Perfect Marriage!

Perfect Marriage!
BAB 33 : Karena Dia Wanitaku!



James menatap tajam dari kejauhan bagaimana Arthur mencoba mendekati Anne. Iya, dia sudah sampai beberapa detik sebelum Arthur datang mendekati Anne padahal dia sedang berjalan menuju Anne saat itu. Entah kenapa juga Arthur seperti sedang merencanakan sesuatu dan mendekati Anne seperti tadi. Memang dia tidak tahu apa saja yang di bicarakan Arthur kepada Anne, tapi jelas sekali Arthur memiliki niat yang tidak biasa.


James berjalan mendekat, bukan kepada Anne tapi dia mendekati Arthur yang hingga saat ini dia masih menatap Anne dengan senyum dan tatapan mata penuh maksud membuat James kesal luar biasa.


" Tidak menyangka kalau Arthur yang terhormat akan datang ke tempat begini, aku merasa kasihan karena hari ini aku tahu benar bahwa kau sangat kurang kerjaan. "


Arthur mengernyitkan dahi sembari menoleh ke arah sumber suara yang jelas dia hafal sekali siapa pemilik suara itu. James, pria itu menatapnya dengan tatapan yang jelas menunjukkan rasa tak suka, tapi sayangnya Arthur sama sekali tidak perduli dan tidak juga mempengaruhi dirinya. Dia tumbuh dengan percaya diri selama ini, jadi tidak mudah membuatnya merasa rendah apalagi hanya kata-kata dari mulut pria yang selama ini di anggap sampah oleh keluarga besarnya.


" Ah, kau kenapa ada di sini? Bukankah biasanya kau akan sibuk dengan Kakak ipar mu itu? "


James mengeraskan rahangnya, jadi selama ini dia awasi oleh Arthur? Ah, ataukah keluarga Ayahnya yang mengawasi untuk menjatuhkannya? James mengepalkan kedua tangannya menahan diri agar tak sembarangan bertindak apalagi memukul Arthur karena jelas saja itu akan menimbulkan masalah besar untuk keluarganya.


" Ada hal yang boleh kau lakukan, tapi kau juga harusnya tahu apa saja yang tidak boleh kau lakukan. Kau baik-baik lah jadi boneka keluargamu, kehidupan ku jangan sibuk kau mengurusnya. "


Arthur terkekeh geli mendengar ucapan James barusan, benar-benar seperti seorang pria yang bijak, tapi sayangnya Arthur tidaklah menganggap James sehebat itu. Dia ingat benar betapa payahnya James sedari kecil, jadi dia pikir mudah baginya memprediksi apa dan bagaimana tentang James.


" James, kau mungkin tidak tahu, tapi aku akan memberitahu ini kepadamu karena aku pikir ini akan membuat mu sedikit pintar. " Arthur menatap James dengan tatapan serius.


" Perbanyak lah kebodohan mu, pupuk subur perasaan ini karena aku menyukainya. "


James hanya bisa melotot menahan lagi amarahnya yang seperti ingin meledak. Sudahlah, dia memang harus menahannya karena jelas saja Arthur akan memberikan dampak buruk jika dia mau. Sekarang yang harus dia lakukan adalah menjadi semakin baikan setiap harinya agar bisa melawan Arthur dan membuat mulut sialan itu tak bisa mengoceh dengan sombong lagi.


" Berhentilah mengoceh yang tidak jelas, aku muak melihat tampang menjijikan mu itu. "


James tadinya berniat untuk menghampiri Anne yang sepertinya sudah entah berada di sebelah mana, tapi tanpa di duga Anne tiba-tiba berada di dekatnya, memeluk lengannya dengan tatapan yang bahagia dan penuh semangat.


" Kak! "


" Anne? " James tersentak kaget membuat Anne terkekeh menahan tawa karena wajah James saat terkejut benar-benar menghiburnya.


" Kakak datang kesini untuk menemani ku belanja dan pulang bersama kan? "


Sebenarnya James ingin beralasan dengan tidak ada niat untuk kesana, tapi karena ada Arthur mau tidak mau dia harus mengiyakan pertanyaan Anne dan bertingkah mesra untuk menutupi yang sebenarnya.


" Belum, masih harus membeli vitamin kak James. "


" Oke, ayo kita cari yang lain dulu, di dekat sana kan ada orang yang menyebalkan. " Ucap James untuk menyindir Arthur lalu segera beranjak pergi.


Arthur menghela nafasnya.


" James, Anne itu terlalu berlebihan kalau di sandingkan dengan mu. Anak dari pengusaha sukses, tentu saja tidak sebanding dengan mu yang hanya bisa bersembunyi di balik bayangan orang tuamu. Menyedihkannya lagi, usaha orang tuamu juga mengandalkan orang tua Anne. Ckck.... Menyedihkan sekali, kau benar-benar tidak pantas untuk wanita seperti Anne. " Gumam Arthur sembari menatap James dan Anne yang sekian menjauh darinya.


***


" Aku tidak pernah memaksamu untuk memasak, membersihkan rumah, aku juga tidak memaksamu bekerja membantu mencari uang kan? Aku hanya minta tolong hargai aku sebagai seorang suami, aku memang belum mengenal mu dengan baik sebelum kita menikah, tapi aku tidak menolak menerima kurang dan lebihnya diri mu kan? Sedikit saja kita cekcok kau akan langsung kabur, mengadu dengan Ibumu. Sebenarnya, seberapa parah kau ingin membuat wajahku buruk di mata orang tuamu? " Kalimat ini terlontar dari mulut Gerry karena kesal dengan sikap Angel yang suka sekali kabur ketika mereka sedang cekcok, tidak perduli kecil atau besar masalahnya Angel pasti akan mengambil tasnya sembari menangis dan pergi begitu saja.


Ini sudah terjadi beberapa kali jadi Gerry sudah mulai muak dengan Angel, bukan berarti ingin segera mengakhiri hubungan rumah tangganya bersama dengan Angel, tapi dia merasa muak dan berharap Angel tidak lagi melakukan kesalahan itu.


" Asal kau tahu ya, aku ini benar-benar selalu di perlakukan layaknya tuan putri oleh kedua orang tuaku! Mereka tidak pernah membentak, apalagi memintaku melakukan ini dan itu! Kau hanyalah seorang suami, tapi kenapa kau seperti menguasai ku, menguasai duniaku?! " Protes Angel sembari menyeka air matanya. Menurutnya cara Gerry berlebihan dalam kesehariannya. Dia akan terus bertanya apa yang sedang di lakukan oleh Angel, memintanya untuk tetap diam di rumah, dan itu adalah hal yang paling bertentangan dengan keinginanya. Tidak masalah dengan pernikahan itu, hanya saja dia masih ingin bebas seperti sebelumya. Dia pergi kemanapun dia inginkan, pergi bekerja, dia melakukan apa yang dia suka tanpa kenal larangan karena bagaimanapun dia juga menyayangi dirinya sendiri hingga tak mau dirinya dalam bahaya. Tapi Gerry malah seperti mengikatnya, meminta Angel untuk diam di rumah tak melakukan apapun dengan alasan tidak baik terlalu lelah.


Gerry membuang nafasnya, sepertinya dia memang tidak akan bisa menang jika berdebat dengan Angel sehingga Gerry memilih untuk sedikit meredam emosinya.


" Kau maunya bagaimana, Angel? "


" Bebaskan aku, biarkan aku pergi bekerja dan melakukan apa yang ingin aku lakukan. "


" Melakukan apa yang ingin kau lakukan? Sebenarnya kau sadar tidak jika kau adalah seorang istri? Wajib bagimu untuk bertanya bagaimana pendapat ku tentang apa yang ingin kau lakukan. "


Angel menatap Gerry dengan tatapan marah.


" Percumah bicara dengan mu, kau memang tidak akan mengerti apapun! "


Bersambung.