendapat tanggapan apain dari Anne, dia masih diam fokus membaca seolah tak mendengar apapun.
Canggung sekali rasanya ingin melakukan apapun karena pagi tadi dia mengangkat bekerja saat Ana sedang marah, padahal dia benar-benar lelah ingin tidur karena tidak tidur semalaman, sebagian tadi juga sama sekali tidak bisa tidur. Perutnya yang lapar tentu saja membutuhkan makanan juga agar nanti tidurnya nyenyak, tapi kalau Anne sedang seperti sekarang ini apakah mungkin dia di buatkan makanan?
" Anne? " Panggil James setelah cukup lama dia memandangi Anne. Padahal dia sudah mandi cukup lama, sekarang pun Anne masih berada di posisi yang sama dan terus membaca buku, apakah dia tidak lelah? Batin James menggerutu.
" Hem? " Jawab Anne singkat karena dia memang malas.
" Aku lapar. "
" Makan, kalau haus minum, kalau mengantuk ya tidur, kalau mulas tinggal buang air besar. "
" Kan tidak ada makanan. "
Ane menghela nafas, dia bangkit tanpa mengatakan apapun untuk keluar dari kamar. Dia berjalan menuju dapur, hanya mie instan saja yang ia masak, tidak perduli dimakan atau tidak, dia benar-benar tidak ingin memikirkannya sekarang ini alias masa bodoh!
James yang mengikuti Anne kedapur hanya bisa diam saja melihat Anne membuatkan mie instan untuknya. Dia menyukai itu jadi itu bukan masalah untuknya, hanya saja yang jadi masalah adalah wajah marah Anne benar-benar membuatnya serba salah sendiri.
Tak mengatakan apapun, Anne meletakkan sering mie instan menggunakan telur, dan juga sosis. Dia menyediakan segelas air minum untuk James juga.
" Kau tidak makan? " Tanya James.
" Memangnya istri mana yang memiliki keinginan untuk makan setelah mengalami kemalangan sepertiku? "
James menelan salivanya sendiri, benar-benar tidak bisa bicara apapun sekarang, lebih baik pura-pura tidak dengar saja dan makan yang banyak dan lahap.
Tak butuh waktu lama James selesai memakan mie instan, dia dengan segera masuk ke dalam kamar dan duduk di sebelah Anne yang juga berada di posisi duduk masih sembari membaca bukunya.
" Kau ingin makan apa? Aku keluar untuk beli ya? "
" Tidak usah, nanti kalau kau keluar beli makanan takutnya kebablasan sampai rumah kakak ku, dan jadi lupa pulang. Meksipun aku bilang tidak akan mencegah mu melakukan apapun, tapi setidaknya jangan menggunakanku untuk kepentingan mu. "
Lagi, James hanya bisa menelan saja ucapan Anne dan menahan diri sebisanya agar tidak membalas sedikitpun ucapan Anne dengan sinis.
" Kita keluar berdua saja bagaimana? "
" Takutnya nanti tiba-tiba ponselmu berdering, lalu meninggalkan ku sendirian, membuatku menunggu berjam-jam seperti orang bodoh sok setia, padahal suaminya malah asik dengan wanita lain entah ingat istri entah tidak. "
Ah, James lagi-lagi hanya bisa memaksakan senyumnya meski dia benar-benar tidak ingin tersenyum. Benar-benar sangat bahaya sekali rupanya membuat Anne marah. Padahal selama ini Anne kan hanya wanita yang pemalu, pipinya mudah merona hanya karena sedikit kata manis saja. Tapi tidak tahunya di balik sikap itu tersimpan mulut tajam melebihi silet.
" Kalau begitu aku tidak bawa ponsel. "
" Tidak mau, nanti kalau kau lupa arah jalan dan mendatangi tempat dimana Kak Angel berada, yang ada aku hanya harus membuang tenaga untuk hal tidak penting lagi. "
Sialan! James benar-benar tidak tahan, dia memilih merebahkan tubuhnya dan akan lebih baik kalau dia tidur saja sekarang.
Bersambung.