Perfect Marriage!

Perfect Marriage!
BAB 82 : Pilihan Terbaik



James menatap laporan keuangan bukan ini dengan tatapan datar, memang ada perubahan setelah James memperbarui sistem kerja para karyawan, dan sekarang semuanya sudah terbilang membaik sebelum adanya mantan sekretaris yang dulu diam-diam menjadi mata-mata untuk Arthur.


Hari ini, James sudah benar-benar bertekad bahwa dia tidak akan banyak membuang waktu lagi. Bukan tidak ingin memikirkan tentang Anne dan mencari cara untuk membawa istrinya kembali, tapi dia membiarkan Anne untuk sebentar tenang seperti saran dari Don. Sembari menunggu Anne, dia benar-benar harus fokus dengan pekerjaannya yang sudah harus segera di rampungkan karena seperti yang di katakan Ayah Bien, dia benar-benar menarik diri dari perusahaan keluarga James dan membuat beberapa investor mulai meragukan kemampuan James dan juga Ayahnya.


Tak ingin mengecewakan mereka, James kini memfokuskan dirinya untuk benar-benar membuktikan kepada Ayah Bien dia mampu melakukanya agar setidaknya dia tidak begitu khawatir lagi untuk menyerahkan putrinya kepada James.


Untuk masalah Arthur, Larisa dan mantan sekretarisnya, James dan Don memutuskan untuk menggunakan semua barang bukti agar bisa memeras Arthur untuk menjual sahamnya dengan harga murah, memeras Larisa untuk mendapatkan lebih banyak bukti untuk menekan Arthur, dan dia akan menggunakan mantan sekretarisnya untuk memperlancar rencana kepada Arthur dan Larisa. Sejauh ini rencana masih terbilang mulus sehingga James bisa lebih fokus mengurus masalah perusahaan terlebih dulu.


***


Anne menjauhkan ponselnya setelah membaca pesan yang di kirimkan oleh Ibu Nori kepadanya. Anne sengaja menggunakan ponsel dan nomor lain untuk menghubungi Ibu Nori dan menanyakan bagaimana keadaan James, maklum saja karena beberapa waktu terakhir dia benar-benar terus memikirkan James dan hanya ingin tahu saja bagiamana keadaan James karena sulit juga baginya menahan kegelisahan itu.


Rupanya Ibu Nori menyampaikan banyak pesan yang membuat Anne merasa jauh lebih bersalah dari pada sebelumnya. Ibu Nori memberitahu jika James sering pulang ke rumah dalam keadaan mabuk, bertengkar terus menerus dengan Ibunya tiada henti. Anne sendiri juga tahu benar jika James pasti kurang istirahat karena sebagian waktunya untuk bekerja, lalu untuk mengintainya, dan mabuk saat malam hari. Yang lebih menyesakkan adalah, Ibu Nori memberitahu jika Ibunya James sampai menampar James berkali-kali saat James terus membelanya.


Jika saja itu Anne beberapa saat lalu, dia pasti akan memilih untuk lari dan mengejar James tidak perduli dengan yang lain. Tapi, kalau ingat Ibunya James yang marah sampai sakit, kemudian pertengkaran James dan Ibunya yang di sampaikan oleh Ibu Nori, dia benar-benar tidak sanggup kalau haus menyaksikan lebih banyak pertengkaran yang pada akhirnya hanya akan menyakiti satu sama lain, bagaimanapun mereka adalah keluarga, tentu saja Anne merasa bersalah juga kalau sampai keluarga suaminya berantakan hanya karena kekurangannya itu.


Anne terdiam sebentar sembari berpikir, lalu setelah dia merasa mantap dengan keputusannya, Anne berjalan untuk menemui Ibunya yang kini sedang membuat pie apel karena sebentar lagi Angel akan datang kerumah mereka.


" Hai Bu? " Sapa Anne.


" Iya, sayang? Ada apa? " Ibunya Anne tersenyum tapi ga menghentikan laju tangannya yang tengah membuat adonan untuk pie apel.


" Bu, bagaimana kalau aku kuliah lagi? Setelah aku pikir-pikir mengambil S2 adalah hal yang menyenangkan, sekalian aku mau juga les melukis. Tapi boleh tidak kalau kuliahnya di luar negeri saja? "


Ibu terdiam karena terkejut, dia menatap kedua bola mata Anne yang seperti benar-benar ingin pergi keluar negeri. Jika saja yah mengatakan ingin pergi keluar negeri adalah Angel, mungkin saja dia akan cepat memberikan jawaban. Bukan tidak perduli kepada Angel, hanya saja Angel memiliki fisik yang jah lebih kuat kalau di bandingkan Anne. Tentu saja dia sebagai seorang Ibu merasa berat kalau untuk mengiyakan permintaan Anne barusan.


" Kok Ibu diam? "


Ibu melanjutkan apa yang sedang di kerjakan tangannya.


" Nanti saja tanya Ayahmu ya? "


" Iya, aku tahu kok Ibu akan menjawab seperti itu. Tenang saja Bu, Ayah pasti mengizinkan aku pergi kok. "


***


Gerry menatap Angel yang kini sedang menikmati sarapannya. Ingat benar tatapan tidak perduli Angel saat dia tengah memegang tubuh Meta seolah benar-benar Angel sudah tidak memiliki perasaan apapun, atau sedikit saja cinta untuknya. Sakit? Iya tentu saja dia merasa sakit dan kecewa karena perasaan yang ia miliki untuk Angel justru tak juga mendapatkan balasan yang sesuai keinginanya.


" Berhentilah menatapku seperti itu, aku sangat tidak nyaman. " Ucap Angel tapi dia benar-benar tidak berniat menatap Gerry sama sekali membuat pria itu semakin menahan kesal.


Angel meletakkan sendok dan garpu yang ia pegang, lalu menatap Gerry dengan tatapan yang tak bisa untuk Gerry artikan.


" Bukankah yang haram adalah aku? "


" Sebenarnya ke arah mana kau ingin membawa pembicaraan ini? " Tanya Gerry dengan tatapan dingin.


" Ke arah mana aku tentu saja tidak bisa memilih, benar kan? "


Gerry sebentar membuang padangan, lalu kembali menatap Angel.


" Sadarlah seberapa besarnya kesalahan yang sudah kau lakukan padaku, ingatlah seberapa besar pengkhianatanmu sebagai istriku. Seharusnya, kau meminta maaf dengan bersungguh-sungguh agar aku bisa memaafkanmu, bukankah dengan begitu kita akan hidup dengan normal seperti kebanyakan pasangan suami istri lainnya? "


Angel tersenyum dengan tatapan tak percaya.


" Kau ini sedang membicarakan apa sebenarnya? Kesalahan apa? Pengkhianatan apa? Gerry, kau ini sebenarnya kerasukan apa sampai tiba-tiba membahas masalah ini di saat kita sedang sarapan? "


" Minta maaflah padaku dengan bersungguh-sungguh, asalkan kau tidak melakukan kesalahan yang sama, aku pasti akan memperlakukanmu lebih baik dari pada sebelumnya. "


Angel bangkit dari duduknya berniat ingin meninggalkan meja makan karena jengah dengan apa yang di bicarakan oleh Gerry.


" Aku bilang minta maaflah padaku! "


Angel membuang nafas kasarnya, berbalik badan dan kini menatap Gerry yang juga tengah menatapnya dengan tajam.


" Untuk apa yang terjadi antara aku dan James, sejujur apapun aku menjelaskan kau tidak akan pernah mempercayainya, Gerry. Tentang meminta maaf, lalu bagiamana denganmu? Berkaca lah dan ingat baik-baik apa yang sudah kau lakukan padaku, dan apa yang kau lewatkan satu bulan setelah pernikahan sehingga pada akhirnya aku terus mencari James untuk berbagi kesedihan denganku. "


Gerry mengeryit bingung menatap Angel yang seolah menjelaskan sebuah masalah yang cukup mengusik.


" Apa? Apa yang aku lakukan? " Tanya Gerry bingung.


Angel tersenyum miring.


" Kau bilang kau mencintaiku, tapi photo wanita lain lah yang ada di dompetmu. Keluarkan saja dompetmu dan lihat apakah benar ucapanku atau tidak. Kalau kau ingin tahu lebih banyak, buka email mu beberapa hari setelah kita menikah, perhatikan dan baca baik. " Angel bergegas pergi meninggalkan Gerry yang kebingungan sendiri.


Bersambung.