Perfect Marriage!

Perfect Marriage!
BAB 72 : Menghindari Stres



Ibunya James berbaring di tempat tidur setelah merasakan kepalanya yang begitu sakit dan pusing. Sungguh dia benar-benar tidak habis pikir dengan James yang justru lebih memilih untuk bersama Anne tanpa mau memikirkan bagaimana urusan anak yang jelas dia anggap jauh lebih penting di banding Anne sekalipun.


Jelaslah dia sudah membujuk sebelumnya, tapi James justru malah memperingati Ibunya sendiri untuk jangan berbuat macam-macam dan James meminta Ibunya untuk tetap mendukung hubungannya dengan Anne tidak perduli ada atau tidaknya anak dalam kehidupan rumah tangganya.


" Ibu, sudahlah hentikan pemikiranmu itu. Kau tahu apa yang kau pikirkan dan harapkan hanya akan membuatmu kecewa seorang diri kan? "


Ayahnya James menatap istrinya setelah menghela nafas kasarnya, bohong sekali kalau dia tidak menginginkan cucu, tapi dia juga paham kalau tidak mungkin baginya untuk memaksakan keadaan apalagi sampai harus membahayakan nyawa Anne.


" Ayah pikir aku akan mampu menerimanya begitu saja? Coba sekarang kau renungkan baik-baik bagaimana nasib kita kalau kita tidak punya cucu? Mungkin saja bisa dengan mengadopsi anak, tapi jelas saja berbeda kalau anak itu bukan darah daging James, bukan keturunan kandung kita, tidak sedarah dengan kita. Kalau memang iya Ane memaksakan diri dan melahirkan satu anak, Ibu yakin dia pasti tidak akan sanggup merawat anaknya. Keadaan tubuh Anne benar-benar sangat jauh lebih parah dari pada perkiraanku. Seharusnya di saat begini kan dia juga sadar diri, seharusnya biarkan saja James menikah lagi dengan wanita yang sehat jadi tidak hanya bisa melahirkan satu cucu saja, bisa merawat cucu kita juga. "


Ayahnya James menghela nafas, sebenarnya dia juga tidak tega kalau harus begitu menyalahkan istrinya dan memakannya untuk tidak memaksakan apa yang dia pikirkan itu untuk terkabul, tapi dia sendiri juga paham ini pasti berat untuk istrinya dan juga berat untuk menantu dan James sendiri.


" Bu, bagaimana kalau kita pergi berlibur beberapa hari kedepan? Siapa tahu dengan berlibur suasana hati Ibu bisa lebih tenang setelahnya. "


" Tidak, aku tidak mau pergi kemanapun. Aku sudah tidak menginginkan apapun lagi sekian cucu, kalaupun ingin aku bahagia juga harus ada cucu kandung untuk kita. Usia James itu sudah tiga puluh hampir tiga puluh satu, Ayah. Mana bisa kita tenang-tenang saja dan coba hitung berapa usia kita berdua? Apakah menurut Ayah sampai matipun kita tidak bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki cucu? Ibu ingin menggendong, bermain bersama dengan anaknya James, ingin melakukan banyak hal sebelum Ibu menutup mata selamanya. Padahal selama ini aku tidak banyak menuntut, hidup sederhana, melahirkan dan membesarkan James dengan sangat sederhana dan ala kadarnya, berharap suatu hari nanti dapat merasakan indahnya dari kesabaran itu. Tapi, lagi-lagi harus bersabar padahal usia sudah masuk senja, jadi untuk kali ini aku tidak akan mengalah lagi, aku akan mendesak James melakukan apa yang aku sarankan untuknya. "


Ayah tidak lagi bisa mengatakan apapun. Sekarang dia tahu benar jika cara dia meminta istrinya untuk bersabar dan membujuknya tidak akan mampu menggoyahkan keras kepala istrinya itu.


" Istirahatlah dulu, Bu. Ayah akan ke rumah kerja sebentar untuk melanjutkan pekerjaan yang tadi belum di selesaikan. "


Ayahnya James bangkit dari sana untuk menuju ruang kerjanya, dan menenangkan diri karena dia mulai pusing memikirkan masalah yang terjadi ini.


Ibunya James meraih ponselnya, mengetuk pesan untuk James dan Anne mengatasnamakan suaminya agar mereka berdua datang kerumah dan melihat keadaannya yang sedang sangat tidak baik. Tujuannya tentu saja ya hanya untuk menekan keduanya agar mau memenuhi keinginannya itu.


Di sisi lain.


James mengeryit melihat pesan yang dikirimkan kepadanya. Padahal niatnya masih ingin menghabiskan waktu bersama dengan Anne dan menemani Anne menonton drama yang dia sukai, tapi mau bagaimana lagi kalau keadaan Ibunya sedang tidak sehat maka mau tidak mau dia harus meninggalkan Anne sebentar dan menemui Ibunya.


" Anne, aku kerumah Ayah dan Ibuku ya? " Ucap James begitu Anne datang dengan dua gelas jus alpukat yang akan mereka gunakan untuk menemani acara menonton drama nanti.


" Ada apa? " Pelan-pelan Anne meletakkan jus itu ke meja, duduk di samping James dengan tatapan bertanya.


" Ayah bilang, Ibu sedang sakit jadi aku ingin melihat keadaannya sebentar. "


" Tidak usah, kau tahu sendiri Ibuku sedang tidak bisa mengontrol diri kan? Kalau nanti dia mengatakan hal-hal yang menyakitkan, aku tidak akan sanggup melihatmu bersedih lagi, jadi tetaplah di rumah saja ya? "


" Ayah juga mengirim pesan padaku, itu artinya dia juga ingin aku ikut kan? "


James terdiam sembari berpikir, entah mengapa dia jadi semakin tidak ingin membawa Anne pergi kesana. Sepertinya dia mulai curiga kalau pesan itu adalah akal-akalan Ibumu saja agar mereka datang berdua kerumah.


" Anne, tiba-tiba aku merasa pusing. Besok saja kita kesana nya ya? "


" Eh? "


James meraih tangan Anne, mengajaknya untuk bangkit dan membawanya untuk menuju kedalam kamar.


" Tapi, jus kita bagaimana? Ibumu bagiamana? "


James menghela nafas, tapi dia tidak menghentikan langkahnya sama sekali, menjawab pertanyaan Anne juga tidak.


" Kak, kakak tidak berniat membawaku menemui Ibu mertua ya? Kalau memang begitu ya sudah aku tunggu di rumah saja. "


James berbalik menatap Anne setelah menutup pintu kamarnya. Tidak usah menjelaskan apapun kepada Anne, itu semua karena dia tahu Anne pasti sudah bisa menebak apa yang memang sedang dia pikirkan.


" Hari ini kau sudah sibuk dengan lukisan, sekarang waktunya sibuk denganku kan? "


Sebenarnya James sendiri tidak sedang dalam mood untuk melakukan hubungan suami istri, tapi dibanding menemui Ibunya dengan membawa Anne, jelas melakukan apa yang bisa di lakukan adalah pilihan terbaik. Bukan tidak perduli dengan Ibunya, tapi tindakannya sekarang ini untuk menunda bertemu Ibunya juga adalah pilihan yang baik, selain dia menghindari stres untuk Anne, dia juga sudah menghindari stres untuk Ibunya dan tidak membuat Ibunya yang katanya sedang tidak sehat itu untuk tenang lebih lama.


James membawa tubuh Anne ke atas tempat tidur setelah cukup lama menyatukan bibir mereka dengan semangat.


Di rumah orang tua James.


Ibunya James gelisah menunggu kedatangan James dan Anne. Dia benar-benar tidak sabar untuk menemui mereka berdua dan mengatakan apa yang ingin dia katakan, tapi kalimatnya akan dia bungkus dengan permohonan dan wajah memelas. Sudah lewat satu jam, tapi Anne dan James malah belum datang juga membuat Ibunya semakin gelisah dan kembali mengirim pesan kepada James dan Anne.


Bersambung.