
Anne dan Angel kini berada di ruangan yang sama, Ibu mereka kini tengah keluar rumah sakit untuk membeli makanan ringan yang di inginkan Angel.
" Anne, waktu itu sebelum aku pingsan aku benar-benar mendengar suara James memanggil namaku. Bukankah itu menandakan jika dia masih memiliki perasaan untukku? Aku tahu ini terkesan tidak tahu diri, tapi aku sulit sekali menahan diriku, apalagi setelah menjalani rumah tangga bersama Gerry yang tidak sesuai ekspektasi ku. Aku jadi kesulitan sekali melupakan James, dia itu sangat baik padaku berbeda cara dari dia memperlakukanmu. "
Anne terdiam, kenapa lagi Angel mengatakan itu? Apakah belum cukup selama ini menyakitinya hingga berkali-kali? Anne menatap kedua bola mata Angel yang terlihat begitu pilu. Bohong jika saja dia tidak kasihan, tapi dia juga kesal karena rasa sakit yang ia rasakan.
" Kalau begitu, aku bisa apa? Terserah jika pada akhirnya James akan memilih kakak. Tapi kakak juga tidak bisa begitu saja dengan pernikahan kakak, kakak ipar juga seorang manusia, seharusnya kakak juga mementingkan perasaannya kan? Aku sendiri sudah lelah, kalau memang pada akhirnya James tetap menuju ke arah kakak, maka memang sudah nasibku seperti ini. Aku akan menerima dengan lapang dada meski rasa sakit itu tetap ada. "
Angel sedikit tersenyum, dia tahu jika itu memang menyakiti adiknya, tapi dia benar-benar tidak bisa membohongi dirinya sendiri karena rasa bahagia, setidaknya jalan untuk bersama James sudah sedikit terbuka.
" Kau pikir kau bisa melakukanya jika aku tidak mengizinkannya? "
Angel dan Anne menoleh ke arah yang sama, dia adalah Gerry yang sudah berdiri di ambang pintu entah sejak kapan dia berada di sana.
" Otakmu tidak ada kah? Kau apa tidak punya sedikit saja empati terhadap adikmu sendiri? Kau memintanya untuk menjanda, kau begitu terobsesi dengan adik iparmu ya? Ingatlah ucapanku ini baik-baik, Angel. Meskipun pada akhirnya kau bisa bersama dengan James, kau tetap akan merasa tidak bahagia. Kau tahu kenapa? Karena kau hanya membayangkan kebahagian, kau selalu menggambarkan kesempurnaan di kepalamu, kau ingin dunia berjalan seperti yang kau inginkan, kau menolak sekuat tenaga realita yang ada. Sampai matipun kau tidak akan pernah merasa bahagia dengan pola pikir super bodohmu. "
Angel mengigit bibir bawahnya menahan kesal, sungguh dia menyesal telah menikahi Gerry, sungguh dia menyesal karena satu malam kelam yang membuatnya terikat dengan Gerry. Padahal awalnya dia pikir Gerry adalah pria yang baik, berpendidikan, lahir dari keluarga yang mapan, dan dia juga sangat tampan. Tapi siapa sangka menikahi pria idaman banyak wanita juga tak membuatnya bahagia, dia justru terus mengingat James dan terbiasa membandingkan antara Gerry dan James, mencari bagian mana yang kurang dari Gerry dan menganggap James mampu melengkapi apa yang tidak bisa Gerry lakukan.
" Kau tidak akan memahamiku, Gerry. Itu adalah masalah terbesarnya, kau tidak tahu apa yang aku inginkan, kau tidak tahu apa yang membuatku bahagia. "
Anne mengeratkan cengkraman tangannya yang sedari tadi mencengkram selimutnya.
" Bukan aku yang tidak bisa memahami, Angel. Kau sendirilah yang tidak bisa memahami diri sendiri, kau gagal dalam mengenali bagaimana dirimu sendiri, kau tidak akan pernah bisa mengerti dirimu sendiri dengan siapapun pria di sampingmu. "
" Bisakah kalian bicara di luar ruangan ini? Aku, sungguh tidak sanggup mendengar perdebatan kalian, tolong jangan berdebat disini lagi. " Pinta Anne sembari menahan tangis. Sungguh dia tidak tahan melihat bagaimana kerasnya usaha Angel untuk terus bersama James, dan itu sangat menyakitkan untuknya. Kenapa dia harus mencintai pria yang sama dengan kakaknya sendiri? Kenapa dia dan juga kakaknya tersiksa oleh perasaan sendiri? Pantaskah mereka bertengkar, bermusuhan dan saling menyakiti hanya untuk seorang pria?
" Anne, jangan memikirkan hal macam-macam, percayalah saja dengan apa yang kau jalani. Kakakmu tidak akan pernah menemukan kebahagiaan selama dia tidak mengubah cara berpikirnya, dan membuka mata lebar-lebar untuk bisa menyeimbangkan antara keinginan dan kenyataan. Dia biar aku yang urus saja, kau istirahatlah lagi ya? " Gerry tersenyum kepada Anne, dia bahkan mengusap kepala Anne dengan lembut. Bukan sok baik, tapi melihat Anne terus mengingatkan dia dengan adik perempuannya yang meninggal sekitar dua belas tahun lalu karena sebuah kecelakaan lalu lintas.
" Kau harus di didik untuk lebih patuh rupanya. " Gerry dengan tatapan dingin meraih pegangan kursi roda yang di gunakan Angel, mendorongnya dengan tatapan yang tidak biasa, atau lebih tepatnya tatapan kesal. Beberapa saat mereka sudah sampai di kamar semula Angel di rawat. Tidak mengatakan apapun, Gerry mengangkat tubuh Angel dan memindahkannya ke brankar.
" Angel, kau tahu aku tidak pernah main-main dengan ucapanku kan? " Ucap Gerry sembari menekan dagu Angel kuat membuatnya meringis kesakitan.
Gerry tersenyum senang mendengarnya.
" Katakanlah saja, akan aku nantikan bagaimana respon kedua orang tuamu. Coba kau inga baik-baik, apa aku pernah memukulmu? Tidak kan? Kau tidak akan mendapatkan pembelaan apapun. Ah, apa kau ingin mengadukan bagaimana kita begitu semangat melakukan hubungan suami istri beberapa waktu terakhir ini? Kau ingin mengadukan kepada orang tuamu, apa kau ingin melaporkan kepada polisi bahwa aku, suamimu sendiri melecehkanmu yang adalah istriku sendiri? "
Angel terdiam tak bisa membantah apa yang dikatakan Gerry. Benar saja, jika seperti itu bagaimana dia akan mengadukan kepada orang tuanya? Bagiamana mungkin tuduhan seperti itu akan pantas di anggap kriminal? Bahkan anak kecil saja bisa menertawakannya bukan?
" Kau pasti sengaja kan? Kau pasti sengaja menyakitiku, menyiksaku dengan cara itu agar kau tidak bisa dihukum oleh siapapun?! "
Gerry tersenyum miring, tak sengaja dia melihat handle pintu tergerak, semetara Angel masih terus mengoceh jadi mau tidak mau Gerry mencium bibir Angel, karena masihlah Angel ingin memberontak Gerry jadi menggigit bibir Angel membuatnya berteriak dengan bibir tertutup rapat. Dengan segera Ibunya Angel kembali keluar dari sana karena tidak ingin mengganggu putri dan juga menantunya. Sesampainya di luar dia hanya bisa mengusap dadanya, pagi tadi dia melihat James dan Anne berciuman, sekarang Angel dan juga Gerry.
" Apa anak jaman sekarang begitu bersemangat? " Gimana Ibu sembari memegangi wajahnya yang panas dan memerah karena merasa malu sendiri.
Di ruangan Anne kini James sudah kembali ke sana.
" Ada yang bisa aku bantu tidak? " Ucap James dengan tatapan yang begitu lembut penuh perhatian membuat Anne justru terlihat sedih. Sungguh dia tak sanggup melihat wajah seperti itu dari James di saat dia memiliki keinginan untuk berpisah.
" Kak, mari kita bercerai saja ya? Aku akan mengalah, aku juga tidak sanggup melihat kakakku bersedih. Dokter juga bilang bahwa dengan tubuhku yang lemah ini aku belum tentu akan hidup sampai empat puluh tahun. " Ucap Anne lalu menitihkan air mata.
James terdiam sebentar, lalu dia menggerakkan satu tangannya untuk menyentuh lembut wajah Anne.
" Tidak mau, aku tidak mau bercerai. "
" Tapi kakak mencintai kakakku. "
" Aku, tidak akan bercerai, juga tidak akan memikirkan cinta itu lagi. "
James semakin mendekatkan wajahnya untuk mencium Anne yang terus menitihkan air mata, dan lagi-lagi Ibu yang akan masuk terpaksa keluar lagi karena tidak ingin mengganggu dan membuat suasana menjadi canggung untuk mereka.
Bersambung.