Perfect Marriage!

Perfect Marriage!
BAB 64 : Aku Tidak Mampu Melakukanya!



Setelah kedua orang tuanya James masuk ke dalam kamar yang sudah di siapkan untuk mereka berdua beristirahat, kini James dan Anne juga tengah berada di dalam kamar mereka. James sedang mandi, sedangkan Anne dia tengah menyiapkan pakaian ganti untuk James gunakan nanti. Setelah itu dia duduk di pinggiran tempat tidur bersebelahan dengan baju James yang ia letakkan di atas tempat tidur. Anne menghela nafas dengan wajah penat, kali ini dia benar-benar bingung bagiamana mengatakannya kepada James dan keluarganya. Dulu dia pikir pernikahan tidaklah akan menjadi masalah ada atau tidaknya keturunan, tapi setelah mendengar ucapan Ibunya James tadi, jelas lah keturunan sangat penting bagi keluarganya, yang jelas sekali bahwa James adalah anak tunggal.


" Anne, kenapa melamun? " Tanya James yang baru saja keluar dari kamar mandi dan mendapati Anne tengah berada di atas tempat tidur dengan wajah melamun entah apa yang sedang di pikirkannya.


Anne tersentak, dia menatap James dengan tatapan kaget, lalu dengan segera dia bangkit untuk menyerahkan pakaian milik James yang sudah dia siapkan tadi.


" Terimakasih. " Ucap James seraya menerima baju dari tangan Anne, dan dia tersenyum. Setelah James selesai untuk berpakaian, Anne berniat untuk mengajak James membicarakan soal apa yang di bahas oleh Ibunya James tadi. Karena Anne bisa melihat suasana hati James sedang baik dari mimik wajahnya, maka Anne mencoba untuk membicarakannya.


" Kak, masalah yang di katakan Ibu mertua tadi apakah kak James memiliki pendapat? "


James menatap Anne dengan tatapan biasa seolah dia juga tidak ingin begitu mendesak Anne.


" Aku akan terima saja kok kapan kita akan di beri anak oleh Tuhan. Jangan terlalu terbebani, santai saja nanti juga ada giliranmu untuk hamil. "


Anne terdiam sebentar.


" Kak James sangat ingin punya anak? "


" Iya lah, bagaimanapun aku adalah anak tunggal dari orang tuaku, jadi tidak mungkin kalau aku tidak punya anak kan? Aku tidak menuntut untuk sekarang kau hamil dan melahirkan anak, jadi santai saja. "


Anne menahan diri untuk tidak menangis, dia mengeryit menunduk menahan dadanya yang berdenyut nyeri dan sakit mendengar jawaban dari James barusan.


" Kak, lalu bagiamana kalau kita tidak memiliki anak? " Anne mencoba untuk menanyakan pertanyaan yang jelas saja bisa membuat James berekspresi lain, bisa juga langsung marah.


James terdiam sembari menebak di dalam hati, apakah Anne tidak menyukai anak kecil dan berniat tidak ingin memiliki anak?


" Tujuan dua orang menikah tentunya juga ingin memiliki anak, Anne. "


" Kalau aku tidak bisa memberikannya bagaimana? "


James menatap kedua bola mata Anne yang kini menatapnya dengan sorot mata aneh. Mata Anne nampak merah seperti menahan tangis dan kekecewaan seolah tuduhan James tadi di iyakan oleh Anne.


" Kau ini kenapa, Anne? "


" Kak, " Anne mencengkram selimut tebal yang menutupi kedua kakinya.


James terdiam tak bisa berkata-kata. Iya, dia benar-benar lupa kalau memang Anne memiliki tubuh yang lemah karena sistem imun yang buruk. Tapi mana mungkin dia tidak memiliki anak sedangkan dia adalah anak satu-satunya? Apakah generasi keluarganya hanya akan berhenti begitu saja? Kalaupun James bisa memaksakan diri untuk menerimanya lalu apakah kedua orang tuanya akan melakukan hal yang sama dengannya?


Kalau boleh jujur James tentu saja menginginkan anak, selain agar keturunannya bisa bertambah, dia juga merasa memiliki anak adalah hal yang baik agar bisa menghibur kedua orang tuanya yang sering sekali merasa kesepian. Tapi, kalau kondisi Anne seperti ini bagaimana bisa dia memiliki anak? Kalaupun memaksakan diri ini pasti akan menjadi masalah yang sangat besar.


" Besok kita temui Dokter saja, kita konsultasi mengenai ini, aku yakin kondisimu tidak seburuk itu sampai harus tidak melahirkan. "


'' Aku sudah menayangkan ini kepada Dokter beberapa bulan lalu kak, aku memang di larang keras untuk hamil karena hamil sangat beresiko fatal bagi penderita imun buruk sepertiku. "


James mengusap kasar wajahnya, di dalam hati dia bergerundel mengutuk semua yang terjadi. Padahal dia sudah bertekad untuk terus mempertahankan rumah tangganya bersama Anne, dia juga sudah sering kali membayangkan betapa indahnya kehidupan rumah tangganya setelah nanti mereka memiliki anak bersama. Tapi impian itu lenyap begitu saja karena kondisi tubuh Anne yang begitu tidak mendukung.


Jelas dia ingin tetap bersama dengan Anne sebagai suami dan istri, tapi dia tidak bisa juga kalau tidak memiliki anak, jadi harus bagaimana dia sekarang? Haruskah menerima saja dan menjalani semua ini tanpa kepastian?


" Sudahlah, ini sudah malam aku ingin tidur dulu. " Ucap James seraya membenahi posisinya untuk tidur. Sudah cukup, dia memang tidak perlu membahas ini lagi dan pergi istirahat karena hari besok pasti akan melelahkan, bahkan sangat melelahkan untuk nya.


Anne terdiam, kedua bola matanya kompak menitihkan air mata sembari menatap punggung James. Padahal malam kemarin James terus tertidur menatapnya dan memeluknya, tapi sekarang James memunggunginya seperti menjaga jarak darinya. Sudahlah, ingin membahas sepanjang lebar apapun intinya tetap saja sama kalau dia di larang hamil demi kesehatannya.


Anne masih tak bisa tidur, ini bahkan sudah pukul dua malam tapi dia masih terus memikirkan semua ucapan James, Ibu mertuanya dan dengan gamblang menyebutkan hingga berkali-kali pentingnya memiliki anak.


Pagi harinya.


Anne terbangun setelah alarm pukul enam pagi berdering di ponselnya. Hari ini dia benar-benar harus bangun Meski baru sekitar dua jam dia tidur, dan menyiapkan sarapan bersama dengan Ibu tetangga sebelah yang bekerja untuknya, untuk memasak dan membersihkan rumah, lalu malamnya dia akan pulang kerumahnya.


Di meja makan, suasana hening sebentar, apalagi James juga terlihat sangat pendiam sekali setelah pembicaraan tentang anak semalam.


" Oh iya Anne, besok datang kerumah Ibu ya? Semalam Ibu sudah minta ramuan tradisional yang bisa membuat cepat hamil. Menantu temanya Ibu itu langsung hamil setelah satu bulan mengkonsumsi ramuan tradisional itu loh. ''


Anne terdiam karena tidak tahu harus menjawab apa.


" Sudahlah Bu, makan saja dengan tenang ya? " Pinta James dengan lembut kepada Ibunya.


" Memang kenapa? Ibu juga sudah selesai sarapan kok. Oh iya, bagaimana kalau hari ini saja datang kerumah ibu? Ibu yakin sekali deh, bulan depan kau pasti sudah hamil. " Ucap Ibunya James kepada Anne.


Bersambung.