Perfect Marriage!

Perfect Marriage!
BAB 51 : Sekretaris Baru



Anne meletakkan bunga yang dikirim oleh James untuknya. Tak lagi mawar merah, tapi dia mengirimkan mawar putih dengan ungkapan yang begitu manis. Sayang, sungguh sayang sekali karena Anne justru merasa begitu terbebani dengan bunga dan ucapan itu. Di lain sisi dia merasa begitu senang karena setidaknya dia memiliki arti bagi James sekarang, tapi membayangkan kalau saja kakaknya tahu, dia pasti akan sangat sedih kan? Entahlah perasaan mana yang harus diperhatikan saat ini, Anne berharap semua akan berakhir dengan baik-baik saja.


Anne meraih ponselnya, dia melihat begitu banyak pesan yang dikirimkan James padanya, bahkan banyak panggilan terlewat tak dia jawab. Merasa kasihan juga, Anne membalas pesan dari James, memberi tahu jika dia baik-baik, dan Anne juga meminta James untuk menjaga diri baik-baik, makan dengan teratur juga.


" Anne, kita ke taman belakang yuk? Kakak mu baru saja datang loh, kau mau menemuinya kan? " Ucap Ibunya Anne setelah membuka pintu kamar Anne, dia tersenyum setelah mengatakan itu karena dia sama sekali tidak tahu jika hubungan kedua putrinya sedang buruk akhir-akhir ini.


Anne tentu saja tidak bisa menolak, dia mengangguk setuju dan bangkit dengan segera menuju ke arah Ibunya, berjalan beriringan menyusul Angel yang katanya sudah berada di taman belakang. Benar saja, rupanya Angel memang berada di sana, untunglah Angel tak begitu menunjukan suasana hatinya terhadap Anne, akhirnya mereka mengobrol seperti biasanya.


" Angel pulangnya nanti malam saja ya? Biarkan Gerry menjemputmu saat dia pulang bekerja nanti. "


" Aku ingin menginap disini Bu. "


" Syukurlah, kalau begitu Ibu mau pergi masak dulu untuk kalian berdua ya? "


Tak lama setelah itu, Ibu mereka pergi ke dapur untuk memasak makanan kesukaan kedua anak-anaknya. Tentulah dia sangat bahagia dengan berkumpulnya keluarga lengkap jadi memasak di momen Seperti ini sangatlah membahagiakan.


" Bagaimana hubunganmu dengan James? " Tanya Angel dengan wajah datar tak berekspresi membuat Anne sebentar berpikir apakah perlu dia mengatakan yang sebenarnya atau tidak, tapi kalaupun berbohong juga untuk apa? Nyatanya kebohongan tidak akan membawa kebaikan kan?


" Kami baik-baik saja. "


Angel membuang nafasnya.


" Kan berada disini dah James di tempat lain, kau masih ingin menutupi dengan mengatakan hubungan kalian baik-baik saja? "


Anne terdiam, lebih baik memang dia diam saja dulu dan mencari tahu maksud serta tujuan Angel mengajaknya membicarakan tentang James sekarang. Ah, kalau pun di ingat-ingat lagi, setiap kali Angel bertemu dengan Anne yang di tanyakan adalah bagaimana hubungan antara Anne dan juga James. Ingat benar bagaimana wajah kecewa Angel saat dia mengatakan kepada Angel bahwa hubungannya dengan James baik-baik saja. Sekarang Anne benar-benar paham kenapa dan jawaban apa yang sebenarnya di inginkan Angel saat dia bertanya tentangnya dan James.


" Kalian pasti sedang mencoba memikirkan lagi kemana kalian akan membawa hubungan kalian kan? "


Anne tersenyum miris, oh jadi memang jawaban yang dinginkan Angel adalah seperti itu, maka bisa apa Anne sekarang selain mengikuti saja apa yang di inginkan kakaknya?


" Iya, aku sedang ingin merenung, aku ingin berpikir baik-baik agar tidak salah melangkah nantinya. Kakak sendiri yang bilang kalau dengan tubuh lemah ku ini belum tentu aku bisa hidup sampai empat puluh tahun. Dengan waktu singkat itu aku benar-benar harus menggunakan waktu dengan baik kan? "


Angel mengepalkan tangannya, sungguh dia menyesal telah mengatakan itu. Padahal dia hanya ingin asal bicara saja, tapi memang dulu dia pernah mendengar dari Dokter bahwa dengan tubuh Anne yang lemah akan mudah sekali baginya terserang penyakit. Tapi, kalau boleh jujur dia juga tidak ingin kehilangan adiknya, dia ingin Anne hidup lebih lama, memiliki anak, dan mereka juga bisa menua bersama, saling menggoda saat keriput mulai terlihat di wajah mereka.


" Kalau kau tidak keberatan, apa aku boleh menggantikanmu untuk mengurusi James dengan baik? "


James terdiam menatap seorang gadis cantik yang baru saja memperkenalkan diri sebagai sekretaris barunya, sekretaris lamanya entah mengapa tiba-tiba mengundurkan diri tanpa kabar sebelumnya. Anehnya juga sudah ada sekretaris baru yang di rekomendasikan oleh sekretaris lamanya. Memang tidak masuk akal, tapi James hanya bisa diam dan melihat untuk membaca situasi macam apa ini sehingga kebetulan ini nampak sangat ganjal meski tetap saja bukan hal aneh jika sekretaris lama merekomendasikan seorang yang dia anggap mampu menggantikannya dalam pekerjaan.


Larisa, nama gadis itu benar-benar sangat cantik sama seperti parasnya. Senyumnya juga sangat manis dan tatapan matanya mempesona membuat siapa saja yang menatapnya pasti akan jatuh cinta.


" Tuan james, saya akan membutuhkan bimbingan dari anda kedepannya, mohon tegur saja dan peringatkan saya ketika saya melakukan kesalahan. "


James mengangguk tak ingin bicara, sungguh dia masih tidak habis pikir tapi dia juga harus banyak diam di situasi seperti sekarang ini.


" Saya akan membuat teh untuk Tuan ya? "


James terdiam sebentar lalu mengangguk. Sepertinya mantan sekretarisnya sudah menentukan banyak sekali informasi tentang dirinya, buktinya dia sudah tahu kalau James menyukai teh di banding kopi.


Sudahlah, sekarang untuk menghilangkan penat dia mencoba untuk mengirimkan pesan kepada Anne, sembari menunggu balasan, dia melihat photo Anne yang sangat menggemaskan. Tanpa sadar James tersenyum, dia juga mengusap dengan lembut wajah Anne.


" Benar-benar rindu sekali, kau sedang apa? Kenapa jarang membalas pesan dariku? Tahukah kau bagaimana tersiksanya aku saat malah hari? " Gumam James sembari menatap photo Anne.


Larisa yang sudah membuka pintu dengan secangkir teh di tangannya terdiam sebentar melihat James yang menatap ponselnya dengan tatapan rindu. Padahal sedari tadi James hanya menatapnya dengan datar dan sama sekali tidak terlihat terpesona olehnya sedikitpun, wajah siapa yang dilihat James dengan tatapan seperti itu? Batin Larisa bertanya.


" Tuan, ini tehnya. " Ucap Larisa setelah mengetuk pintu kembali agar James berhenti memandangi ponselnya.


" Iya. " James meletakkan ponselnya di meja, sayangnya James juga sudah mengembalikan ke layar utama jadi Larisa tidak dapat melihat siapa yang di tatap James sedari tadi.


" Tuan, ada yang bisa saya kerjakan lagi sebelum saya kembali ke ruangan kerja saya? "


" Tidak ada, terimakasih. "


Larisa mengangguk, setelah itu dia keluar dari ruangan James dan menuju ruang kerjanya.


" Sialan! Tuan Arthur bilang James ini adalah pria yang bodoh dan gampang di goda, tapi kenapa aku merasa James malah seperti pria yang sulit untuk di gapai? " Larisa membuang nafasnya, dia kembali tersenyum dengan tatapan yang begitu dalam.


" Tidak apa-apa, aku jadi semakin tertantang untuk bisa mendekati James, tapi aku harus cari tahu dulu siapa wanita yang ada di ponsel James tadi. "


Bersambung.