
James keluar dari kamarnya dengan penampilan yang sudah rapih, seperti biasanya, James akan langsung bergabung ke meja makan untuk sarapan bersama Anne. Tak ada obrolan apapun karena Anne masih terlihat tidak mood untuk di ajak bicara. Perlahan James mengambil posisi untuk duduk, mengisi nasi goreng ke piring yang sudah di siapkan Anne.
" Brep....! " James menyemburkan nasi goreng itu karena merasakan dengan jelas betapa asin dan tidak karuan rasanya.
" Anne, kau sengaja ya? Kenapa nasi gorengnya asin sekali? " Protes James, dia sebenarnya ingin protes lebih panjang lagi dengan menuduh Anne sengaja melakukannya karena ingin membuat James naik tensi darahnya, jatuh sakit dan meninggal. Tapi, begitu melihat Anne tak ada berhenti memakan nasi goreng itu, dengan segera dia mengambil sendoknya lalu dia mengambil nasi goreng yang ada di piring Anne dan mencobanya. Hah! ternyata sama saja rasanya juga sama asinya seperti nasi goreng yang tadi dia makan, tapi kenapa wajah Anne biasa saja bahkan dia terlihat begitu menikmati nasi goreng yang super asin itu.
" Anne, lidahmu tidak begitu mati rasa sampai tidak bisa merasakan rasa asin yang sangat luar biasa ini kan? " Dengan tatapan mata tak percaya James bertanya karena memang dia merasa keheranan sendiri melihat Anne yang seperti tak merasakan apapun di nasi gorengnya.
Anne menghela nafas, tentu saja dia bisa merasakan bagaimana tidak enaknya nasi goreng yang ia buat dia juga tahu bahwa rasanya sangatlah asin. Tapi dia terlalu lelah kalau harus membuat nasi goreng lagi ditambah dia juga masih malas melakukan apapun setelah apa yang terjadi kemarin.
" Lidahku mati rasa seperti hatiku yang sudah tidak merasakan apapun sekarang kecuali kesedihan, entah itu keasinan, entah itu kemanisan, entah itu kepahitan, aku tidak bisa perduli rasa karena semua masakan atau makanan saat ini tidak ada yang enak untuk aku makan. "
James menelan ludahnya sendiri, lagi-lagi dia bingung harus bagaimana menanggapi ucapan Anne, tau sih dia juga sadar kalau dia masih tidak bisa sembarangan berbicara karena dia memang bersalah kepada Anne, Tapi anehnya sejak kapan dia mau mengalah seperti ini?
" Anne, kalau kau masih tidak bisa memperbaiki mood mu, bagaimana kalau kita pergi berlibur Minggu besok? "
Anne menghela nafasnya, membicarakan soal liburan akhir pekan tentu dia jadi mengingat beberapa saat lalu saat dia pergi bersama James juga Kak Angel bersama Gerry juga, dia malah jadi badmood parah jadi dia malas membicarakan akhir pekan.
" Mau menelpon kakakku juga tidak? "
" Ti tidak lah, kita berdua saja. "
Anne melirik dengan tatapan sinis.
" Baiklah, aku akan lihat seberapa kuatnya kau bisa memenuhi janjimu. "
James memaksakan senyumnya, gila! Dia benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi Anne semarang ini. Dia sama sekali tidak pernah berbicara dengan wajah malu-malu lagi, dia menunjukan betapa dia tidak suka dan rasa marahnya membuat James harus benar-benar berhati-hati jangan sampai membuat ulah lagi sehingga akan semakin buruk saja masalah di antara mereka nanti.
Setelah selesai sarapan, James membenahi bekas makannya, dan meletakkan piring ke wastafel. Di saat itu pula ponsel James berdering, satu notifikasi pekan yang tak sengaja bisa Anne baca, dan lagi-lagi adalah dari Angel. Dia mengajak untuk bertemu dan membicarakan satu masalah, Anne menghela nafas, dia benar-benar sudah tidak mau berharap banyak kepada James apalagi dengan kakaknya yang terlihat tidak mau melakukan apa yang dia minta.
" Aku berangkat dulu ya? "
" Hem... "
" Anu, kalau kau mau nanti malam kita bisa makan malam di luar, nanti kau tunggu saja aku pulang. " Sebenarnya James sendiri tidak tahu kenapa dia mengajak Anne untuk makan malam, padahal dia saja ingat benar kalau malam kemarin dia mendapat tanggapan dingin dan sinis, seharunya dia cukup trauma kan?
" Lebih baik jangan membuat janji, kau itu kan paling suka memberikan janji, tapi selalu saja mangkir dengan alasan, pulang dengan wajah tidak bersalah. Kalau saja aku adalah istri di luaran sana, mungkin saja aku sudah akan meraung-raung. Tapi sayangnya aku sudah masa bodoh dengan semua janjimu. "
James menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sudahlah memang lebih baik dia berangkat bekerja saja dari pada mendengarkan kalimat tidak mengenakan dari mulut Anne.
***
Prang!
Semua barang yang ada di kamar Gerry dan Angel berantakan, berhamburan karena kemarahan dari keduanya. Gerry melemparkan ponsel Angel ke dinding kamar karena kesal, Angel batu saja pulang kerumah, Gerry yang sedari kemarin begitu khawatir tentulah bertanya baik-baik meskipun jelas dia begitu marah kepada Angel yang suka sekali kabur-kaburan ketika sedang marah.
Angel, wanita tak terima karena ponselnya di lempar ke dinding hingga hancur berantakan.
" Deni Tuhan aku menyesal menikah denganmu! "
Gerry mengepalkan tangannya, sungguh dia kesal dengan Angel yang masih terus menunjukan betapa tidak harmonisnya rumah tangga mereka. Padahal satu bulan setelah menikah kehidupan mereka baik-baik saja, hanya karena menegur dan bertanya kepada Angel kenapa memanggilnya sayang saat mereka melakukan hubungan suami istri, Angel malah menjadi begitu marah, dia kesulitan menahan diri semenjak itu dan terus mengatakan betapa dia menyesal sudah menikah dengan Gerry.
" Berhentilah seperti anak-anak, Angel! Kalau aku tidak menghancurkan ponselmu apa kau bisa berhenti membanting semua barang yang ada disini? Kau sudah sangat hilang akal, aku hanya bertanya kemana saja kau kemarin, kau malah menuduhku berpikir macam-macam dan meragukanmu, kau ini sebenarnya apa tidak bisa berpikir? Bukankah kau dikenal dengan kehebatanmu, dan pola pikirmu yang luar biasa? Padahal aku melihatmu begitu anggun saat kita di pertemukan hingga satu bulan menikah. Kau ini sebenarnya kenapa, Angel?! "
" Bukan urusanmu! Aku muak, aku lelah terus bertengkar denganmu, aku menenangkan diri apa salahnya?! "
Gerry membuang nafas kasarnya, sebenarnya kurang sabar apa dia dalam menghadapi Angel? Selama ini dia hanya bisa menahan diri untuk tida mengganggu Angel ketika dia pergi dari rumah dengan alasan menenangkan diri. Tapi lama kelamaan dia merasa itu hanyalah alasan saja yang pada akhirnya akan mendatangkan masalah baru. Bukan mencurigai Angel tanpa sebab, hanya saja ini benar-benar sudah di batas wajar.
" Angel, kita baru saja dua bulan menikah kan? Baru sebentar saja kau sudah seperti ini, kenapa kau tidak coba sedikit saja bersabar dan jalani perlahan, terima saja semua ini dan mari kita mencoba sebaik mungkin untuk saling menerima. Kalau memang sulit kita bisa mulai seperti teman saja dulu. "
" Tidak, aku tidak mau! Itu tidak akan mungkin bisa kita lakukan. "
Bersambung.