
James memeriksa laptopnya karena dia tahu benar jika harus sangat berhati-hati dengan Larisa. Benar saja, rupanya Larisa meninggalkan photo-photo aneh sehingga dengan segera James menghapus semua photo yang sengaja di tinggalkan di sana. Dia juga menyadari benar jika Larisa sengaja menempelkan bibirnya di kerah James sehingga meninggalkan noda merah bekas lipstik di sana. Tidak masalah, James juga memiliki dua setel pakaian yang dia siapkan di kantor untuk berjaga-jaga saat ada hal-hal mendesak yang mengharuskan dia berganti baju, kurang lebih seperti ini juga termasuk alasannya.
Setelah memastikan semuanya bersih, James melanjutkan pekerjaannya dengan perasaan tenang. Sedangkan Larisa, gadis itu kini tengah mencoba untuk membobol keamanan internet di kantor James. Tujuannya hanya satu, yaitu untuk mengetahui apa langkah selanjutnya, dan juga dokumen penting yang sulit untuk dia lihat secara langsung. Maklum saja, James seperti tidak mempercayainya sama sekali sehingga sulit untuknya secara langsung untuk melihatnya.
" James, hati-hati dengan wanita itu ya? Dia sedang mencoba menerobos keamanan. " Ucap Don dari sambungan telepon. Don, sebenernya dia adalah orang hebat dalam hal itu, hanya saja dia yang tidak ingin begitu terekspos hanya bisa menggunakan kemampuannya dari belakang.
James terdiam sebentar, memang benar-benar luar biasa wanita itu, batin James. Setelah di pikir-pikir lagi memang tidak mungkin sekali Arthur memelihara seseorang yang tidak menguntungkan baginya kan? Sekarang dia benar-benar tahu apa gunanya Larisa.
" Don, sebenarnya berapa persen kemungkinan untuk kita menemukan bukti keterlibatan Arthur? "
Agak sulit, dia benar-benar melindungi dirinya dengan bukti. Dia sudah menghapus semua bukti, dia juga sudah membersihkan nama Larisa dan bawahan lainnya. Memang benar tidak ada kejahatan yang sempurna, tapi percayalah kita akan sangat sulit menemukan bukti.
James terdiam sebentar, dia nampak berpikir keras karena tidak mungkin berlama-lama membiarkan Larisa terus membayanginya, dan kalau seperti ini terus menerus, yang ada Larisa juga bisa menjadi hambatan untuk perusahaan melangkah maju.
James, bagaimana kalau kau pecat saja dia?
" Apa?! Bagaimana kalau nanti kita kehilangan umpan? "
Justru ini bisa di sebut kita melepaskan umpan untuk mendapatkan tangkapan besar.
" Maksudnya? "
Biarkan dia di pecat, nanti kita lihat betapa murkanya Arthur. Nanti dia pasti akan bertindak lebih, untuk bagaimana nantinya percayalah kalau kita pasti mampu menghadapinya.
" Baiklah, aku percaya padamu. Sekarang aku perlu mengurusnya, dan masalah kemanan ini akan aku jadikan alasan untuk memecatnya. "
Setelah sambungan telepon terputus, James membuka laptopnya, dia menghubungi orang yang bertugas menjaga keamanan di kantornya untuk memblokir Larisa yang masih terus mencoba untuk menerobos. Don juga langsung bergerak dengan cepat dari tempat dia menjual barang antik, yang tidak jauh dari apartemennya.
Pukul enam sore, masalah Larisa baru saja selesai, dan kini James harus segera pulang ke rumah. Masalah pemecatan Larisa akan di lakukan besok pagi-pagi sekali setelah Larisa datang ke kantor.
Larisa terdiam kebingungan serta kesal karena dia sadar benar dia tidak bisa merusak keamanan perusahaan keluarga James.
" Kenapa? Perusahaan ini kan perusahaan kecil? Bagaimana bisa keamanannya sangat ketat dan berkualitas tinggi? Sebenarnya aku yang sedang tidak konsentrasi, atau memang dugaanku benar? "
Larisa menjauhkan laptopnya dan menutupnya. Dia benar-benar tidak tahu lagi harus bagiamana dengan urusan ini, di lain sisi dia takut untuk menghadapi Arthur, di sisi lain dia juga kesulitan dalam misi kali ini.
Beberapa saat kemudian, James sampai di rumah yang baru saja dia tempati bersama dengan Anne. Ternyata waktu pulang bekerja sekarang ini terasa sangat menyenangkan, berbeda sekali saat dulu awal pernikahan mereka. Dia sering sengaja pulang malam karena malas bertemu dengan Anne. Yah,semua sudah berlalu sekarang hanya tinggal mejalani apa yang seharusnya di jalanani dengan sepenuh hati.
" Anne, aku pulang! " Ucap James begitu dia membuka pintu rumahnya yang tidak terkunci.
" Ayah, Ibu? " James sedikit terkejut melihat kedatangan kedua orang tuanya yang tidak memberi kabar sebelumnya. Mobil Ayahnya juga tidak terparkir di halaman rumah sehingga sangat wajar untuk James kaget.
Anne bangkit dari duduknya, dia membantu James dengan meletakkan tas yang di bawa James. Setelah itu dia kembali dan duduk di sebelah James yang sudah duduk bersebrangan meja dengan kedua orang tuanya.
" Mobil kami mogok, jadi karena dekat dengan alamat rumah baru kalian, Ayah dan Ibu memutuskan untuk mampir kesini. "
" Oh, Ayah dan Ibu menginap saja disini ya? " Pinta James.
" Kau ini sama saja dengan Anne, dia juga meminta kami untuk menginap. Kalian kan masih terbilang baru, jadi tidak enak kami mengganggu kalian. " Jawab Ibunya James.
" Tidak apa-apa kok, Bu. Kami senang kaku Ayah dan Ibu menginap jadi kita ada banyak waktu lebih untuk mengobrol. " Anne menimpali, lalu tersenyum dengan tatapan penuh harap.
" Iya, yang dikatakan Anne benar. "
Ayah dan Ibunya James kompak menghela nafas, mereka tersenyum, lalu mengangguk setelahnya.
" Ya sudah, kami akan menginap malam ini disini. "
Anne dan James kompak terlihat bahagia.
" Oh iya, ngomong-ngomong apa kau sudah ada tanda-tanda, Anne? " Tanya Ibunya James.
Anne mengeryit menatap Ibunya James karena memang tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Ibu mertuanya itu.
" Maksud Ibu? "
" Tanda-tanda kehamilan, apa kau belum merasakannya? "
Anne sontak terdiam, dia tidak bisa lagi berpura-pura tersenyum karena dia tidak. Isa mengontrol diri saat mendengar tentang kehamilan. Dia sedang coba untuk memikirkan bagaimana menjawabnya, tapi ucapan James membuatnya tak bisa berpikir sama sekali.
" Sabar Bu, nanti juga kalau Tuhan memberikan anak kami akan memberitahu Ibu. "
" Iya, tapi saran Ibu sih lebih baik jangan menunda-nunda kehamilan ya? Anak jaman sekarang itu kadang banyak sekali tingkahnya, belum ingin punya anak karena belum siap secara mental dan menteri, belum ingin merasakan tubuhnya berubah gendut, kendur dan lainnya. Nanti kalau di tunda apalagi sampai meminum pil pencegah kehamilan, takutnya keterusan dan jadi mandul seperti menantunya teman Ibu. "
James memaksakan senyumnya.
" Tenang saja, kami berdua akan melahirkan banyak cucu untuk Ibu, kami akan membuat rumah ini ramai oleh anak-anak. "
Ucapan James barusan membuat Anne semakin tidak bisa mengatakan apapun.
" Semoga saja ya nak? Kau kan anak kami satu-satunya, kami benar-benar menginginkan anak supaya kita nanti ada penerus keluarga, kau juga harus segera memikirkan tentang anak ya Anne? "
Anne masih terdiam, dia bahkan tidak sadar kalau sedang mengabaikan tatapan Ibu mertuanya yang terus terarah padanya.
Bersambung.