Perfect Marriage!

Perfect Marriage!
BAB 32 : Salahkan Masa lalu



Anne menatap James yang kini tertidur lelap di sampingnya. Dia berbaring dengan posisi miring menghadap ke arahnya, satu tangannya berada di atas tubuhnya seperti memeluknya. Dia tidak bodoh dan buta karena melihat sisa lipstik yang tertinggal di bibir James sebelum mereka melakukanya tadi. Dia tahu benar sampai batas mana mereka melakukan hal yang di larang, mungkin ini benar-benar membuat wanita lain kesal dengan Anne yang masih saja ingin bertahan, tapi bisa apa dia kalau seorang istri juga punya hak dan kewajiban untuk mempertahankan rumah tangganya?


Ingin kesal dan menyalahkan masa lalu, tapi tentu dia paham kalau masa lalu juga terjadi bukan kehendak mereka. Sekarang James jelas sudah menjadi suaminya, maka biarkan sekali ini dia melakukan segala cara untuk mempertahankan James, dia tidak akan mengalah dan menyerah meksipun saingannya adalah Kakak nya sendiri.


" Kak? "


" Hem? " Jawab James tak membuat mata sedikitpun mungkin karena dia sudah nabati lelah dan mengantuk.


Anne tersenyum, dia merapatkan tubuhnya dan membenamkan wajahnya di dada James membuat pria itu tanpa sadar memeluknya lebih erat. Hal yang biasa saja bagi suami istri lain, tapi ini benar-benar luar biasa membahagiakan untuk Anne.


Esok paginya, Anne bangun dengan begitu semangat menyiapkan sarapan untuknya dan juga James tentunya. Setelah selesai, dia menyusun menu sarapan mereka yaitu roti bakar dengan sedikit madu untuk penambah rasa, juga di temani segelas susu hangat di sana. Tak lama James terbangun, dia terlibat agak canggung saat Anne tersenyum kepadanya, benar-benar seperti anak remaja saja, tapi yah mungkin karena dia juga bukan pria yang bisa mengumbar keinginan dan sembarangan dengan wanita sehingga apa yang terjadi antara dia dan Anne membuatnya merasa canggung meski itu bukan pertama kali untuk mereka.


" Kak, sarapan hanya ini saja tidak apa-apa kan? Nanti aku baru mau belanja kebutuhan dapur. "


James mengangguk saja, ah tapi karena dia ingat benar bahwa Don akhir-akhir ini terus muncul di sekitar Anne saat dia tidak ada membuat James ingin ikut saat Anne pergi keluar nanti, lebih tepatnya dia ingin memastikan apakah kebetulan bertemu Don akan ada saat dia ada di sana.


" Dimana kau akan berbelanja? " Tanya James lalu menyuapkan potongan roti bakar ke mulutnya.


" Di supermaket yang ada di ujung jalan. "


" Jam berapa? "


Anne tersenyum karena merasa jika James pasti ingin mengantarnya dan bisa juga ikut menemaninya kan?


" Kenapa tersenyum seperti itu? " Tanya James yang gagal mengartikan apa maksud senyum yang terbit di wajah Anne.


" Kak James mau mengantarku kesana, atau mau menemani ku berbelanja? "


James menelan salivanya, tatapan matanya yang bertemu dengan mata Anne segera dia mengalihkan ke makanannya.


" Aku kan sibuk, mana ada waktu menemanimu berbelanja? "


Anne menaikan sisi bibirnya, menatap kesal James dengan terang-terangan.


" Untuk Kak Angel saja selalu ada waktu, tapi kalau denganku selalu sibuk bekerja. "


Ucapan Anne barusan benar-benar membuat James tersedak hingga batuk beberapa kali. James benar-benar tidak bisa membalas ucapan Anne barusan, selain dia terkejut karena tidak menyangka jika Anne akan mengatakan itu, ditambah lagi memang dia selalu beralasan jika mengenai Anne.


Setelah selesai sarapan James segera bersiap untuk pergi, tapi karena teringat dia belum tahu jam berapa Anne akan pergi, maka dia jadi bertanya lagi meski merasa agak malu.


" Sore, mungkin sekitar jam lima setelah pulang dari rumah Ayah. Rencananya hari ini aku ingin pergi kesana karena Ibu bilang nenek akan datang ke rumah. " Setelah mendapatkan jawaban yah dia inginkan, James mengangguk saja tak perduli yang lainnya, lalu segera melangkahkan kaki untuk berangkat bekerja.


Seharian ini James menyelesaikan pekerjaannya karena dia berniat menyusul Anne di supermarket nanti. Entah bagaimana dia menjelaskan kepada Anne dan alasan apa yang akan dia katakan saat Anne bertanya kepadanya bagaimana bisa dia berada di sana. Ini sudah lewat pukul lima, pekerjaannya sudah selesai jadi segera dia bersiap untuk mendatangi supermarket yang katanya akan di datangi Anne.


Seperti rencananya, sekarang Anne sudah berada di supermarket tempat biasa dia membeli bahan makanan. Sesuai catatan, Anne mengambil bahan yang ia tulis sebelum berangkat ke supermarket tadi. Mulai dari sayuran, buah, bumbu instan yang biasa ia gunakan, telur, daging, ayam, ikan, tidak ketinggalan buah-buahan juga. Semua sudah ia beli, sekarang hanya tinggal membeli vitamin James yang ia lihat pagi tadi hanya tinggal beberapa butir saja.


" Halo Anne? Kau Anne kan? "


Anne menatap pria tampan yang kini berada di dekatnya sembari tersenyum ramah. Anne mengeryit mengingat siapa pria itu karena sepertinya dia pernah bertemu dengannya.


" Kau pasti lupa kan? " Pria itu menyodorkan tangannya untuk mengajak Anne berkenalan kembali dengan senyum merekah ramah membuat Anne tak memiliki pemikiran buruk tentangnya.


" Aku Arthur, aku adalah sepupu James yang waktu itu bertemu dengan mu di pesta pernikahan adikku. "


Anne segera menarik kembali tangannya, tentu saja dia ingat pria yang membuat James marah dengan begitu menakutkan. Rasanya ngeri sekali mengingat bagaimana James marah sehingga Anne menjadi takut untuk dekat dengan Arthur.


" Ah, jangan begitu membenciku ya? Kesan pertama bertemu dengan mu aku rasa aku tidak begitu buruk deh. Tapi aku yakin kalau James pasti marah padamu ya? Pria itu memang sangat mudah marah, kau sebagai istrinya pasti paham benar kan? "


Anne terdiam tak ingin menggapai lagi, dia sebentar tersenyum untuk bersikap sopan dan ingin segera beranjak dari sana.


" Maaf aku permisi dulu, ada banyak yang harus aku beli, ini kan sudah akan malam dan aku harus memasak untuk kami di rumah. "


" Benar-benar tidak menyangka kalau James akan membuat wanitanya seperti Ibu rumah tangga dengan begitu totalitas. Kau pasti tidak terbiasa dengan dapur kan? Aku rasa dia tidak begitu mencintaimu, karena kalau iya, dia pasti akan memperlakukan mu seperti ratu, bukan babu. "


Anne yang sudah membelakangi Arthur kini terpaksa berbalik dan menatap Arthur dengan tatapan tak suka. Jika benar memang kenapa? Semua ini kan dia yang ingin melakukanya.


" Suami ku pergi untuk bekerja dan memberiku makan, jadi salahnya dimana kalau aku sebagai istri juga ingin melakukan sesuatu untuk suamiku? "


Arthur tersenyum, dia melakukan langkahnya untuk semakin dekat dengan Anne.


" Bekerja? Maaf aku menyakiti hatimu, tapi waktunya bukan hanya untuk bekerja, dia juga terus menemui kakak iparnya diam-diam membuatku takut membayangkan ada kisah tersembunyi apa di antara mereka. "


" Tutup mulutmu, suamiku menemui kakakku atas permintaan ku. " Anne meninggalkan Arthur dengan segera membuat Arthur tersenyum menatap punggung Anne yang semakin menjauh dengan tatapan kagum.


Bodoh dan naif, kau punya sisi menarik yang luar biasa.


Bersambung.