
James mengigit bibir bawahnya dengan tatapan tajam, dahinya mengeryit mengingat betapa anehnya sikap Anne belakangan ini. Selain suka sekali marah, dia juga terlihat tidak pura-pura saat membentaknya. Ah, beberapa saat lalu James juga melihat aktifitas kartu Bank nya, rupanya hari ini Anne benar-benar membeli banyak barang. Mulai dari pakaian, juga bahan makanan dan juga buah-buahan.
Tidak mungkin kan ingin membalas dendam kepada Anne hanya karena hal seperti ini? Cih! Bisa-bisa dia di sebut suami yang pelit dan terlaku irit, bagaimanapun apa yang terjadi beberapa waktu lalu sudah sangat membuatnya kapok, jadi tidak ingin rasanya kalau harus mengulang lagi. Selain orang tuanya akan marah, dia juga tidak mau gelar suami pelit menjadi miliknya.
James menghela nafas, lalu menggaruk kepalanya padahal tak gatal. Pusing memikirkan tentang Anne yang begitu berubah, yah semoga saja ini tidak berlangsung lama karena bisa saja ini karena Anne sedang datang bulan kan?
***
Sesudah seharian ini Anne beraktifitas. Pagi dia pergi untuk membeli kebutuhan dapur, siangnya dia pergi ke pusat belanja untuk membeli beberapa pakaian untuk James, juga sepatu untuknya. Sekarang waktunya untuk mengunjungi rumah sakit karena sudah beberapa hari ini Anne menunda untuk memeriksakan kesehatan.
Butuh beberapa jam, sekarang dia sudah bisa mendapatkan hasilnya. Sebenarnya tidak ada yang serius dengan kondisi tubuhnya selain tekanan darahnya yang rendah, syukurlah Dokter sudah memberikan obat untuk membatu mengontrol tekanan darahnya hingga kembali ke titik Normal.
" Anne ya? "
Anne menoleh ke arah sumber suara, dia adalah Don, pria itu rupanya juga berada di rumah sakit.
" Kau datang untuk mengunjungi seseorang, atau bagaimana? " Tanya Don dengan wajah ramah seperti biasanya.
Anne tersenyum, dia menunjukan obat dari Dokter yang sedari tadi ia pegang.
" Aku memeriksakan kesehatan rutin ku. "
" Oh, sudah mau pulang? " Tanya Don.
" Iya. "
" Pulang bersama saja ya? Sekalian aku juga mau pulang kok. "
Anne sebenarnya sangat tidak enak menumpang seperti ini. Dia biasanya kemanapun dengan supir ketika sebelum menikah, sekarang tidak ada mobil pribadi tentu saja dia tidak boleh tidak nyaman. Selain Don adalah teman dekat James, mereka juga tinggal di gedung yang sama jadi Anne memutuskan untuk mengiyakan ajakan Don.
Tidak ada obrolan spesial, mereka hanya membahas tentang hal-hal kecil, bahkan terbilang mereka lebih banyak membahas tentang James.
" Terimakasih ya Don? Berkatmu aku tidak perlu mengeluarkan ongkos untuk biaya pulang. " Ucap Anne tersenyum dengan begitu tulus.
" Sama-sama, ini kan hanya karena kebetulan saja. "
" Sedang apa kalian? " Tanya James yang entah sejak kapan berada di balik punggung mereka. Don dan Anne kompak menoleh menatap James.
" Kak James? Tumben sudah pulang. " Ucap Anne, kali ini dia tak terlalu ingin menunjukan bagaimana suasana hatinya yang begitu bahagia melihat James pulang lebih awal dari biasanya.
Entah ini perasaan apa, tapi James benar-benar tidak suka melihat kedekatan Don dan Anne. Dia sebenarnya lumayan lama berada di sana memperhatikan Anne dan juga Don yang seperti sudah kenal lama, mereka saling melempar tawa membuat James kesal, bagaimana tidak kesal? Anne itu kan sekalipun tidak pernah tertawa selepas itu saat bersama dengannya.
" Kalian sedekat ini apa tidak takut orang lain menjadi salah paham? " Tanya James, tatapannya nampak tak suka, tapi cara bicaranya seperti tidak begitu perduli.
Don tersenyum kembali.
" Maksudnya orang lain itu adalah kau kan? "
James mengeryit sebal, sungguh dia tidak suka dengan cara Don berbicara padanya saat ini. Apalagi saat melihat Anne yang seperti tidak perduli dengan itu, James hanya bisa mencoba sebaik mungkin untuk tak menunjukan kekesalannya.
" Kalau begitu aku duluan saja ya? " Don tersenyum sembari melambaikan tangan, sebenarnya dia merasa senang berada di dekat Anne, tapi mengingat Anne adalah istri dari sahabatnya sendiri, Don yang jelas hanyalah pria asing bagi hubungan mereka sama sekali tak ingin menjadi duri dalam hubungan mereka.
Anne membuang nafas, dia melajukan langkah kakinya menuju lift. Hari ini dia benar-benar sangat lelah hingga rasanya begitu malas walau hanya untuk menghadapi wajah kesal James yang tidak tahu apa sebabnya.
" Hei hei hei! Berani sekali meninggalkan suami mu disini?! " Protes James tanpa sadar kepada Anne.
" Oh? " Anne berbalik dengan bibir tersenyum lebar, yah siapa sih yang tidak suka kalimat barusan setelah apa yang terjadi? James tanpa sadar mengakui bahwa dirinya adalah suami dari Anne.
James menelan salivanya dengan tatapan gugup, sungguh sialan karena mulut ya nerocos begitu saja tanpa dia sadari.
" Jadi, suamiku ini ingin aku menggandeng tangan mu ya? " Anna melingkarkan tangannya memeluk lengan James, ah sungguh ingin menepisnya, tapi tatapan Anne yang beberapa kali mengerling membuatnya tak berdaya selain diam saja.
" Nanti malam aku akan pergi menemui kakak ku, aku pulang mungkin sekitar jam sepuluh malam ya? " Izin Anne sembari mengikuti kaki James yang melangkah dengan cepat. Yah James yang sedang kesal itu sengaja sekali berjalan cepat tidak perduli betapa sulitnya Anne mengimbanginya. Tapi begitu Anne mengatakan jika dia ingin pergi menemui Angel, James jadi menghentikan langkah kakinya membuat Anne hampir saja terjatuh.
" Aku akan mengantar mu, nanti kalau Ayah Ibuku tahu aku membiarkan mu pergi malam-malam, nanti mereka pasti akan menuduhku yang tidak-tidak. "
Anne terdiam tak ingin menanggapinya. Tentulah dia merasa jika alasan yang sebenarnya bukan karena itu, tapi karena James pasti ingin bertemu atau melihat Angel secara langsung. Entah benar atau tidak dugaannya, tapi meksipun sudah mencoba untuk tidak terlalu berpikir negatif, nyatanya hati manusia tidak bisa diperintah sesuka hati Meksi hati adalah miliknya sendiri.
" Tidak perlu di antar kok, kakak ku akan datang menjemput nanti. "
" Kalau begitu biar aku antar sampai mobil kakak mu. "
Anne terdiam, harus bagaimana lagi kalau nama kakaknya memang sudah melekat di hati suaminya? Menyerah sudah tidak mungkin, selain karena rasa cintanya yang amat dalam kepada James, Anne juga tidak mungkin membuatkan rumah tangga kakaknya yang baru saja berjalan itu jadi hancur kan? Yah memang sih belum tentu James akan melakukan hal gila, tapi kalau sudah cinta jangankan melakukan hal di luar nalar, bahkan memakan kotoran hingga membunuh diri sendiri sepertinya rela saja dilakukan.
Beberapa saat kemudian, James benar-benar mengantarkan Anne hingga sampai di mana Angel memarkirkan mobilnya. Anne pikir hanya akan sebatas itu saja, tapi begitu kakanya melihat James ikut turun saat dia membuka kaca mobil, dia segera membuka pintu mobilnya, berlari sembari ingin memeluk. Anne pikir Angel ingin memeluk dirinya sehingga dia ikut merentangkan tangan dengan wajah bahagia, tapi sayangnya Angel melewatinya dan memeluk James.
Bersambung.