
Larisa tersenyum menatap ponselnya setelah dia selesai menghubungi seseorang. Dia berniat menjebak Anne setelah keluar dari perusahaan, entah itu pagi siang atau malam dia tidak perduli asalkan bisa menyingkirkan Anne yang ia ketahui adalah istri dari James. Sebenarnya dia sudah di peringatkan oleh Arthur untuk tidak menyakiti Anne, tapi rasa cemburu yang timbul di hatinya enggan menganggap larangan itu ada.
Tidak mungkin dia memasukkan racun ke dalam minuman atau makanan, dia juga tidak bisa bersikap sembarangan yang jelas akan membuatnya berada dalam masalah besar. Sekarang ini dia hanya bisa menahan saja kekesalannya, tapi bukan berarti dia juga akan bersikap biasa saja mengingat Arthur begitu mendesak untuk lebih gencar menggoda James dan memastikan James juga istrinya bercerai.
Menunggu selesainya urusan James dan tamunya, Larisa mencoba memperbaiki dandanannya hari ini. Dia menambahkan perona pipi, mempertajam warna lipstiknya, membuka dua kancing bajunya agar bagian dadanya terlihat menggoda. Ingat benar Larisa saat melihat Anne tadi, sungguh jauh sekali kalau di bandingkan dengan dirinya. Tubuhnya tinggi, dia memiliki bentuk tubuh yang proporsional tanpa sentuhan Dokter, dia juga memiliki wajah yang cantik alami. Anne? Wanita itu sangat biasa saja, hanya memiliki wajah polos dengan tatapan naif, dan juga pakaian mahal yang melekat di tubuhnya.
Larisa kembali tersenyum setelah memastikan penampilannya terlihat jauh memukau dari sebelumnya, dia juga sudah menambahkan parfum di tubuhnya. Dia menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nafas, dan tersenyum penuh keyakinan. Tidak mungkin James begitu buta hingga tidak bisa membedakan wanita cantik dan biasa saja kan? Yang Larisa tahu adalah, kebanyakan pria akan menilai wanita dari penampilannya, kualitasnya, dan juga rasanya. Berbeda dengan wanita yang melulu menggunakan hati sehingga rupa tidaklah menjadi masalah baginya. Berkat pengalaman hidup yang seperti itu Larisa tentu saja amat yakin dengan apa yang dia pikirkan.
Setelah tamu dan Ayahnya James keluar dari ruangan James, segera Larisa bangkit untuk masuk ke dalam sana. Sebelum masuk tentulah Larisa mengetuk pintu terlebih dulu, barulah dia masuk dan melihat James tengah berdiri di dekat Anne sembari menatapnya penuh tanya.
" Tuan, apa ada yang bisa saya kerjakan? " Larisa tersenyum begitu manis seperti biasanya, tatapannya yang memperlihatkan kesan anggun dan cantik luar biasa membuat Anne mengeryit karena dia merasa jika Larisa memiliki tujuan sendiri untuk James.
" Bantu Ayahku saja dulu, aku akan pulang kerumah bersama istriku. "
Larisa tetap tersenyum, tapi sungguh hatinya sangat kesal luar biasa. Bagaimana tidak? Penampilan yang sudah begitu menggoda sempurna seperti itu nyatanya tak bisa membuat James beralih fokus. Ah, apakah karena ada istrinya makanya James bersikap tenang? Batin Larisa.
" Baik kalau begitu, boleh saya bereskan ruangan Tuan sebelum Tuan pergi? "
" Iya. " Jawab James yang tak ingin lagi berbosa-basi dengan Larisa.
" Kita pulang sekarang ya? " Ajak James kepada Anne yang sedari sibuk menatap Larisa dengan tatapan mata yang begitu memperlihatkan betapa dia tidak nyaman dengan Larisa di sana.
" Iya. "
Baru saja beberapa langkah James dan Anne melangkah, tepatnya ketika akan melintasi Larisa, tiba-tiba Larisa melangkahkan kakinya, dan berpura-pura terkilir sehingga James reflek menahan tubuhnya. Bergegas Larisa menyangkutkan kalung yang ia gunakan ke kancing kemeja James sehingga membuat mereka tak bisa langsung menjauh begitu saja. Sialnya, James jadi harus melihat bagian dada Larisa yang sedikit menyembul menantang.
" Kau bisa melepaskan kalungmu sendiri kan? " Tanya James dengan mimik dingin.
" Maaf, Tuan! " Ucap Larisa berekspresi tidak enak, tapi saat tatapan matanya bertemu dengan tatapan Anne yang terlihat cemburu, Larisa tersenyum tipis seolah ingin menyampaikan kepada Anne bahwa mereka sudah biasa berdekatan seperti sekarang ini.
***
Meta mengetuk pintu ruang kerja Gerry, lalu perlahan membuka pintunya dan masuk membawa beberapa lembar dokumen dari sekretaris Gerry yang sedang sibuk dengan pekerjaannya yang lain.
" Selamat siang, Tuan? " Ucap Meta karena jelaslah dia menduga jika Gerry sedang tertidur dengan wajahnya yang berada di meja menghadap ke lantai.
" Tuan, saya mengantarkan dokumen dari sekretaris anda, beliau meminta Tuan untuk menandatanganinya, Barus setelah itu saya diminta untuk membawa lagi kepada beliau. " Ucapan Meta barusan masih belum mendapatkan jawaban sehingga Meta memanggilnya beberapa kali lagi dan ternyata masih tak mendapatkan jawaban.
Merasa jika dokumen itu sangat penting dan segera harus di tanda tangani, Meta memberanikan diri berjalan mendekati Gerry, mengerakkan satu tangannya meski tangan itu begitu gemetar dan perlahan menggerakkan lengan Gerry untuk membuatnya terbangun.
" Tuan? Apa anda tidur? Dokumen ini harus saya serahkan lagi kepada sekretaris anda, apa boleh saya minta tanda tangannya dulu? " Meta kembali mengerakkan lengan Gerry hingga hampir saja Gerry terjatuh kalau saja Meta tidak menahannya tadi. Merasa tidak beres, Meta dengan segera menyentuh dahi Gerry Meski dia tahu itu adalah tindakan yang kurang ajar. Meta melotot kaget karena merasakan bagiamana panasnya tubuh Gerry saat itu.
Dengan segera Meta menghubungi sekretaris Gerry untuk membawanya ke rumah sakit.
Beberapa saat kemudian.
Gerry kini telah mendapatkan perawatan, sementara sekretaris Gerry sendiri hanya bisa mengantarnya saja, sementara Meta diminta untuk terus menjaga Gerry karena kemungkinan tidak akan ada yang datang untuk menemaninya. Sekretarisnya bilang sih orang tua Gerry sudah lama tinggal di luar negeri bersama dengan dua anak mereka yang lain, hanya sesekali datang ke sini untuk minat bagaimana keadaan Gerry dan juga menantunya.
" Ini apa istrinya Tuan tidak akan datang ya? " Gumam Meta sendirian yang sudah mulai jenuh berjaga di sana.
Meta tanpa sadar memperhatikan wajah Gerry yang begitu tampan, sayangnya wajah tanpa itu tidak terlihat nyaman saat tidur karena dia terus mengeryit entah kenapa.
" Jahat sekali, padahal aku sangat mencintaimu. " Gumam Gerry membuat Meta melotot kaget mendengarnya.
" Jangan meninggalkanku, padahal aku ingin kau berubah dan mencintaiku. " Setelah mengatakan itu Gerry terus menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri tidak bisa tenang sama sekali, hanya saja dia masih memejamkan mata.
Meta yang kasihan segera menyentuh punggung tangan Gerry untuk dia tepuk perlahan, tapi Gerry justru membalikkan tangannya dan menggenggam tangan Meta dengan sangat erat.
Bersambung.