
James kembali ke rumah setelah lelah seharian ini berkutat dengan pekerjaan. Hampir semua dia turun tangan langsung karena benar-benar tidak ingin gagal dalam menjalankan bisnis Ayahnya kali ini. Memang sih perasaan lelah dan kadang juga ada malas tapi untunglah James bisa mengatasi itu semua, dan sekarang dia sudah sampai di rumah untuk beristirahat.
Begitu masuk ke dalam rumah, Anne tengah menyiapkan makan malam. Sebentar James menatap Anne yang sepertinya tidak menyadari bahwa dia sudah sampai di rumah. Anne nampak melamun meski tangannya bergerak untuk mengelap piring yang akan dia letakkan di meja makan. Matanya sembab dan jelaslah James tahu kalau Anne banyak menangis hari ini.
" Ehem! "
Anne tersentak, dia segera meletakkan piring yang sedari tadi ia pegang sembari di lap. Anne meraih tas yang dipegang James lalu meletakkan di tempatnya tanpa bicara. Hari ini bukan hanya James yang merasa lelah, tapi Anne juga sedang merasa lelah walau hanya untuk berpura-pura tidak terjadi apapun.
" Mau mandi dulu atau langsung makan malam? " Tanya Anne kepada James membuat pria itu semakin jelas bisa melihat kekacauan yang di rasakan Anne saat Anne menolak untuk bertatapan dengannya.
" Mandi. " Jawab James singkat karena dia sendiri juga sedang dalam keadaan yang sama. Bukan niatnya untuk menunjukan kepada Anne bahwa dia juga kecewa, hanya saja untuk bisa berpikir dengan baik butuh ketenangan yang cukup.
Anne masih tak ingin banyak bicara, dia mengangguk paham lalu kembali masuk kedalam kamar untuk menyiapkan pakaian ganti untuk James. Beberapa saat kemudian, James dan Anne sudah berada di meja makan, mereka masih sama saja belum banyak bicara.
James tahu hari ini Anne datang kerumahnya untuk berbincang mengenai obat herbal yang tujuan utamanya adalah membahas tentang kehamilan, dia tahu Anne pasti sangat sedih sekarang ini. Tapi, masalahnya dia juga sedang kacau, selain karena urusan pekerjaan dan sulitnya mendapatkan bukti keterlibatan Arthur dalam rencana membangkrutkan perusahaan Ayahnya, dia juga kacau dan kecewa karena ternyata Anne tidak bisa melahirkan anak untuknya. Mungkin dia bisa menerima ini dan mengadopsi anak saja dari panti asuhan, tapi bagaimana dengan kedua orang tuanya, terlebih Ibunya. Pasti sulit sekali untuk diterima karena dia adalah anak satu-satunya yang diharapkan mampu melanjutkan garis keturunan.
Setelah makan malam, mereka kembali ke kamar. Lagi-lagi mereka masih saja saling mendiamkan, padahal jika boleh jujur Anne benar-benar membutuhkan James untuk memeluknya dan mengatakan jika semua pasti akan baik-baik saja. Tapi sepertinya dia hanya bisa memendam rasa sedih dan kecewanya di dalam hati, berusaha sebaik mungkin agar terlihat baik-baik saja dan semoga nanti akan ada masanya Anne akan mendapatkan kebahagiaan yang dia inginkan. Sekarang dia hanya butuh menangis sebentar saja, berharap menangis dapat mengurangi perasaan sedih di hatinya.
James, pria itu hanya bisa memandangi punggung Anne yang bergetar. Sepertinya dia benar-benar sangat sedih hingga menangis diam-diam. Sungguh dia tidak tahan, James mendekatkan tubuhnya dan memeluk punggung Anne. Mungkin memang benar dia bukan suami yang baik, dia begitu banyak kekurangan dan kurang layak memperlakukan Anne sebagai istrinya, tapi jika harus melihat Anne menangis, sungguh dia tidak bisa menahan diri lagi.
***
" Tuan, sopir anda sudah saya hubungi barusan. Hanya tinggal menunggu dia datang saja, saya sebentar keluar untuk mengurus masalah administrasinya ya? " Ucap Meta kepada Gerry yang kini tengah duduk di brankar rumah sakit sembari mengerjakan pekerjaannya dengan laptop dipangkuannya.
" Iya. "
Gerry menatap kepergian Meta hingga gadis itu tak nampak lagi setelah keluar dari ruangan. Sebenarnya dia benar-benar begitu bisa merasakan ketulusan Meta dalam merawatnya, hanya saja dia terus menampik dan mencoba untuk menganggap bahwa kebaikan Meta adalah karena posisi mereka ada di tempat yang berbeda.
Setelah selesai dengan urusan administrasi, Meta kembali ke ruangan di mana Gerry sedang di rawat.
" Tuan, mau tunggu sopir di lobby rumah sakit atau di sini saja? "
" Di sini saja. "
Meta mengangguk paham, karena tidak ada yang harus di kerjakan lagi dia memilih untuk duduk di sofa yang berada lumayan jauh dari Brankar dimana Gerry duduk.
" Hubungi David sekarang, katakan untuk memajukan rapat satu jam dari jadwal yang sudah di tentukan. "
Meta mengeryit menatap Gerry yang berucap tapi matanya begitu fokus dengan laptopnya.
" Tuan, anda ingin menghadiri rapat? "
" Tapi, Tuan kan baru saja keluar dari rumah sakit? Dokter juga sebenarnya meminta anda untuk satu hari lagi tinggal kan? "
Gerry membuang nafasnya.
" Lakukan saja seperti yang aku katakan. "
Meta sudah tidak bisa lagi bicara, dia segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi David dan menyampaikan apa yang tadi diperintahkan Gerry.
" Bantu aku merapihkan laptopku. "
Meta dengan segera bangkit menerima laptop dari tangan Gerry yang sudah dalam keadaan tertutup. Setelah meletakkan laptop di tempatnya, Meta berniat untuk berbalik badan dan kembali ke sofa tempatnya tadi duduk. Tapi sial karena sepatu heels yang sudah dua hari ia kenakan itu tak mendukung langkah kakinya hingga hampir saja terjatuh jika Gerry tidak menahan tubuhnya. Baru sedetik mereka saling menatap dengan terkejut, pintu rumah sakit terbuka, dan itu adalah Angel.
Segera Meta bangkit dan membenahi pakaiannya karena dia takut penampilannya berantakan. Sayang sekali, Angel malah jadi berpikir negatif tapi dia juga tidak ingin menunjukan perasaan itu.
" Selamat pagi, Anda siapa dan ada perlu apa? " Tanya Meta dengan sopan kepada Angel. Sementara Gerry terus menatap Angel dengan tatapan datarnya.
Angel memaksakan senyumnya, dia menatap Meta karena dia tahu benar Meta adalah sahabat adiknya meski Meta sama sekali belum pernah bertemu dengannya. Kenapa bisa? Itu karena Anne dulu selalu menunjukan photo bersama Meta dan menceritakan bagaimana baiknya Meta kepada Anne.
" Selamat pagi juga, maaf sekali aku mengganggu waktu kalian berdua. " Meta menggaruk tengkuknya karena tidak paham apa maksud ucapan Angel barusan.
" Untuk apa kau datang? " Tanya Gerry dengan tatapan dingin.
" Untuk apa ya? Pria yang mengaku sebagai suamiku sudah dua malam tidak pulang dan ternyata sedang di rawat di rumah sakit, bukankah sepantasnya aku datang untuk melihat keadaanmu? Kau sudah memiliki wanita yang merawat, jadi aku hanya boleh sebentar melihatmu saja kan? "
Meta menatap bingung Angel dan Gerry bergantian.
" Apa kau cemburu? " Gerry tersenyum miring dengan tatapan menghina yang bahkan membuat Angel semakin tidak tahan berlama-lama di sana.
" Cemburu kepada siapa? Cemburu untuk apa? Aku bahkan tidak merasakan apapun saat ini. "
" Keluar! " Ucap Gerry.
Angel kembali tersenyum, sungguh dia memang tidak merasakan apapun saat melihat Gerry bersama wanita lain, jadi dia benar-benar akan dengan senang hati melangkahkan kaki. Angel berbalik badan, bum juga sempat menginjakkan satu kakinya ke lantai saat melangkah, Gerry sudah lebih dulu meraih lengannya dan mencengkram dengan kuat.
" Keluar! " Ucap Gerry yang tatapan matanya terarah kepada Meta.
Bersambung.