
James menatap dingin Larisa yang terus saja menampilkan senyum manisnya setiap saat. Seharian ini Larisa memang benar-benar menunjukan kemampuannya sebagai seorang sekretaris, bahkan bisa di bilang Larisa jago dalam membatunya seperti sudah lama bekerja untuknya. Senang? Tidak, sungguh dia sama sekali tidak merasa senang karena terlalu kebetulan jelas bukanlah hal yang baik.
" Tuan, apa anda akan pulang melewati jalan permai? "
James menghela nafas, benar-benar tidak mungkin kalau tidak curiga. Jelas dia melewati jalan itu untuk menuju apartemen yang dia tinggali bersama dengan Anne.
" Iya, kenapa? "
Larisa tersenyum malu-malu, dia juga menunjukkan betapa dia tidak enak melalui ekspresinya, hanya sayang saja James tidak begitu perduli dengan ekspresi Larisa yang sudah terbaca olehnya kalau wanita itu pasti akan meminta untuk menumpang karena mereka akan berada di satu arah.
" Saya sebenarnya belum terlalu paham rute perjalanan dari apartemen ke kantor, kalau boleh apa saya bisa menumpang untuk sampai ke jalan permai? "
Sialan! Ternyata yang dia pikirkan benar-benar terjadi, tapi sayangnya James bukan orang yang tidak enakan kalau terhadap orang lain.
" Maaf, mobil yang aku pakai ini hanya digunakan olehku bersama istriku, aku harus meminta izin darinya dulu sebelum mengizinkan wanita lain masuk ke dalam dan duduk di tempat duduknya. Ini zaman modern, kau hanya tinggal menggunakan aplikasi yang menyediakan jasa antar jemput saja kan? "
Larisa memaksakan senyumnya, dia benar-benar hanya bisa menatap kepergian James yang meninggalkan dia di sana sendirian.
" Benar-benar pria yang tidak biasa, biasanya aku hanya perlu sedikit bersikap manja untuk menaklukan pria lain. James, kau membuatku semakin penasaran, aku benar-benar penasaran bagaimana rasanya menjadi wanitamu yang begitu kau hargai itu. " Gumam Larisa sembari tersenyum licik, sebenarnya Larisa adalah mantan sekretaris Arthur yang menjadi salah satu wanita terbaik yang di gunakan Arthur untuk menggoda rekan bisnis dan mengendalikan sehingga jalan bisnisnya juga cukup lancar dengan bantuan Larisa.
Suara ponsel Larisa membuatnya dengan segera mengeluarkan ponsel, rupanya Arthur yang menghubunginya sehingga dengan cepat dia menerima sambungan telepon itu.
" Iya, Tuan? "
Bagaimana hari pertamamu bekerja di perusahaan bobrok itu?
" Lumayan baik, hanya saja James masih begitu waspada. Mungkin karena aku baru saja bekerja dan dia belum bisa mempercayaiku sepenuhnya. "
Tentu saja, kau tidak perlu terburu-buru. Hanya saja, menggoda James adalah salah satu pekerjaanmu. Buat dia menyukaimu, itu pasti tidak akan sulit, karena dengan dia menyukaimu jalan untukku juga akan mulus.
Larisa mengeryit bingung, tapi dia juga tidak berniat tahu karena Arthur bukanlah orang yang terbuka, jadi meksipun dia bertanya juga tidak akan mendapatkan jawaban apapun.
" Sepertinya itu juga akan agak sulit, James sepertinya tidak semudah itu untuk di goda. "
Dia hanyalah pria bodoh, dia mudah bimbang dan menyerah lalu mengandalkan mertuanya saja. Aku yakin lama kelamaan mertuanya juga akan merasa lelah terus membantunya, teruskan saja, pakai cara yang agak ekstrim tapi jangan seperti di sengaja, kau paham kan?
" Baik, aku mengerti. "
Larisa terdiam sebentar mengingat bagaimana dia melihat wajah James pertama kali. Pria itu tidak terlihat begitu bodoh, entah apakah hanya karena masih terlalu awal jadi dia salah menilai, bagaimana pun dia harus menjalankan rencana seperti awal, selain bayarannya besar, dia juga tertarik dengan James yang sepertinya masuk kriterianya.
Anne terdiam memandangi makanannya karena terus mengingat ucapan Angel. Apakah boleh menggantikan Anne untuk menjaga, mengurus James dengan baik?. Anne meraih sendok dan garpu nya dam sebisa mungkin dia tidak ingin terus terlihat seperti itu.
" Anne, kau kenapa? Apa ada yang sakit? " Tanya Ibunya Anne yang membuat Anne tersentak kaget. Anne memaksakan senyumnya, menatap Ibu, dan Ayahnya seolah ingin menunjukan bahwa dia baik-baik saja.
" Aku baik-baik saja kok, ayo kita makan! " Ucap Anne membuat yang lain jadi tidak punya pilihan selain mengikuti ucapan Anne, begitu juga dengan Angel yang malam itu tengah menginap di sana.
Dia pasti merindukan James kan?
Seperti itulah bunyi batin Ibunya Anne, yang membuatnya memiliki niat untuk menghubungi James agar menemui Anne sebentar saja, siapa tahu setelah bertemu dengan James Anne akan terlihat seperti sebelumnya yang selalu bahagia.
Angel menikmati makan malam bersama itu dengan pikiran yang kacau. Sebenarnya menginap di sana hanyalah untuk kabur dari Gerry yang selalu membuatnya gila setiap malam. Jelas dia tidak bisa menceritakan ini kepada kedua orang tuanya, karena kalau sampai kedua orang tuanya tahu mereka akan menanyakan banyak hal, dan mau tidak mau timbul kecurigaan yang tidak akan mungkin sanggup untuk Angel tutupi kenyataannya.
Setelah makan malam selesai, Ayah Bien, istrinya, Angel dan juga Anne tengah bersama untuk mengobrol di ruang keluarga seperti kebiasaan sebelumnya, dan sebelum kesana dia sudah mengirim pesan kepada James untuk datang menemui Anne terlebih dulu. Rupanya tindakannya tadi membuatnya merasa semakin yakin saat melihat Anne malah sibuk melamun saat yang lain asik mengobrol dan tertawa.
" Ayah, aku ke kamar duluan boleh ya? Beberapa hari belakangan ini aku sangat suka berolahraga jadi tubuhku ini sakit-sakit semua. " Ucap Angel sembari membatin olahraga yang dia maksud pastilah berbeda dengan apa yah dipikirkan oleh keluarganya.
" Pergilah, istirahat yang nyenyak. " Ucap Ayah Bien lalu tersenyum dengan tatapan lembut penuh perhatian.
" Aku juga ya, Ayah? " Ucap Anne yang juga langsung disetujui oleh Ayahnya.
" Kenapa aku merasa mereka berdua seperti ada masalah yang dia membunyikan dari kita ya? " Gumam Ibunya Anne dan Angel sembari menatap punggung kedua putrinya yang semakin menjauh dan masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.
Ayah Bien menatap istrinya sebentar, entah dari mana dan bagian mana yang harus dia ceritakan dari kedua anak mereka. Tapi dengan sifat Ibu dari kedua anaknya yang begitu mudah khawatir dan menangis, Ayah Bien memutuskan untuk diam saja dulu berharap semua keadaan dapat membaik seperti harapannya.
Sekembalinya ke kamar, Anne hanya terus terdiam memikirkan semua ucapan kakaknya yang begitu membekas di ingatannya. Dia yang katanya akan mati sebelum usia empat puluh tahun, niatan kakaknya yang ingin menggantikan mengurus James yang artinya kakaknya ingin menjadi istri James benar-benar membuatnya tak bisa tenang begitu saja.
" Apa yang kau pikirkan dengan ekspresi seperti itu? "
Anne menatap dengan terkejut sembari membalikkan tubuhnya. Tentu saja dia hafal sekali siapa pemilik suara itu, dan benar saja pria itu adalah James.
" Kak James? Kenapa kakak bisa ada di sini? "
James tersenyum, dia yang baru saja membuka pintu kamar Anne kini masuk lebih dalam dan menutup pintu kamar Anne.
Bersambung.