Perfect Marriage!

Perfect Marriage!
BAB 21 : Keberanian



Anne terdiam tak bicara, begitu juga dengan James. Tak ada tempat duduk lagi untuk mereka pakai jadi mereka terpaksa duduk di lantai sembari menatap ke bawah dengan pemikiran mereka masing-masing.


James, pria itu tak tahu lagi harus mengatakan apa kepada orang tuanya karena apa yang mereka tuduhkan adalah sebuah kebenaran. Meski tetap saja hatinya merasa jika itu tidak masalah, dan bukan salahnya, nyatanya dia tak bisa mengajukan protes kepada siapapun, apalagi kedua orang tuanya yang terus mantapnya tajam.


Sebentar Anne menoleh menatap James yang masih terlihat tak ingin bicara, ada darah yang keluar dari sisi bibirnya, pelipisnya juga memar membuat Anne ingin menyeka tapi juga takut dengan kedua orang tuanya James yang masih terikat marah dan kesal. Sungguh tidak tahu hal apa yang membuat orang tuanya James kesal, Anne malah menduga bahwa caranya untuk menyambut kedua orang tua James tidak lah benar sehingga membuat mereka berdua merasa tersinggung.


" James, kenapa kau melakukan ini, katakan yang sebenarnya, di hadapan istrimu. "


Ucapan Ayahnya James membuatnya semakin tak ingin membuka mulut, semetara Anne hanya bisa kebingungan sendiri tapi tetap saja tidak berani bertanya bagian mana sebenarnya yang salah bagi kedua orag tuanya James.


" James, kau tahu kenapa kami memutuskan untuk memiliki satu anak saja? Kau tahu betapa kami sangat mencintaimu, kami tidak ingin kau kekurangan kasih sayang sebab itu kami tidak menginginkan anak lagi. Sebagai anak tunggal kau pasti merasakan itu semua kan? Kau tahu bahwa kami mendidik mu dengan sangat baik, kami mengajarimu bagaimana caranya menghargai orang lain, apalagi Anne adalah istri mu. Kau seharunya tahu harus bagaimana memperlakukannya kan? Ayah kecewa sekali, James. "


James mengeraskan rahangnya, bolehkah dia juga mengatakan bahwa dia pun kecewa dengan pernikahan yang harus dia jalani? Dia pun tersiksa harus menikahi wanita yang tidak dia sukai, dia tersiksa harus menatap wajah Anne setiap saat ketika mereka bersama. Apakah ada yang perduli bahwa itu juga berat untuknya?


" James, tolong mengertilah dan berdamailah dengan keadaan, agar kau bisa menjalani harimu dengan mudah. Kau hanya terlalu fokus dengan satu hal saja lalu mengabaikan apa yang seharusnya kau perhatikan. "


James membuang nafasnya, lelah sekali harus berdebat dengan orang yang tidak bisa memahami perasaanya. Sekuat dan sesering apapun dia menjelaskan rasanya memang tidak akan ada yang bisa merasakan apa yang dia rasakan.


" Pindah lah ke tempat yang lebih layak, jangan menghina istrimu sendiri dengan tinggal di tempat seperti ini. Kalau kau merasa begitu sayang dengan uang mu, maka biarkan Ayah yang membayarnya, atau Ayah akan memberikan rumah dengan uang Ayah. "


James mengepalkan tangannya, mungkinkah memang dia tidak bisa mundur dengan pernikahan ini? Yah, kalau di pikir-pikir lagi bukankah memang Angel juga sudah menikah dengan pria lain? Lalu apa yang harus dia tunggu dari semua ini?


" Aku akan mencari tempat tinggal baru, Ayah tidak perlu mengeluarkan uang Ayah. "


Anne terdiam tak bisa berkata-kata, jadi masalahnya adalah orang tua James marah karena melihat Anne di ajak tinggal di sana? Meskipun awalnya Anne sendiri merasa bahwa tempat tinggal itu jauh dari perkiraannya, tapi lama kelamaan dia mulai terbiasa dan tidak mempermasalahkan tempat tinggal itu lagi.


" Baiklah, jangan sampai kau menunda lagi. Ayah tidak akan diam saja kalau sampai menantuku masih kau perlakukan semacam ini. "


" Aku sudah mengerti. "


Setelah kepergian orang tuanya, James terdiam dengan wajah kesal. Anne sebenarnya masih merasa takut dengan James, tapi mengingat pesan mertuanya, atau Ibu dari James tadi untuk tidak terus mengalah dan aktif menyuarakan pendapat, jangan diam saja saat di bentak, nasehat dari Ibu mertuanya benar-benar membuat Anne merasa jauh lebih kuat sekarang ini.


" Kau mau apa? " Tanya James dengan tatapan sinis dan begitu tajam. Anne tak ingin menjawabnya karena tahu pada ujungnya James hanya akan marah.


" Hentikan! Aku tidak perduli simpatik darimu, jadi menjauh lah! "


Anne menghentikan tangannya sebentar, dia menghela nafas dan kembali ingin melanjutkan kegiatannya itu. Lagi-lagi James memekik kesal membuat Anne semakin tak tahan jadinya.


" Dasar tuli! Sudah ku bilang jangan- "


" Diam! " Anne melotot kesal, sungguh ini kali pertama dia membentak seseorang dengan kedua mata melotot tajam dan mimiknya bisa terbilang menakutkan.


" Kau pikir ini salah siapa hah?! Semua itu adalah salahmu! Kau yang membawaku tinggal disini, kau juga yang menyalahkan ku! Memang aku salah mengizinkan orang tua mu datang, hah?! Apa tadi seharusnya aku usir saja orang tuamu?! Aku juga tidak begitu baik hati sampai merendahkan diri untuk mengobati lukamu! Menurut lah atau aku membuat wajah mu semakin parah! "


James menelan salivanya, dia benar-benar tidak menyangka kalau Anne akan berekspresi menyeramkan seperti itu, tatapan matanya sungguh tajam dan mengancam membuat dia tak bisa melawan. Aneh, kata-kata Anne benar-benar membuatnya kesal, tapi sialnya dia tidak bisa membalas ucapan itu karena keterkejutan yang luar biasa.


" Asal kau tahu ya? Dari beberapa hari kau selalu pulang mabuk, aku mengurus mu dengan baik, menganti pakaian mu, melepaskan sepatu dan kaus kaki mu, bahkan kau muntah begitu banyak di bajuku, di lantai, apa kau tidak pernah beratnya pada dirimu saat kau bangun pagi bagaimana kau bisa tidur dengan nyaman dan rapih? Tidak kan? Aku bahkan tidak pernah tidur nyenyak tapi tidak pernah menyalahkan mu, makan tidak enak juga tidak menyalakan mu, lalu kau? Sedikit-sedikit menyalah kan ku, apa kau pikir kau benar dan sempurna sedangkan aku selalu salah? "


Dengan tatapan kesal Anne menjauhkan tubuhnya untuk mengambil salep yang akan di berikan pada luka James.


" Jangan berani-beraninya menyalahkan ku lagi padahal jelas semua kau yang mulai. "


Setelah mengobati James, Anne menjauh sembari menenteng p3k di tangannya.


James, pria itu masih terperangah tak percaya dengan apa yang dia lihat barusan. Bagaimana bisa Anne yang biasanya manja dan malu-malu itu malah berbicara dengan begitu lancang?


James memegangi dadanya yang berdebar hebat. Ini apakah karena dia kesal di ocehi panjang lebar oleh Anne? Hah! iya, pasti itu alasan jantungnya berdebar.


" Da dasar menyebalkan! Berani-beraninya kau mengoceh padaku begitu! " Protes James setelah memastikan Anne jauh dari posisinya berada.


Bersambung.