
Gerry mencari email yang masuk beberapa hari setelah dia menikah dengan Angel. Dengan seksama dia mencari satu persatu hingga ia mendapatkan satu email dari seorang wanita, dia adalah salah satu wanita masa lalu, atau lebih tepatnya adalah mantan tuanangan Gerry yang mengirim photo hasil uji kehamilan yang menunjukan jika dia sedang mengandung, bahkan dia juga mengirim photo perutnya yang membuncit.
Gerry mengeryit mengingat dengan jelas kapan dia terakhir berhubungan dengan mantan tunangannya. Setelah jelas dia benar-benar yakin sekali kalau tidak mungkin manta tunangannya hamil olehnya, dan kalau memang benar itu anaknya, bagiamana bisa dia hanya mengirim gambar tapi tidak datang padanya untuk meminta tanggung jawab? Apakah mungkin Angel begitu mempercayai ini hanya dengan bukti yang tidak jelas itu?
Tidak bisa, Gerry benar-benar tidak bisa berhenti bertanya-tanya dan rumahan rasa penasarannya. Segera Gerry bangkit dari duduknya dan mencari keberadaan Angel. Tanpa permisi Gerry membuka pintu kamar yang di gunakan Angel beberapa waktu belakangan ini. Angel yang kala itu tengah menggunakan pakaian tentu saja begitu terkejut hingga dengan terburu-buru dia menggunakan pakaian yang memang ia pakai.
" Apa kau tidak bisa mengetuk pintu dulu?! "
Gerry membuang nafas kasarnya.
" Memang bagian mana yang belum aku lihat? "
Angel tak lagi ingin menjawab meski wajahnya begitu menunjukan kekesalannya.
" Selian email dan dompet, apa lagi yang membuatmu meragukan ku? "
Angel yang ingin menggunakan mini bag nya sebentar terdiam lalu menatap Gerry dengan tatapan yang nampak malas untuk berkata-kata.
" Aku sudah harus pergi kerumah Ibuku, Anne dan orang tuaku pasti sudah menungguku. " Ujar Angel berharap Gerry tidak usah memperpanjang lagi masalah ini, dan jangan menanyakan apapun lagi.
" Tidak bisa! " Gerry menahan lengan Angel dan menatapnya tegas, kali ini dia benar-benar ingin tahu sejelas-jelasnya bagiamana mungkin semua terjadi tanpa sepengetahuannya.
Angel membuang nafas pasrah.
" Baiklah, akan aku beritahu padamu. Pertama, wanita itu pernah menghubungi saat kau sedang bersamaku sebelum kita menikah. Aku yang menerima telepon darinya, dan dia mengajak untuk bertemu, dia mengatakan jika dia hamil anakmu, lalu meminta untukku membatalkan rencana pernikahan. Saat itu aku tidak bilang kalau aku juga hamil anakmu, tapi aku memakinya dan memintanya menjauh dengan ancaman. Dia memang diam untuk beberapa waktu, lalu tiba-tiba aku melihat photo wanita itu di dompetmu saat kita sudah menikah, dan wanita itu juga mengirim gambar perutnya lewat email di saat aku sudah keguguran. Lalu, aku mengajaknya untuk bertemu karena aku pikir dengan menyingkirkan dia sejauh mungkin akan membuatku aman. Tapi, malam itu kau mengigau dan memanggil nama wanita itu, jadi bagaimana aku tidak akan merasa marah? "
Gerry mengusap wajahnya dengan kasar.
" Kenapa? Kau kesal dan sedih ya karena tidak bisa bertemu dengan wanita itu dan anakmu? Benar, itu adalah kesalahanku yang egois, aku itu memang sangat egois kau tahu benar bagiamana aku kan? Jadi aku melemparkan uang ke wajah wanita itu, dan memintanya menjauh. Yah, tali siapa sangka wanita itu benar-benar menjauh? Kalau tahu akan begini, seharusnya aku jadi orang baik saja waktu itu sehingga bisa melihat keluarga harmonis mu. "
" Seharusnya kau memberitahu ku dulu sebelum bertindak. "
" Cih! Kau punya banyak uang yang bisa kau gunakan untuk menyewa beberapa detektif, kenapa kau terlihat tida rela begitu? "
" Aku hanya tidak rela kau menggunakan uang mu hanya untuk hal yang bahkan tidak jelas kebenarannya. "
" Apa?! " Angel menatap kaget Gerry yah sedikit tersenyum padanya.
Ibunya James menunduk tak berani menatap Ibunya Angel dan Anne begitu mereka tak sengaja bertemu di toko kue langganan mereka berdua. Maklum saja, mereka berdua itu sangat akrab dan juga sama-sama menyukai kue di toko tersebut.
" Lama tidak berjumpa ya, jeng? " Sapa Ibunya James kepada Ibunya Anne yang sedari tadi memilih untuk diam meski sesekali melirik ke arahnya.
" Iya, semenjak kapan kau juga yang paling tahu kan? "
Ibunya James memaksakan senyumnya. Sebenarnya mereka berdua sama-sama baru pulang dari arisan lalu mampir ke toko kue itu. Sebenarnya suasana arisan tadi benar-benar membuat Ibunya James ogah datang lagi untuk kedepannya. Itu semua karena gosip tentang Ibunya James yang ingin menikahkan lagi James dengan wanita lain mulai ramai di perbincangkan para Ibu-ibu arisan. Ada yang setuju dengan apa yang di rencanakan Ibunya James, tapi yang memiliki pemikiran berbeda tentu saja tak kalah banyak, di tambah Ibunya James bisa bergabung dengan group arisan terkenal itu juga berkat Ibunya Anne, jadi orang akan lebih banyak berpihak padanya lalu muncullah dugaan bahwa Ibunya James hanya memanfaatkan Anne dan juga keluarganya sama Selama ini.
" Ada hal yang ingin aku bicarakan, apa kau setuju kalau kita bicara sebentar? " Tanya Bunya Anne kepada Ibunya James. Dengan segera Ibunya James mengangguk setuju karena memang tidak mungkin baginya menolak ajakan orang yang sudah banyak memberikan bantuan kepadanya.
Beberapa saat kemudian.
" Bagaimana kabarmu? " Tanya Ibunya Anne.
" Aku baik. "
Ibunya Anne meraih cangkir teh di meja dan meminumnya sedikit lalu kembali meletakkannya di sana.
" Aku masih tidak mengerti harus meminta maaf atau marah dan kecewa padamu. Aku menahan semua ini demi putriku, dia mengatakan padaku, juga Bien untuk jangan melakukan apapun dan membuatkan kalian hidup bahagia saat keinginan kalian terpenuhi. Aku berpikir, bagaimana ya kalau seandainya cara berpikirnya sama seperti Anne? Apakah anak-anak kita akan hidup bahagia atau tidak, tentu saja kita sebagai orang tua menginginkan kebahagiaan untuk anak kita buka? Sebenarnya kenapa kau tidak fokus saja dengan apa yang membuat putramu bahagia di banding membuat dirimu sendiri untuk bahagia? "
" Kau tidak bisa mengerti karena kau memiliki dua anak. Aku dan suamiku hanya punya James saja, jadi kalau James tidak punya anak kandung, tentu saja itu berat bagi kami. "
Ibunya Anne tersenyum pilu.
" Yah, aku memang tidak bisa menyalahkan mu kalau alasanmu adalah itu. Tapi, cobalah untuk memahami putramu, dan carilah tahu apa benar putramu akan bahagia hanya dengan adanya anak? "
Ibunya Anne menautkan jemarinya, duduk dengan tegap sembari berwajah lesu.
" Apa kau benar-benar yakin kalau James pasti akan bahagia saat dia bersama wanita lain? Apakah sebagai seorang Ibu kau sudah bertanya apa yang paling diinginkan anakmu di dalam hidupnya? "
" Aku tahu kau kecewa, tapi ini adalah yang terbaik untuk keluarga kami. " Ucap Ibunya James.
" Tidak, itu adalah keputusan paling buruk yang pernah kau ambil. Sekarang, kau hanya bisa melihat resikonya nanti. "
Bersambung.