Perfect Marriage!

Perfect Marriage!
BAB 59 : Kebahagiaan



Anne mengemas seluruh pakaian yang dia miliki untuk di bawa kembali ke apartemen. Ya, hari dia sudah menetapkan diri dan juga sudah meminta izin kepada orang tuanya untuk kembali ke rumah James.


Beberapa saat lalu, tepatnya setelah selesai sarapan Anne meminta waktu kedua orang tuanya untuk bicara.


" Ayah, Ibu, yang aku ingin bicarakan adalah- " Ane menceritakan bagaimana hubungan James dan Anne selama ini, dia juga menceritakan bagaimana hubungan James dan Angel setelah mereka menikah. Jelas Ibu merasa begitu terkejut, dia bahkan sampai menangis, dia begitu sedih dengan Anne yang harus melewati masa menyedihkan itu. Dia juga sedih karena Angel dan Gerry tida harmonis setelah mereka menikah. Ayah Bien, pria itu hanya bisa membuang nafas kasar menahan rasa sakit di dadanya yang seperti menggumpal dan ingin meledak. Tentu saja hatinya begitu sakit karena kedua putrinya yang dia cintai sepenuh hati, membesarkannya penuh kasih sayang, terlebih Anne, putri keduanya itu sudah menderita sejak kecil sehingga rasanya ingin sekali memukul james sampai mati bila perlu.


Lagi-lagi dia hanya bisa pasrah dan sabar karena kenyataanya Anne begitu mencintai James. Sebenarnya dia sempat melihat bagaimana James menatap Anne seperti dia mencintai Anne, tapi mendengar ucapan Anne tadi dia meragukan adanya cinta di hati James. Jelaslah ini masuk akal saja karena pada nyatanya mereka menikah juga karena paksaan darinya. Awalnya Ayah Bien ingin menahan Anne, tapi karena Anne terus memohon ditambah lagi istrinya memintanya untuk jangan egois karena biarpun Anne anak mereka, James juga adalah suaminya Anne.


" Anne, bukan Ayah mengajari hal yang tidak baik, nanti jika kau kesakitan, kau sedih atau tidak bahagia, maka datanglah kepada kami. Seumur hidup kami tidak akan pernah merasa terbebani olehmu, seumur hidup kami kau juga hanyalah gadis kecil yang ingin kami lindungi. Teruslah bahagia, nak. Kami tidak mengharapkan apapun selain kau bahagia dan dan hidup dengan baik. "


Anne memeluk Ayahnya setelah Ayah Bien selesai mengatakan itu. Benar, tidak ada pria yang mampu mencintai dirinya seperti Ayahnya. Tapi hidup juga harus terus berjalan kan? Mungkin memang James tidak akan bisa menyaingi cinta Ayah Bien kepada Anne, tapi setidaknya Anne telah menetapkan hatinya kepada pria yang bernama James itu.


Sudah pukul tujuh tiga puluh, Anne akhirnya berhenti menunggu di dalam kamar karena James sudah menunggunya di ruang tamu dengan perasaan bahagia.


" Ayah mertua, terimakasih sudah menjaga Anne dengan baik, sekarang biarkan aku membawa Anne pulang dan akan menjaganya mengantikan Ayah dan juga Ibu mertua. " Ucap James dengan mimik yang jelas menunjukan bahwa dia bahagia. Iya, memang dia sangat bahagia. Bangun pagi-pagi tadi dia melihat ponselnya, benar-benar seperti mimpi karena ternyata Anne mengirim pesan dan memberitahu bawa dia berniat kembali bersama dengan James.


" James, ini adalah kesempatan terakhir yang bisa aku berikan padamu. Jika nanti kau membuat Anne bersedih lagi, aku tidak akan perduli apakah Anne mencintaimu, apakah kalian saling mencintai karena aku akan tetap memisahkan kalian. Anne itu adalah putri yang kami sayangi sepenuh hati, jika kau tidak mampu menyayanginya, setidaknya kembalikan saja kepada kami, jangan menyakitinya. Kami akan tetap menjadi rumah untuk Anne, kau paham tentang apa yang aku ucapkan kan? " Ayah Bien menatap James yang terlihat yakin saat mengangguk setuju. Biarlah, ini untuk yang terakhir kalinya dia membiarkan putrinya memilih apa yang dia rasa mampu membuatnya bahagia. Seperti yang di ucapkan Ayah Bien tadi, dia sungguh-sungguh dengan ucapannya sehingga James memang harus berhati-hati sekali kali ini.


Beberapa saat kemudian.


James mengemudikan mobilnya menuju rumah baru yang sudah dia beli untuk di tinggali bersama dengan Anne. Dia benar-benar tidak bisa berhenti tersenyum membuat Anne mengeryit bingung melihatnya.


" Kak, kenapa senyum terus? "


" Bahagia, kau kan sudah akan tinggal denganku lagi. "


Anne juga ikut tersenyum bahagia.


" Kak, kok kita lewat sini? Apartemen kan berlawanan arah? "


James tersenyum, entah mengapa ingin sekali dia mengacak rambut Anne membuat si pemilik tersenyum senang.


" Kak James apa tidak masalah membeli rumah? Bukannya kak James belum punya uang untuk membeli rumah? "


James memaksakan senyumnya, sungguh dia tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan Anne. Jelas lah di bingung, bagaimanapun dulu dia menyiksa Anne dengan keterbatasan materi agar Anne kabur darinya tanpa menyalahkan dirinya. Gila, membayangkan apa yang sudah dia lakukan kala itu benar-benar membuatnya membenci dirinya sendiri, bahkan kalau boleh jujur dia juga pernah beberapa kali membatin mendoakan Anne agar Anne cepat mati dan dia terbebas dari Anne yang dianggapnya sebagai beban dan penghalang kebahagiaan untuk dirinya.


Belum juga sampai ke rumah baru mereka, atau bahkan setengah perjalanan juga belum tapi ponsel James terus berdering dan membuat James tepaksa menerima panggilan telepon itu.


" Ada apa? " Tanya James setelah panggilan telepon tersambung, tentunya dia juga masih fokus mengemudi.


Tuan, perwakilan dari perusahan Sanjaya Group datang untuk membahas sesuatu yang urgent, dia juga sudah menunggu di ruangan anda.


James membuang nafas sebalnya.


" Aku kesana. " Sambungan telepon terputus.


" Ada apa, kak? " Tanya Anne jelas dia merasa penasaran setelah melihat ekspresi James yang berbeda sekali seperti sebelum dia menerima telepon itu.


" Ada wakil dari investor, jadi kita ke kantor dulu sebentar ya? Ayah juga pasti sudah akan datang ke ruanganku, hanya saja kurang sopan kalau aku tidak ikut ke sana. Nanti kalau sudah selesai baru kita ke rumah baru ya? Hari ini aku sudah minta izin Ayah sebenarnya, tapi karena ini harus di tunda sebentar. "


Anne mengangguk paham.


Sesampainya disana, James membawa Anne untuk menunggu di ruang kerjanya. Meski satu ruangan dengan James, Ayahnya dan juga tamu mereka, namun karena jarak mereka tidak begitu dekat, James dan tamunya bisa mengobrol dengan nyaman.


Seperti seharusnya, Larisa mengantarkan satu lagi teh untuk James setelah dua cangkir teh sebelumnya untuk Ayahnya James juga tamunya. Jelas lah dia bisa melihat adanya Anne di kursi yang biasa James duduki untuk bekerja, dan itu membuat Larisa tak suka.


Setelah meletakkan teh untuk James, Larisa keluar dengan rencana untuk menyakiti Anne.


Bersambung.