
James terperangah dengan tatapan terkejut begitu mendapati Arthur keluar dari gerbang utama. Yah, memang dia menggunakan mobil, tapi James yakin benar jika itu adalah mobil Arthur, bahkan plat nya juga sama dan semakin yakin saja James jika itu benar-benar Arthur.
Sudah merasa khawatir sedari kantor tadi, dan begitu semakin di rumah Anne dia justru mendapati Arthur baru saja keluar dari rumah Anne. Entah ini kebetulan atau apa, tapi yang jelas dia benar-benar tidak akan bisa menerima kalau sampai Anne di rebut oleh Arthur. Segera James keluar dari mobilnya, dia menghampiri satpam yang berjaga di rumah orang tua Anne berharap dia boleh sebentar saja untuk masuk dan menemui Anne.
" Pak? "
" Eh, Tuan James? Ada apa? " Tanya satpam itu dengan ekspresi yang sungkan. Yah, bagaimanapun James kan adalah suami dari anak majikannya, tapi dia harus memperlakukan James seperti orang asing tentu saja ini tidaklah mudah juga untuknya.
" Pak, bisa minta tolong sampaikan kepada Ayah mertua, atau kepada Anne langsung bahwa saya menunggu untuk bertemu. Tolong kak, please.... "
Satpam rumah menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sebenarnya dia sudah di ingatkan berkali-kali untuk tidak mempersilahkan James masuk, alias jangan membuka gerbang untuk James sebelum Anne memerintahkan mengentikan karangan itu. Tapi mau bagaimana lagi? Satpam rumah juga bingung karena mereka adalah sama-sama majikannya kan?
" Sebentar ya, Tuan? Saya masuk dulu dan minta izin dai Tuan Bien atau Nona Anne nya langsung. "
James mengangguk dnegan semangat membuat si satpam lebih merasa tidak enak lagi. Padahal dia hanya ingin berpura-pura masuk saja lalu keluar lagi dengan mengatakan jika Tuan Bien dan Nona Anne sedang mengerjakan pekerjaan mereka sendiri dan tidak bisa di ganggu, tapi ekspresi James benar-benar membuat si satpam merasa bimbang.
Seperti yang dia ucapkan tadi, satpam rumah berjalan masuk dan berdiri sebentar di dalam supaya James yakin kalau dia benar-benar sudah menyampaikan itu kepada James.
" Pak, ada apa kok berdiri di situ? " Tanya Anne yang baru saja selesai bicara dengan Ayahnya mengenai brosur untuk Anne melanjutkan S2 nya nanti.
" Eh, anu Non, ada Tuan James di depan. Dia meminta saya untuk menyampaikan kepada Tuan besar, atau kalau tidak dengan Nona secara langsung bahwa Tuan James ingin sekali bertemu dan bicara sebentar saja. "
Anne terdiam sebentar, sebenarnya akan lebih baik kalau dia tidak menemui James sama sekali agar dia tidak merasa berat saat pergi untuk menempuh S2 nya di luar negeri nanti. Tapi, untuk kali ini saja, sebelum dia pergi ke luar negeri dia ingin melihat secara langsung wajah James, dia ingin berbicara sebentar untuk menghilangkan kerinduan terhadap suaranya juga.
" Pak, biar saja aku akan temui dia. "
Satpam sebenar seperti tidak percaya dengan apa yang dia dengar, tapi melihat ekspresi Anne dia jadi merasa ajak lega karena nyatanya pendengar nya masih oke.
" Ya sudah Non, saya bukakan gerbangnya ya? "
" Tidak usah, pak! Saya akan bicara tanpa membuka gerbang kok. "
" Oh, oke deh kalau begitu. "
Anne menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya perlahan berharap perasaan gugup yang ia rasakan sedikit berkurang karena bagaimanapun dia juga tidak bisa terlalu terlihat gugup di hadapan James dan membuat James mencoba untuk mendapatkan hatinya dan perlahan menarik keputusannya dan kembali kepada James.
" Kak? "
Mendengar suara Anne bergegas James berbalik dan melihat apakah benar apa yang dia dengar barusan. James terdiam mematung, dia menatap kedua bola mata Anne yang menatapnya dengan sendu. Rasanya ingin memeluk Anne, menghirup aroma tubuhnya yang membuatnya rindu, tai sayang bahkan pagar gerbang saja bisa menjadi pemisah di antara mereka.
" Anne? " James semakin dalam menatap Anne seolah ingin menyampaikan betapa besar rasa rindu yang ia rasakan terhadapnya hingga membuat mata James memerah seperti ingin menangis.
Anne tersenyum kelu, dia menggeleng untuk menolak permintaan James membuat James merasa begitu sedih dan kecewa.
" Kak, aku tahu kak James selalu datang dan melihat dari jauh, tolong jangan begitu lagi ya? Aku terlalu sedih harus melihat kak James seperti itu. Jangan merasa bersalah terhadapku, aku melakukan semua ini untuk kakak dan keluarga kakak. Aku baik-baik saja jadi jangan terbebani ya? "
James menatap wajah Anne yang begitu mudah tersenyum meski matanya sangat menjelaskan jika dia juga begitu sedih dengan perpisahan, kondisi hubungan mereka berdua. Tapi, masalah terbesarnya adalah, Anne menyangka kalau James terus datang kesana berharap pagi siang malam untuk bertemu dengannya adalah karena sebua rasa bersalah? Tidak, bukan itu! Dia tidak hanya merasa bersalah, tapi yang membuatnya melakukan semua itu adalah karena dia mencintai Anne.
James memasukkan tangannya untuk meraih wajah Anne dan membuat tatapan mereka benar-benar bertemu agar dia bisa menunjukan kepada Anne betapa seriusnya dia mengenai apa yang ingin dia katakan kepada Anne.
" Kak! " Anne mencoba menjauhkan tangan James, tapi melihat tatapan mata James Anne tiba-tiba saja merasa tidak bisa mengatakan apapun atau melakukan apapun.
" Anne, aku datang dengan harapan bisa melihatmu bukan karena aku merasa bersalah, tidak, aku memang merasa bersalah, tapi dibandingkan perasaanku tentu saja itu bukan apa-apa. Anne, aku benar-benar menci- "
" Apa yang kau lakukan disini? "
James menoleh ke arah sumber suara yang sepertinya berasal dari balik punggungnya. Sontak Anne menjauhkan tubuhnya membuat tangan James juga terlepas dari wajahnya.
" Ibu mertua? " Ucap James begitu berbalik dan ternyata itu adalah Ibu mertuanya.
" Kau menghalangi mobilku, aku mau masuk. "
James terdiam, sungguh ini baru kali pertama untuknya melihat betapa dinginnya tatapan serta nada bicara Ibu mertuanya saat berbicara dengannya.
" Maaf, Ibu mertua. Aku hanya ingin sebentar berbicara kepada Anne. "
Ibunya Anne menghela nafas, dia menatap Anne yang terlihat wajahnya saja dari celah gerbang.
" Masuklah nak. " Titah Ibunya Anne yang langsung mendapatkan anggukan dari Anne dan segera dia beranjak pergi.
" Aku tidak mengerti harus bagiamana dan mengatakan apa kepada putriku. Bagaimanapun sebenarnya aku tidak boleh ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian berdua, tapi aku bisa apa kalau Ibumu saja bisa melakukannya? "
James menunduk karena memang dia merasa bersalah karena Ibunya.
" Maaf, Ibu mertua. "
" Tidak, kau tidak perlu meminta maaf karena ini bukan salahmu. Tapi, usahakan untuk memperingati Ibumu agar tidak sembarangan membuka mulut menceritakan tentang putriku sesukanya. Katakan juga padanya, jangan memaksaku bertindak jahat. Kau, juga tahu benar bagaimana aku dan suamiku mencintai putri-putri kami kan? Jangankan menyakiti, kami bahkan siap membunuh tanpa merasa bersalah jika untuk membela putri kami. "
Bersambung.