Perfect Marriage!

Perfect Marriage!
BAB 74 : Pilihan Terbaik



Anne terdiam tak mengatakan sepatah katapun saat kalimat yang keluar dari mulut Ibu mertuanya adalah lagi-lagi tentang anak, memang benar masalah ini belum terselesaikan, tapi anehnya setiap kali dia mendengar anak di sebut dalam urusan rumah tangganya, Anne merasa begitu sakit hati hingga menyembunyikan wajah sedihnya benar-benar dia tidak mampu melakukanya.


Tatapan marah, kecewa, dan begitu tidak rela seolah di tunjukan oleh Ibu mertuanya kepada Anne, ingin mengelak juga tidak mungkin baginya, tapi jika terus melihat mimik wajah Ibu mertuanya dia hanya akan terus merasa begitu sakit hati. Anne sekarang memilih untuk diam saja dan mendengarkan sembari terus menguatkan hatinya sekuatnya.


" Kau sudah tahu bagaimana keadaanmu yang tidak lain seperti wanita mandul, jadi tolong lah biarkan James menikahi wanita lain dan melahirkan anak-anaknya. " Seperti itulah kalimat paling menyakitkan yang pernah Anne dengar sepanjang Anne hidup.


James jelas bisa melihat bagaimana Anne menahan perasaan sedihnya, Anne memang tidak mengisi, tapi James yakin seyakin-yakinnya jika Anne pasti tengah menangis di dalam hati. Sakit, itulah yang di rasakan James melihat wajah Anne begitu, dia meraih tangan Anne lalu menggenggamnya kuat-kuat berharap Anne bisa lebih sabar mengahadapi Ibunya.


" Ibu, aku sudah memutuskan untuk tetap bersama Anne meksipun tidak ada anak. Kami akan mengadopsi anak nanti, tapi maafkan aku yang tidak bisa memenuhi keinginan Ibu. "


Ucapan James barusan tentu saja membuat emosi Ibunya semakin naik hingga matanya membulat dengan warna merah membarengi. Tentu saja dia merasa kecewa, entah sudah seberapa dalam James jauh cinta kepada Anne, hingga melihat bagaimana cara James memperlakukan Anne akan terasa mustahil masalah menikahi wanita lain demi keturunan mereka.


" James, sebegitu pentingkah perasaanmu itu? Lalu bagaimana dengan Ibu? Bagaimana dengan perasaan Ibu ini? Jangan lupa James, yang melahirkan, membesarkan dan memperjuangkan kehidupanmu adalah Ibu Selian Ayahmu. Kau begitu terang-terangan menolak Ibu hadapan Ibu demi Ane? "


James menatap kedua bola mata Ibunya dengan tatapan memohon, sungguh dia berharap Ibunya dapat memahami maksudnya itu tanpa dia bicara. Padahal dari rumah dia sudah menduga kalau Ibunya akan mengatakan hal ini, tapi kenapa dia masih saja datang?


" Berhentilah, jalani saja hidup masing-masing dengan benar. Asalkan James bahagia maka begitulah seharusnya James hidup. Kita relakan saja harapanmu yang begitu besar hingga kau sendiri tidak sanggup menerima realitanya. " Ucap Ayah yang sudah tidak tahan melihat suasana tegang, di tambah Anne yang seperti menahan diri hingga tubuhnya bergetar.


" Kau mengatakan itu karena Anne adalah anak sahabat kita kan? Aku tahu, tentu saja aku sangat tahu dengan jelas, tapi mengenai keturunan kita tidak boleh merelakan tidak ada! Selama puluhan tahun kita sudah hidup dengan hinaan dari keluargamu, aku tidak mau sisa hidupku juga tetap dihina. Pertama kita tidak mampu menjalankan bisnis, kedua kita bahkan tidak mampu mengurus masalah keluarga, dan sekarang kita tidak mampu menghasilkan keturunan, kenapa aku harus terus merasakannya! "


Anne semakin gemetar ketakutan, sekarang dia bahkan sudah tidak bisa menahan air matanya lagi meski benar dia masih bisa menahan suara Isak tangisnya. Sementara Ayah hanya bisa menggelengkan kepala dengan tatapan memohon agar istrinya berhenti mengatakan semua itu dan semakin membuatnya tidak berdaya. Bagaimanapun selama bertahun-tahun memang benar Istrinya sudah menderita akibat keluarganya, dan sekarang kondisi ini juga membuat istrinya terbebani.


" Ibu, aku mohon jangan begini ya? Tolong biarkan kami tenang dulu sementara waktu ini, masalah ini juga bukan hanya Ibu yang kecewa dan sedih, Anne aku juga merasakan hal yang sama. "


" Kalau begitu, kalian memang lebih memilih untuk hidup menderita memikirkan tidak bisa melahirkan anak ya? Baiklah, aku sudah lelah juga berkata-kata, anggap saja aku tidak pernah mengatakan apapun padamu, James. Biarkan aku melalui hari-hari entah bahagia entah sedih. Hiduplah dengan tenang dan bahagia. " Ibunya James menyeka air matanya, dia bangkit dan ingin pergi dari sana, tapi karena tensi darahnya naik saat dia marah tadi, kepalanya terasa pusing dan pingsan.


" Ibu! " Sontak James melepas genggaman tangannya dari tangan Anne, dia merah tubuh Ibunya agar tidak terbentur lantai. Kompak dengan Ayahnya, James membawa tubuh Ibunya untuk di baringkan ke dalam tempat tidur yang ada di kamarnya.


Anne, dia sekarang hanya bisa mengisi tanpa suara melihat adegan dramatis beberapa saat tadi. Sekarang dia benar-benar merasa jika dia lah yang bersalah karena begitu egois, dia menikah dengan James tanpa memberi tahu bagaimana kondisinya karena dia pikir ini bukanlah masalah besar, tapi ternyata dia salah. Tidak semua seperti Ibu Nori yang bijak, tidak semua orang berpikir sama dan banyak sekali orang yang lebih mempercayai apa yang dia inginkan sebagai hal paling penting dan paling bisa membuatnya bahagia.


" Maaf....... " Anne menatap Ibu mertuanya yang sedang berbaring di ranjang, di sana juga ada James yang memberikan minya angin, sementara Ayah mertuanya memberikan angin ringan dengan mengibaskan tangan di wajah Ibunya James.


Anne melihat jemarinya dimana cincin pernikahan menghiasi. Dia tersenyum kelu, sebentar dia menatap kembali bagaimana paniknya James juga Ayah mertuanya yang bahkan seperti sedang menahan tangis.


" Aku bersalah, aku egois, aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf. "


Setelah beberapa saat, Dokter sudah selesai memeriksa keadaan Ibunya James. Tekanan darahnya yang begitu tinggi, itulah alasan kenapa Ibunya James sampai pingsan. Tentu saja semua orang sudah tahu alasan kenapa tensi darah Ibunya James naik sehingga Dokter menyarankan untuk menjaga emosinya agar tetap stabil.


Setelah Dokter pergi dari rumah keluarga James, Anne yang sedari tadi hanya bisa diam dan melihat saja berjalan mendekati James yang masih sibuk menatap Ibunya dengan tatapan sedih.


" Kak? " Panggil Anne pelan karena dia tidak ingin mengganggu Ibu mertuanya.


" Iya. "


" Aku pulang boleh? "


James mengangguk setuju, jelas lah dia tahu kalau Ibunya sadar nanti dan melihat Anne emosinya akan kembali mulai, jadi menjauhkan Anne dan Ibunya untuk sementara waktu sepertinya pilihan yang terbaik.


" Aku antar ya? "


" Tidak usah, aku akan pulang sendiri. Kakak jaga Ibu mertua baik-baik ya? Kakak juga jangan sampai kelelahan. "


" Iya. "


Anne tersenyum, dia meraih jemari James, mengaitkan jemarinya di sana menikmati kehangatan dari genggaman tangan James. Dia juga mengecup singkat bibir James sebelum dia melepaskan genggaman tangannya membuat James mengeryit bingung karena itu tidak seperti biasanya.


" Tiba-tiba aku merasa khawatir, jadi aku antar kau pulang. "


" Tidak! Aku akan pulang ke rumah, kak James jaga Ibu saja. "


Bersambung.