Perfect Marriage!

Perfect Marriage!
BAB 49 : Proses Menjadi Suami Baik



James membuang nafas kasarnya, sudah seharian ini dia berkutat dengan segudang pekerjaannya. Perusahaan yang tengah di dalam keadaan kurang stabil tentu saja membutuhkan jalan keluar yang tepat kan? Sudah lebih dari empat perusahaan yang dia ajak kerja sama, namun nyatanya dia masih belum bisa mendapatkan apa yang di inginkan karena rumor tentang kemampuan dari perusahaan kecil milik keluarganya benar-benar menyebar luas.


Sudahlah, hari ini dia sudah berusaha cukup keras, masih ada hari esok sehingga James memilih untuk istirahat sebentar lalu pulang ke apartemennya. Setelah sampai di apartemen, James mengeryit bingung karena apartemennya terasa begitu sunyi. Dapur juga sangat rapih padahal dia benar-benar lapar, James kembali memastikan dan ternyata memang benar tidak ada makanan yang matang di sana.


" Anne... Anne... Anne... " Panggil James lalu segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar dan mencari keberadaan Anne.


Deg!


James terdiam begitu membuka pintu kamar yang biasa ia gunakan untuk istirahat, tidur bersama dengan Anne. Iya, Anne berada di rumah orang tuanya, James benar-benar lupa kalau dia sendirilah yang mengatakan Anne tadi pagi. Dengan langkah kaki lunglai James melajukan langkahnya, dia duduk di pinggiran tempat tidur dengan wajah lesu dan sedih. Kamar itu, kamar yang cukup mengingatkan dia dengan segala aktifitas mereka berdua.


Anne berganti baju, duduk di kursi menghadap meja riasnya, menyiapkan pakaian untuknya, Anne juga akan memeluknya saat malam, terlebih dia tiba-tiba merasakan kerinduan akan aktivitas suami istri mereka berdua.


" Anne aku benar-benar tidak tahu kalau aku akan menjadi begitu kehilangan padahal baru beberapa jam saja berpisah denganmu. "


James menghela nafasnya, sekarang bagaimana dia akan menghabiskan di ruangan yang begitu hampa ini? Sial, padahal dulu dia sempat melakukan banyak cara untuk mengusir Anne jauh dari sana, tapi sekarang dia benar-benar menyesali apa yang sudah pernah dia lakukan terhadap Anne.


James berjalan keluar dari kamar, dia memilih untuk duduk di dapur memandangi ruang kosong itu dan membayangkan seandainya Anne sedang berada di sana. Dia teringat terakhir kali Anne membuat bubur apel dan itu sangat manis, lalu di buang begitu saja karena takut akan memicu kadar gulanya naik. Tapi, sekarang James malah ingin memakan bubur Apel itu tidak perduli semanis apa rasanya. Begitu menghayati apa yang dia rasakan, James tanpa sadar merasa begitu sedih dan hampa hingga dia tidak tahan untuk menagis.


***


Anne terdiam memandangi keluar jendela, untunglah malam ini udara tidak begitu dingin juga tidak banyak angin sehingga dia bisa menatap keluar jendela dengan jendela terbuka lebar tentunya. Padahal ini adalah kamar yang sudah lama ia tempati, padahal ini adalah tempat yang selama ini membuatnya nyaman, tapi kenapa rasanya begitu gelisah? Dia justru merindukan tempat sederhana yang ia tinggali bersama James.


" Kenapa ini begitu berat? Kakiku seperti ingin berlari ke arahmu dan memelukmu erat-erat, menahan dirimu sekuat tenaga agar tidak lari sehingga aku bisa memilikimu seutuhnya. Tapi, wajah sedih dan tersiksa kakakku membuat kakiku seperti terikat sesuatu dan terus menyeret ku untuk menjauh darimu. Aku ingin bersamamu, tapi aku takut, aku takut melakukan kesalahan. Aku takut akulah yang sudah menjadi penghalang untuk kalian berdua, aku takut jika memaksakan kehendak aku bahkan tidak bisa menemani hidupmu sampai tua. "


Anne menoleh ke arah ponselnya yang kini tengah berdering, James rupanya menghubunginya. Anne meraih ponselnya, bukan untuk menerima panggilan dari James, tapi dia hanya memandangi saja sampai entah berapa kali James mencoba untuk menghubunginya, juga mengirimkan banyak sekali pesan untuk menanyakan apa yang sedang di lakukan Anne, dan bagaimana kondisinya sekarang.


" Maaf, kak. Maaf belum bisa berbicara dan membalas pesan darimu. Semoga kau baik-baik saja, dan sehat selalu. " Ucap Anne seraya menjauhkan ponselnya.


***


Gerry tersenyum miring melihat bagaimana Angel berekspresi sekarang ini. Wanita itu sudah segar bugar, dia bahkan makan sangat banyak hari ini, sehingga rutinitas malam mereka membuat Gerry merasa senang. Yah, lagi-lagi Gerry memberikan obat di makanan Angel dan efeknya adalah Angel akan memiliki keinginan membara yang sulit untuk di cegah.


Gerry hanya diam membiarkan saja apa yang di lakukan oleh Angel. Seperti seorang pekerja xxx malam, Angel melakukan apapun yang membuat Gerry merasa senang dan puas dan tentunya Gerry juga merekam setiap aksi yang dilakukan oleh Angel. Memang tidak ada niat untuk menyebarkannya, tapi dengan begitu setidaknya dia bisa menahan Angel sebentar sampai Anne benar-benar memutuskan pilihannya dengan benar. Iya, kalau bukan karena Anne, mungkin Gerry akan menendang Angel keluar dengan segera dari rumahnya, tapi dia juga tidak buta sehingga bisa melihat bagaimana Anne mencintai James. Karena Anne terus mengingatkan kepada adik perempuan tersayangnya yang sudah meninggal lama sekali itu, Gerry jadi menahan diri untuk tidak menyakiti James, dan menahan Angel sebisanya agar Anne dan James memiliki waktu untuk lebih saling mendalami hubungan mereka dan memutuskan jalan apa yang membuat Anne bahagia tentunya.


Setelah kegiatan mereka selesai, Gerry kini bergegas untuk mandi, barulah setelah itu dia melanjutkan kegiatannya yaitu memeriksa kembali pekerjaan yang tadi belum selesai. Gerry tersenyum miring, dia sejujurnya senang sekali dengan kabar kalau perusahan keluarga James sedang terombang-ambing, tapi karena mengingat Anne, dia jadi kesal sendiri karena harus menahan perasaan kesalnya.


" Sialan! Aku tidak mau membantu orang ini tanpa alasan terlebih aku juga tidak mau rugi kan? "


Gerry mengambil Ponselnya untuk menghubungi sekretarisnya dan memintanya untuk mencari tahu sedetail mungkin kira-kira berapa besar kemungkinan proyek baru yang akan dijalankan perusahaan keluarga James berhasil. Nanti kalau sudah tahu barulah dia akan memikirkannya untuk bisa membantu tapi dia juga harus untung tentunya.


Gerry membuang nafasnya setelah selesai menghubungi sekretarisnya, besok dia harus terbiasa dengan asisten baru karena asisten yang lama mengundurkan diri untuk menjalani pernikahan dan mengabdikan diri untuk suaminya. Kesal sih karena mau tidak mau dia harus banyak mengoceh dengan asisten barunya besok, jadi sekarang lebih baik untuknya agar pergi tidur dan besok memiliki tenaga lebih untuk mengoceh.


Begitu membuka pintu kamarnya rupanya Angel sudah terbangun sembari memegangi kepalanya. Yah mungkin pusing, tapi Gerry cuek saja dan berjalan santai menuju tempat tidur, berbaring dengan nyaman tidak perduli bagaiman dengan Angel.


Bersambung.