
James memeluk Anne erat-erat, sungguh dia merindukan tubuh mungil itu, dia merindukan aroma yang selalu melekat di tubuh Anne. Untunglah mertuanya atau tepatnya Ibu mertuanya memintanya untuk datang, karena dengan begini dia bisa sebentar melepaskan rindu dan dia juga menyadari benar betapa bahagianya melihat Anne secara langsung seperti sekarang ini, bahkan juga bisa memeluknya.
" Kak..... "
James melepaskan pelukannya, ditatapnya kedua bola mata Anne yang begitu jernih dan teduh. Tangannya yang masih menangkup wajah Anne dia gerakkan perlahan Ibu jarinya mengusap lembut wajah mulus milik Anne. James tersenyum karena sulit sekali menahan diri untuk tidak bahagia, kali ini dia sedikit memahami jika dia sudah jatuh lebih dalam hingga tidak lagi sibuk memikirkan Angel, apalagi menyiksa Anne hanya untuk menuju ke arah Angel.
" Bagaimana kabarmu hari ini? " Tanya James yang masih terus memandangi Anne.
" Aku baik, kenapa kakak kesini? "
" Ibumu mengirim pesan, minta aku untuk datang menemui mu. Aku memang harus mengatakan banyak terimakasih kepada Ibu mertuaku, karena dia aku bisa berada di sini dan melihat juga menyentuhmu secara langsung. " James kembali tersenyum.
Anne terdiam sebentar, dia juga kini tengah menahan diri agar tidak begitu frontal dalam mengekspresikan wajahnya, dia juga tidak mau kalau terlalu memperlihatkan bahwa dia juga merindukan James karena dia masih ragu akan banyak hal, terlebih tentang kakaknya.
" Kakak tahu kalau kak Angel juga ada di rumah? "
James mengeryit.
" Aku tidak tahu, aku datang kesini karena di berikan jalan oleh Ibumu. Tujuanku hanya menemui mu, tidak ingin menemui yang lain, juga tidak perduli dengan yang lain. "
Anne menatap kedua bola mata James yang nampak teguh, tegas dan juga jujur. Sungguh dia merasa bahagia karena ternyata arti dirinya bagi James sepenting itu sekarang, tali lagi-lagi Anne tetap mencoba menahan diri sebaik mungkin karena takut kala nanti dia akan terluka oleh kekecewaan dari harapannya yang terlalu berlebihan.
James menatap selain dalam, perlahan dia memposisikan wajahnya untuk menyatukan bibirnya dengan bibir Anne, satu tangannya bergerak pelan meraih pinggul Anne, membuatnya semakin merapatkan tubuh mereka.
Aku ingin memerintahkan tubuhku untuk menolak, tapi aku tidak mampu melakukanya.
Beberapa saat setelah bibir mereka menyatu, Anne masih saja membiarkan matanya terbuka lebar karena kebimbangan yang begitu terasa di hati dan juga pikirannya. Tapi sentuhan James begitu lembut dan hangat, dia benar-benar tidak sanggup mengkhianati hatinya untuk terus menolak hingga pada akhirnya dia menjadi dominan, dan mengikuti ritme dari sentuhan yang di berikan oleh James.
Beberapa saat kemudian, James sudah membawa tubuh Anne ke ranjang tidur, entah sejak kapan tapi mereka benar-benar sudah dikendalikan oleh suasana yang mereka ciptakan. Benar-benar di luar dari dugaan, karena pada awalnya James hanya ingin memeluk, mencium sebentar saja. Kini semua sedang terjadi, sepasang manusia yang terikat oleh tali pernikahan tengah menyalurkan sebuah rasa indah yang terbalut rindu satu sama lain menjadikan tubuh mereka serempak bergerak mengikuti insting mereka, dan menikmati rasa itu hingga tanpa sadar mereka terus mengeluarkan lenguhan yang menggema memenuhi ruangan itu.
Beberapa saat kemudian. Untuk pertama kalinya setelah melakukan hubungan suami istri Anne merasakan bagiamana pelukan hangat seorang James, jika mengingat dai awal mereka menikah, James selalu menjauh begitu mereka selesai melakukannya. Sekarang James benar-benar berubah, tatapannya juga tidak seperti sebelumnya membuat Anne yang terus menolak untuk meyakini adanya cinta di hati James untuknya. Padahal dia teringat bagaimana wajah sedih kakaknya, anehnya kenapa ada masanya dia tidak memperdulikannya, dan masa itu adalah seperti barusan, masa saat bersama dengan James.
Bolehkah Anne jujur? Bolehkah dia mengatakan jika dia lelah tapi dia juga bahagia sekali hingga tidak akan merasa menyesal untuk melakukannya lagi? Tapi apakah kalau dia menunjukan sikap murahan seperti itu James akan kembali menatapnya benci seperti dulu?
" Kau tidak mengatakan apapun apa karena begitu kelelahan? " James menghentikan tangannya dan menatap Anne untuk mencari tahu apa sebenarnya yang di rasakan Anne sekarang. Bohong kalau dia tidak khawatir karena Angel pernah mengatakan kepadanya jika Anne tidak akan hidup lama dengan kondisi tubuhnya yang lemah dan mudah terserang penyakit. Dulu James tentu saja tidak perduli, bahkan dia pernah mendoakan kematian Anne agar dia bisa menikahi Angel. Tapi, sekarang benar-benar dia tidak ingin kehilangan Anne apapun alasannya.
Melihat James yang terus memperhatikannya untuk mencaritahu apa yang sebenarnya di rasakan olehnya tentu saja membuat Anne tidak nyaman dan gugup.
" Maaf, aku akan telepon Dokter untuk memeriksamu, aku janji lain kali akan lebih menahan diri. " James sudah akan bangkit dengan mimik khawatir, tapi saat Anne menahan lengannya James jadi kembali menatap Anne.
" Bu bukan, bukan begitu. Aku, tidak begitu. " Ucap Anne menahan wajahnya yang memerah.
" Wajahmu merah, apa kau yakin tidak apa-apa? " James menyentuh dahi Anne, suhu tubuhnya baik-baik saja, lalu kenapa wajah Anne memerah?
Anne menjauhkan tangan James dari dahinya, dia bangkit dari duduknya, menatap James dengan begitu lekat sampai beberapa saat hingga membuat James tidak tahan untuk tidak menciumnya.
" Aku tidak lelah, aku juga tidak akan kenapa-kenapa meskipun ini terjadi lagi. " Ucap Anne tak berani menatap James sama sekali, tentulah dia sangat malu. Padahal dia benar-benar menahan diri untuk tidak mengatakan itu karena takut James akan merasa bahwa Anne sangat murahan dan membuatnya kembali tak menyukai Anne lagi.
James tersenyum tipis, jadi wajah Anne merah tadi karena merasa malu?
" Baiklah, beritahu aku kalau kau merasa lelah atau ada yang tidak nyaman ya? "
Anne mengangguk malu-malu membuat James semakin tak sabar untuk mengulang apa yang baru saja mereka lakukan. Dia meraih tengkuk Anne dan mencium bibirnya dengan begitu semangat hingga nafas mereka begitu memburu.
Esok paginya.
James terpaksa ikut sarapan bersama keluarga istrinya karena semalam dia begitu kelelahan hingga tertidur sampai pagi. Kikuk sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi karena tetap saja ada hal yang menyenangkan untuknya. Anne, dia benar-benar bahagia sekali setelah melewati malam berdua dengan Anne, dia bahkan tak sedikitpun memperhatikan Angel dan sibuk mencuri pandang kepada Anne.
Anne juga nampak terus tersipu sehingga Angel bisa melihatnya dengan jelas. Dia juga tahu benar kalau semalam James datang ke kamar Anne karena semalam dia tidak sengaja mendengar suara lenguhan dari kamar Anne. Merasa curiga, Angel membuka pintu kamar Anne perlahan, dan ternyata Anne sedang melakukan penyatuan bersama dengan James.
Bersambung.